
Keesokan paginya...
Sebelum berangkat bekerja Febri menuju apartemen dulu, sampai sekarang ia masih belum sadar kalau kemaren ia sempat mengunci sang istri.
Setelah memarkirkan mobilnya Febri memasuki apartemen. Ia naik menggunkan lift.
Namun saat berada di depan pintu Febri di buat kaget karena melihat pintu terbuka seperti nya di buka dengan paksa. Ia panik dan juga khawatir karena takut terjadi sesuatu pada Safa.
"Safa, Sayang kamu dimana ?" teriak Febri menggema.
Langkah panjangnya terus mencari keberadaan Safa, namun setiap ruangan tidak ada, Di kamar pun tak ada.
"Safa kamu dimana ?"
Febri kembali mengecek pintu, ia memperhantikan pintu itu yang di buka dengan cara di congkel, disana Febri baru sadar kalau kemaren ia mengurung sang istri di apartemen dan kunci apartemenya ia bawah.
"Apa jangan-jangan Safa kabur ?"
"Sialan, kenapa aku gak sadar kalau aku mengunci Safa"
Febri memukul pintu itu dengan keras, ia merasa bersalah pada sang istri karena telah mengurungnya kemaren.
"Safa maafkan Mas Sayang, Mas gak sengaja ngunci pintunya. Mas melakukan ini karena Mas ingin kamu sadar" Febri terduduk di lantai menyesali perbuatan nya kemaren, apalagi mengingat kalau saat ini Safa sedang hamil besar.
"Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada anak ku ? aku tak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai itu terjadi" Febri memukul kepalanya sendiri demi melampiaskan kekecewaan pada dirinya.
"Safa kamu dimana Sayang?"
Karena sampai sekarang nomor Safa tak juga aktif, dan itu semakin membuat Febri khawatir.
"Bodoh-bodoh, karena aku cemburu Safa dekat dengan laki-laki lain aku sampai mengurung Safa di sini"
***********
Safa baru saja terbangun dari tidurnya, ia menoleh kesamping dimana Orlando sedang menatapnya sambil tersenyum.
"Pagi cantik" ucap Orlando.
"Apa sih, gak jelas deh" Safa terbangun hendak mengambil minum, tapi dengan cepat Orlando mengambilnya.
"Nih" Orlando memberikan segelas air putih pada Safa "Pelan-pelan minumnya !"
"Makasih Ndo"
"Sama-sama"
Tidak berapa lama Dokter Wulan masuk bersama dua orang perawat yang menemani nya. Dokter Wulan tersenyum ramah ke arah Safa dan Orlando.
__ADS_1
"Selamat pagi ibu Safa, pagi ini kita akan melakukan pemeriksaan lagi, jika keadaan ibu sudah membaik dan bayi ibu sudah kuat ibu sudah boleh pulang" jelas dokter Wulan.
"Iya dok"
Orlando menggeser tubuhnya supaya dokter Wulan dan perawat bisa leluasa memeriksa keadaan Safa. Sejujurnya ia belum ingin Safa pulang karena jika sudah pulang Orlando tak bisa lagi memandang wajah cantik Safa saat tertidur.
Semalam ia belum puas memandang wajah Safa. Orlando menggelengkan kepalanya saat pikiran nya terlalu jahat karena ingin mencuri waktu berduaan dengan Safa dengan memanfaatkan kesehatan Safa.
Telinga Orlando mendengar dengan jelas suara detak jantung anak di kandungan Safa, itu membuat Orlando tenang, ia bahkan memejamkan matanya karena masih tak percaya bahwa di rahim wanita cantik itu sedang tumbuh seseorang yang akan segera hadir.
"Wah sudah kuat dan sehat, detak jantungnya juga sudah semakin jelas." ucap dokter Wulan.
"Kita beri rangsangan ya, untuk melihat apa bayi ibu sudah kembali menendang lagi"
Dokter Wulan memberikan sinar ke arah perut Safa, dan tidak berapa lama perut Safa ada yang menendang, itu membuat Safa tersenyum karena kekhawatiran dirinya tak terjadi.
"Alhamdulillah semuanya sehat, ibu boleh pulang siang ini"
"Makasih dok ?" balas Safa.
"Emmm, dok apa tidak bisa semalam lagi dia di rawat" sahut Orlando dengan wajah bodoh nan polos.
Baik dokter Wulan maupun yang lain heran, mereka semua menatap kearah Orlando.
"Memangnya kenapa begitu Pak ? bukankah bapak harusnya senang kalau istri bapak boleh pulang ?"
"Ah iya, saya senang" Orlando menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kalau dia di suruh pulang kapan lagi saya berduaan dengannya dok" ucap Orlando dalam hati...
Setelah dokter Wulan pamit keluar, Safa langsung bertanya pada Orlando.
"Kenapa kamu mau aku di rawat lagi sih Ndo ? bosan tau gak di rumah sakit terus" tanya Safa heran.
"Iya gak papa sih Fa, supaya kamu sehat aja"
"Kan tadi dokter udah bilang kalau aku udah sehat, yuk beres-beres, aku udah gak sabar mau pulang dan mandi"
"Iya" jawab Orlando dengan lesu.
***********
Hari sudah beranjak siang namun Febri masih berada di apartemen, ia masih menunggu sang istri pulang. Febri yakin kalau Safa akan pulang hari ini.
"Pulanglah Fa, Mas janji gak akan nyakitin kamu lagi" gumam Febri.
Bahkan Febri sudah memesan anekan makanan untuk menyambut kepulangan sang istri, ia ingin membahagiakan Safa nanti. Ia ingin menebus semua kesalahan nya.
__ADS_1
"Jam 10" ucap Febri sambil melirik jam di tangannya.
*********
Di sebuah kafe yang pengunjungnya sudah cukup ramai, ada Desi dan juga Sara yang sedang berbincang, atau lebih tepatnya merencanakan sesuatu untuk Safa.
"Bagaimana apa rencanamu ? saya tidak ingin ya satu rumah dengan adik kamu itu" ucap Desi geram.
"Tenang aja Tante aku sudah menyusun rencana untuk menyingkirkan Safa" balas Sara sambil tersenyum misterius.
"Apaan ? ceritakan padaku !"
"Kita takuti dia, kita datangi dia di apartemen yang Tante bilang, kalau dia tetap ngotot untuk bertahan dengan suami Tante kita hilangkan anaknya"
"Ide mu begitu bagus, baiklah besok rencana kita berjalan ok. Entar aku kirim alamat apartemennya kita ketemuan disana"
"Siap !"
Kedua wanita itu mengangkat gelas-gelas masing-masing dan melakukan tos, kemudian tertawa pelan. Desi sudah membayangkan penderitaan Safa nantinya.
********
Safa dan Orlando baru saja sampai di apartemen, Safa tak terlalu memperhatikan parkiran jadi ia tak menyadari kalau ada mobil sang suami disana.
"Nanti kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya !"
"Siap"
Samar-samar Febri mendengar suara sang istri, dengan cepat Febri keluar. Ia begitu kaget melihat Safa sedang berjalan berdampingan dengan laki-laki. Seketika niat Febri ingin minta maaf pada Safa seketika lenyap seketika.
Dadanya bergemuruh melihat sang istri berduaan dengan seorang laki-laki. Safa begitu terkejut saat matanya melihat sang suami sudah ada disana.
"Mas Febri" gumam Safa tapi bisa di dengar oleh Orlando.
Febri berjalan dengan cepat menuju sang istri, ia menatap tajam kearah Safa dan Orlando, melihat tatapan Febri seperti ingin menelan orang hidup-hidup Safa menjadi ketakutan.
"Ternyata kamu kabur bersama laki-laki ini ?" bentak Febri.
"Ini gak seperti yang kamu pikirkan Mas, aku bisa jelasin semua ini"
"Apalagi yang mau kamu jelasin Hah ? dasar wanita gak benar, wanita penggoda"
Rasanya begitu sakit mendengar ucapan sang suami, begitupun dengan Orlando.
---
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...