
Desi kebingungan karena memikirkan permintaan Sara, kesal bercampur marah menjadi satu, jika ia menolak permintaan Sara, Desi takut wanita licik itu akan membongkar semuanya dan mengatakan pada sang suami. Desi belum kehilangan Febri bahkan sampai kapanpun.
Akan tetapi kemana ia harus mencari uang sebanyak itu, liburan keluar negeri bukanlah hal yang mudah. Ia bisa saja mengambil tabungannya bersama sang suami tapi alasan apa yang harus Desi katakan supaya Febri tak curiga.
"Sialan, wanita licik itu berhasil membuatku gila seperti ini" gumam Desi
Waktu terus berputar, dan Sara setiap jam mengiriminya SMS untuk menanyakan uang itu dan juga ancaman untuk Desi, membuat Desi harus berpikir dengan keras.
"Tapi tunggu, ngapain aku harus takut dengan ancaman Sara, kalau dia melaporkan semuanya pada polisi dan Mas Febri bukankah aku juga bisa melaporkan dia balik"
"Iya-iya, lebih baik aku gak usah transfer, lagian sayang banget uang sebanyak itu untuk biayai wanita licik itu liburan mending uangnya aku pakai saja untuk jalan-jalan sama Mas Febri"
Desi tersenyum saat otak nya sudah memikirkan cara untuk melawan Sara, kenapa tak dari tadi ia kepikiran semua itu, kenapa baru sekarang, supaya dirinya gak perlu capek-capek mikirin hal ini.
"Ah lega rasanya, mending aku mandi dan nungguin Mas Febri pulang"
*********
Malam harinya Sara menelpon Desi, membuat Desi tersenyum karena ia yakin wanita itu akan mengancamnya lagi, tapi masa bodoh toh Desi juga sudah bisa mengatasi bagaimana caranya melawan Sara.
"Halo" ucap Desi dengan santai sambil mengoleskan cream malam di wajahnya, Ponsel ia letakkan di atas meja karena ia menspeaker sambungan telepon.
"Mana uangnya Tante ? ingat ya sama ancaman aku, kalau malam ini Tante tidak juga mengirimi uangnya aku akan bongkar semua kejahatan Tante" ucap Sara di seberang sana dengan nada emosi.
"Hahahaha" Desi tertawa terbahak-bahak "Heh anak bodoh kau pikir saya takut sama ancaman mu ? coba kau pikir kalau kau membongkar semuanya bukankah aku juga akan membongkar kebusukan mu"
"Memangnya Tante punya bukti kejahatan aku ? enggak kan ? lalu bagaimana caranya Tante akan membongkar semuanya ?" sekarang balik suara tawa Sara yang terdengar membuat Desi terdiam, ia memang tak punya bukti apa-apa tentang kejahatan Sara, tapi Desi tak boleh kalah sama Sara.
"Kata siapa aku tak punya bukti ? kau pikir aku adalah wanita bodoh, dengar ya silahkan kalau kamu mau bongkar semuanya, kita di penjara akan sama-sama, dan saya yakin ibu nya Safa pasti tidak akan terima Safa di perlakukan seperti itu oleh Mu, karena walau bagaimana pun Safa adalah anak kandungnya sementara kamu cuman anak tiri" jelas Desi kemudian.
Tak ada lagi sahutan dari Sara membuat Desi tersenyum licik, ia yakin wanita itu sedang kesal karena ia berhasil membalas ucapan Sara.
__ADS_1
"Awas ya kamu Tante, lihat saja kejutan dariku besok pagi"
Tuuuutttt
Panggilan terputus berbarengan suara pintu yang terbuka lebar, Desi menoleh dimana sang suami baru saja datang dengan wajah lesu yang biasa Desi lihat, karena semenjak Safa pergi Desi sudah gak pernah melihat semangat di diri suaminya. Tapi semua itu tak peduli bagi Desi karena ia yakin kesedihan Febri hanya bersifat sementara.
"Bagaimana kerjaan Mas hari ini ? Lancar ?" tanya Desi mendekati sang suami yang langsung mendudukan diri di sofa kamar mereka.
"Hmmmmm" hanya itu jawaban Febri.
Desi duduk di samping sang suami, ia mengelus pundak Febri dengan lembut.
"Tadi aku ke apartemen lagi dan aku bertemu sama laki-laki yang dekat dengan apartemen Safa" Febri berucap dengan mata terpejam.
Sementara Desi langsung ketakutan, ia takut Laki-laki itu sudah mengatakan pada Febri tentang perbuatan nya waktu itu pada Safa.
"Te--rus Mas ?" tanya Desi gugup bercampur penasaran.
"Iya dia bilang kalau gak tau Safa dimana, padahal aku sangat berharap dia tau tentang Safa karena di apartemen itu hanya dia yang dekat dengan Safa"
Itulah yang Desi rasakan karena orang itu tak mengatakan semuanya, tapi kenapa ? padahal dia melihat dengan jelas bagaimana Desi menyiksa Safa waktu itu.
"Aku harus menemui laki-laki itu, aku akan membayarnya dengan mahal supaya dia tak membocorkan semunya" batin Desi.
*******
Di Thailand.....
Safa baru saja selesai makan malam, memang antara Indonesia dan Thailand tak ada perbedaan waktu, jadi jika di indonesia sedang malam hari maka di tempat Safa pun akan sama.
Bahkan makanan pokoknya saja sama, sehingga membuat Safa merasa tinggal di negara sendiri. Hanya saja perbedaan nya bahasa.
__ADS_1
Tapi setiap hari Gita sudah mengajari Safa berbahasa Thailand, dimulai dari mengucapkan kata sederhana dulu barulah nanti Gita akan mengajarkan hal yang lain. Beruntung Safa adalah anak yang cerdas sehingga ia dengan muda memahami bahasa yang di ajarkan Gita.
"Kalian itu hanya nikah sirih Fa, setau aku kalau nikah sirih kamu tak perlu menggugat cerai suami kamu karena pernikahan kalian tidak resmi secara negara" ucapan Orlando tadi siang kembali terlintas di ingatan nya..
Benarkah demikian ia tak harus menggugat cerai Febri jika ingin berpisah ? tapi bagaimana jika suatu hari nanti ia bertemu dengan Febri lagi dan laki-laki itu masih menganggapnya sebagai seorang istri.
"Besok coba aku tanya sama Tante Gita deh, dia pasti tau semuanya"
"Sudah malam lebih baik aku tidur"
Sebelum tidur Safa menyempatkan mengelus perutnya yang sudah sangat membesar, dan anak di kandungan Safa masih bergerak dengan lincah didalam sana membuat wanita cantik itu tersenyum.
"Anak Bunda kenapa belum bobo ? ini udah malam Nak ! besok ya kalau mau main lagi" Safa mengajak anaknya bicara.
Terkadang Safa meringis kesakitan akibat tendangan anaknya yang sangat kencang, tapi disisi lain ia bersyukur karena anaknya sehat walaupun sempat tertimpah hal buruk.
"Maafin Bunda ya Nak kalau Bunda memisahkan kamu dari Ayah mu"
"Bunda terpaksa melakukan nya sayang, Bunda harap kelak saat kamu telah besar kamu akan mengerti semua ini"
"Ada banyak yang mesti Bunda pikirkan jika harus bersama dengan ayahmu Nak"
Air mata Safa mengalir dengan deras, ia tak menyangka bahwa perasaannya pada Febri begitu besar, bahkan rasa bencinya tak bisa mengalahkan rasa cinta di hatinya.
Tapi Safa akan berusaha mengubur rasa itu dalam-dalam, ia tak ingin ada di kehidupan Febri lagi, selain karena gak ma jadi orang ketiga, Safa juga takut Desi akan mencelakainya lagi.
"Mas Febri pasti akan bahagia, lagian dia juga gak cinta sama aku, aku hanya istri simpanan nya yang sampai kapanpun tak akan pernah di anggap ada"
----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...