Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 76


__ADS_3

Orlando tersenyum getir saat mendengar kalau Safa hanya menganggapnya sebagai Kakak. Mungkin memang seharusnya ia mengubur perasaan nya dalam-dalam.


"Kamu mandi sana ! aku masakin dulu buat kamu sarapan"


"Tidak usah !" larang Orlando.


"Kenapa ?" Safa yang hendak menyiapkan bahan masakan kembali mengurungkan aktivitasanya


"Aku mau sendiri Fa, jadi aku mohon kamu tinggalkan aku dulu, nanti kalau aku lapar aku bisa memesan makanan di luar"


"Kamu kenapa sih Ndo ? kok sikapnya berubah gitu sama aku ? aku ada salah ya sama kamu ?"


Orlando menggeleng, Safa memang tak salah padanya dalam hal ini dirinyalah yang salah karena mencintai Safa yang bahkan dulu statusnya masih menjadi istri orang lain.


"Kalau ada masalah cerita sama aku Ndo ! jangan kek gini" Safa mendekat ia menatap wajah Orlando dengan seksama.


"Aku gak papa Fa, please tinggalin aku sendiri"


"Ya sudah kalau itu mau kamu, aku pulang dulu ya ! kamu jaga diri baik-baik di sini dan ingat jangan membuat apartemen ini seperti kapal pecah lagi" ucap Safa memperingatkan.


"Iya Fa"


Safa berjalan kearah pintu di ikuti oleh Orlando, sebelum Orlando menutup pintu satu tangan Safa menahannya.


"Cepat beli ponsel yang baru, soalnya Arnold nyariin kamu tuh ! dia bingung saat nomor kamu gak bisa di hubungi"


"Iya"


Jawaban Orlando selalu singkat, membuat perasaan Safa benar-benar bingung. Ia mencari letak kesalahan nya tapi tak kunjung Safa temukan.


Saat akan meninggalkan apartemen milik Orlando, Safa tak sengaja melihat Febri yang juga baru keluar, buru-buru Safa bersembunyi karena tidak ingin Febri tau dia ada disana.


Setelah Febri menjauh barulah Safa berjalan dengan pelan. Setiap kalia melihat apartemen Febri kisah masalalu nya selalu terlintas.


********


Didalam kamar mandi Orlando sedang menikmati airr hangat yang ia beri aroma terapi.


Ia memejamkan matanya, kisah cintanya begitu dramatis, Saat berada di thailand Orlando terlalu yakin kalau Safa sudah melupakan Febri, namun nyatanya semuanya salah besar.


"Safa hanya menganggapku sebagai Kakak" Orlando terkekeh, akan tetapi matanya memerah menahan cairan bening yang siap meluncur dengan deras.


"Bisa-bisanya aku berpikiran kalau Safa juga menaruh rasa padaku selama ini"


"Brengsek !!" Orlando memukul air dengan kencang, ia kesal bercampur marah dengan kisah cinta yang seperti ini.


"Safa-Safa, kenapa kamu terlalu sulit untuk ku miliki"


Hampir 1 jam ia berendam setelah merasa kan tubuhnya menjadi dingin Orlando beranjak, ia mengambil handuk lalu melilitkan di pinggangnya.


"Kenapa aku rindu dengan Arnold ya ? seharian kemaren aku tak bertemu dengannya" gumam Orlando sembari memilih pakaian yang akan ia kenakan.

__ADS_1


Ia bisa marah pada perasaannya sendiri, akan tetapi ia tak bisa memungkiri kalau ia rindu dengan anak laki-laki yang dari bayi sudah sering dia asuh.


Dari kemaren Orlando tak bertemu dengan Arnold membuat ia begitu merindukan bocah lima tahun itu.


"Nanti siang aku kesana lah ! aku mau ngajak Ar jalan-jalan"


"Aku juga rindu dengan suaranya memanggil aku dengan sebutan Papa"


******


"Kok ada mobil mas Febri ?" gumam Safa heran.


Memang ia tadi tak langsung pulang kerumah melainkan pergi kepasar untuk belanja sayuran, soalnya tadi pagi saat ia akan ke apartemen Orlando ia pamit dengan Wina kalau akan kepasar.


"Kenapa lama sekali Nak ? bukankah kamu hanya kepaasar ?" tanya Wina


"Maaf Bu tadi aku ketemu sama teman SMA aku jadi kami mengobrol sebentar"


Febri yang saat itu duduk di ruang tamu langsung berdiri saat mendengar suara Safa, ia tersenyum dengan sangat manis namun hanya di balas sebuah senyuman kecil oleh Safa.


"Kenapa gak nungguin Mas aja tadi ? kalau kau kepasar ?"


"Aku tak ingin merepotkan Mas" Safa berjalan masuk sembari membawa barang belanjaannya, Saat Febri hendak membantu dengan cepat Safa menghindar.


"Aku bisa sendiri Mas" ucap Safa dingin.


Febri tak peduli bagaimana dengan sikap Safa, ia sudah berjanji pada diri sendiri akan membuat Safa kembali mencintainya seperti dulu.


"Hai Nak, maaf ya bunda tinggal lama"


"Tidak apa-apa Bunda, oh ya jadikan hari ini kita ketemu sama Papa Ndo"


Safa langsung terdiam apalagi Febri menatapnya dengan tajam.


"Siapa sih laki-laki yang selalu di panggil Papa oleh Arnold, gak rela aku dengarnya" batin Febri.


"Lihat nanti ya sayang, kalau Bunda gak sibuk"


"Yaaaa" Arnold terlihat menunduk dengan guratan kesedihan "Padahal Ar kangen sama Papa Bun"


"Panggil Om Nak ! jangan Papa !" ucap Safa


"Gak mau Bun"


"Fa, siapa sih laki-laki yang di panggil Papa oleh Arnold sepertinya dia dekat sekali dengan kalian sampai-sampai Arnold bersikap seperti ini" tanya Febri, ia sudah tak bisa sabar untuk mengetahui siapa laki-laki itu.


"Bukan urusan mu Mas !" jawab Safa, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk menyusun belanjaan nya.


"Jelas akan menjadi urusan ku Fa, kamu belum pernah aku talak ya ! jadi aku ini masih suami kamu" Febri menyusul Safa.


"Pernikahan kita hanya sebatas nikah sirih Mas, walaupun kamu tak menalak ku tapi tetap saja pernikahan kita telah selesai"

__ADS_1


"Gak ada ceritanya begitu, walaupun kita nikah sirih tapi pernikahan kita resmi secara agama"


Safa diam ia malas berdebat dengan Febri, apalagi jika harus membahas masalah status mereka.


*********


Orlando tiba di depan rumah Safa, ia terdiam saat melihat sebuah mobil terparkir disana. Orlando yakin kalau itu adalah mobil Febri.


"Safa memberikan alamat rumahnya pada Febri ?"


"Ini jelas kalau aku tak punya kesempatan untuk itu"


Rasanya ia ragu untuk masuk kedalam sana, apalagi jika ada Febri.


Tak berapa lama Orlando melihat Febri keluar dari rumah bersama Safa, terlihat ada percakapan di antara keduanya yang entah itu apa. Orlando menghela nafas panjang karena rasa sakit dan sesak kembali menghampirinya.


Saat mobil Febri meninggalkan rumah Safa barulah ia masuk tujuannya adalah bertemu dengan Arnold dan akan menghindari Safa.


"Assalamualaikun" ucap Orlando


"Waalaikumsalam" Balas Wina.


"Maaf Bu, saya mau bertemu dengan Arnold"


"Kamu siapa ya ?"


"Saya Orlando Bu" ia membungkuk dan mencium punggung tangan Wina dengan sopan.


Tak berapa lama suara yang sangat Orlando hapal terdengar dengan jelas.


"Papa" teriak Arnold.


"Hei jagoan" seperti biasa Orlando akan mengangkat tubuh Arnold sehingga membuat anak itu tertawa dengan kencang.


Wina terus memperhatikan interaksi antara Arnold dan Orlando.


"Apa laki-laki ini yang selalu di panggil Papa oleh Arnold ?" batin Wina.


"Mari masuk dulu Nak ! Safa sedang dikamar"


"Iya Bu, saya menunggu di luar saja"


"Loh kenapa ?".


"Tidak apa-apa Bu,.saya di luar saja"


-----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


__ADS_2