Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 52


__ADS_3

Febri memasuki rumah sakit tempatnya bekerja dengan wajah yang lesu, seperti tak ada semangat lagi dalam hidupnya. Biasanya Dokter tampan itu akan tersenyum ramah dan menyapa siapa saja yang ia lewati namun kali sangat berbeda, ia berjalan menunduk dan bahkan sesekali menabrak seseorang.


Bukan nya minta maaf, Febri pergi begitu saja membuat beberapa perawat heran dan saling bertanya ada apa dengan dokter kandungan itu.


"Dok ini jadwal pasien yang akan periksa hari ini" Asisten Febri berkata dengan sopan.


"Letakkan di meja ! nanti saya baca, kalau belum saya perintahkan jangan dulu ada pasien yang masuk" pinta Febri tanpa melirik sedikitpun map yang ada di hadapannya.


"Baik Dokter"


Setelah sang Asisten pergi, Febri menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Kedua tangan nya ia letakkan di dada.


"Bagaimana aku bisa konsen bekerja jika aku selalu kepikiran dengan Safa" gumam Febri lirih.


"Mas mohon Fa, pulanglah ! Mas disini menantimu, Mas merindukan kamu dan Mas juga merindukan anak kita"


"Tidak kah kamu merasakan rindu seperti Mas Fa"


Waktu terus berputar, Febri belum juga memberi perintah kepada Asisten nya untuk memulai pemeriksaan, ia masih duduk dengan pandangan lurus kedepan. Hingga suara pintu yang terbuka menyadarkan Febri...


"Ada apa ?" tanya Febri santai


"Sudah siang dok, apa pemeriksaan sudah bisa di lakukan, Antrian pasien yang hendak USG sudah banyak" jelas sang Asisten.


"Selain pemeriksaan USG apa ada yang lain ?"


"Ada dok, ada dua orang ibu yang hendak melahirkan"


"Baiklah, kita mulai sekarang"


Sang Asisten mengangguk, ia bersiap untuk memanggil satu persatu pasien menurut nomor antrian, sementara Febri mulai bersiap untuk melakukan pemeriksaan USG.


Tidak berapa lama seorang ibu dengan perut yang sudah membuncit masuk. Febri tak menampakan senyum ramah ia hanya menatap sang ibu tanpa ekspresi.


"Silahkan langsung berbaring saja Bu" ucap Asisten Febri.


Ibu dengan perut besar itu menurut, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah di sediakan. Febri duduk disamping ranjang itu dengan menghadap ke peralatan USG.


Setelah Gel untuk USG di oleskan barulah Febri menekankan alat untuk melihat janin didalam perut tersebut.

__ADS_1


"Ketuban nya bagus, janin nya sehat ! dan tidak ada yang perlu di khawatirkan" Febri mulai menjelaskan apa yang ia lihat di layar.


"Jenin kelaminnya perempuan, posisinya sudah pas, dan usia kandungannya 38 minggu"


Febri terus menjelaskan semuanya tanpa sedikitpun memberi cela pada ibu itu untuk bertanya, dan semua ini membuat sang Asisten kebingungan, biasanya Febri tak pernah bersikap dingin seperti ini. Ia akan selalu ramah dan sabar dengan banyaknya pertanyaan dari pasien.


"Sudah selesai" ucap Febri yang kemudian berdiri.


Sang ibu pun hanya bisa menurut, ia keluar dari ruangan Febri dengan pertanyaan yang menumpuk di pikiran nya karena tak ada satupun pertanyaan yang dapat ia lontarkan kepada dokter Kandungan itu.


"*Katanya Doktef Febri terkenal ramah, mana dingin gitu orangnya"


"Lain kali aku gak mau USG di sini lagi*" ucap ibu itu dalam hati dengan perasaan dongkol.


Satu persatu pasien masuk keruangan Febri, walau Febri menjalankan tugasnya untuk memeriksa tapi tak ada yang membuat pasien senang. Mereka keluar dengan kesal karena sikap Febri.


"Setelah ini saya akan memeriksa ibu yang akan melahirkan itu" ucap Febri pada sang Asisten.


"Baik Dok"


*********


"Cuman ini Nak barangnya ?" tanya Gita dengan lembut.


"Iya Tante, cuman ini barangnya"


"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang !"


Safa mengangguk dan tersenyum, Gita adalah sosok ibu yang baik, seandainya saja Wina juga bersikap seperti ini mungkin saja Safa tak akan merasakan semua ini.


Safa hanya bisa menghela nafas panjang, saat pikiran nya tertuju pada sang Ibu yang sampai sekarang tak pernah menganggap nya anak lagi.


"Kamu kenapa Nak ? kok nangis ?" tanya Gita yang menyadari ada cairan bening yang mengalir membasahi pipi Safa.


Dengan gerakan cepat Safa menghapus air matanya "Tidak kok tante, Safa hanya terharu sama kebaikan Tante sama aku, padahal kan aku bukan siapa-siapa Tante" jawab Safa.


Gita membalas senyuman Safa, ia mengelus pipi Safa dengan lembut "Kita memang bukan siapa-siapa Fa, tapi Tuhan telah mempertemukan kita untuk menjadi suatu keluarga"


Safa tak kuasa menahan tangisnya, ia segera memeluk Gita dengan erat seolah Gita adalah ibu kandungnya yang begitu Safa rindukan selama ini.

__ADS_1


Sudah lama Safa merindukan kehangatan seorang ibu, kasih sayangnya. Karena semenjak ia di tinggal sang Ayah. Sosok Ibu juga pergi dari kehidupan Safa..


"Hiks-hiks-hiks.. Makasih Tante udah sayang sama Safa !"


"Sama-sama Nak, sudah jangan nangis lagi. Pokoknya kamu harus bahagia karena ibu hamil itu gak boleh sedih nanti bayi nya juga ikut sedih"


Safa melepaskan pelukan nya, namun air matanya masih terus menetes membasahi pipinya. Sehingga Gita membantu menghapus air mata yang mengalir di pipi Safa.


"Yuk pulang, katanya kamu mau jalan-jalan ! entar Tante ajak ke tempat yang indah-indah"


"Iya Tante"


Gita membawakan koper Safa, sementara Safa duduk di atas kursi roda. Sebetulnya Safa ingin jalan aja namun Gita tetap memaksa untuk Safa di atas kursi roda.


Sesampai di luar seorang sopir sudah menunggu, Gita membantu Safa untuk masuk kedalam mobil.


Di dalam perjalanan pulang Safa terus mengamati sekitar, Ternyata ia benar-benar telah pergi jauh, ia bukan lagi ada di negara kelahiran nya..


"*Disinilah kehidupan baruku di mulai, aku akan berjuang untuk menghidupi anak ku kelak. Aku akan melupakan Mas Febri."


"Semoga Mas Febri disana bahagia, apapun yang pernah dia lakukan setidaknnya Mas Febri pernah membuat aku jatuh cinta*"


Safa tersenyum saat mengingat kebersamaan nya dengan sang suami. Namun semua itu langsung lenyap begitu saja saat nama Desi terlintas di pikirannya.


Safa sangat membenci wanita itu, bisa-bisanya Desi tak punya perasaan karena ingin membunuh anaknya yang tak berdosa, padahal Desi juga seorang wanita tapi dia tak punya hati nurani.


"Safa, kamu mikirin apa ? kok diam terus ?" tanya Gita membuyarkan lamunan Safa


"Enggak kok Tan, aku cuman mikirin nanti aku kerja apa ya disini supaya aku bisa bertahan hidup dengan anakku"


"Kamu ngomong apa sih Fa, udah deh gak usah mikirin masalah kerjaan, yang penting kamu pikiran aja bayi di kandungan kamu, dan nikmati masa masa kehamilan kamu"


"Tapi aku gak mau terlalu bergantung sama Tante dan yang lain, kalian sudah begitu baik sama aku."


----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


__ADS_2