
Selesai mandi Febri langsung bersiap berangkat kerja, itu semua membuat Desi heran pasalnya jika malamnya sudah lembur kemungkinan siangnya akan libur. Tapi Febri tetap berangkat bekerja.
"Kamu kerja lagi Mas ?" tanya Desi sambil mengernyitkan keningnya.
"I--ya, memangnya kenapa ?" Febri tampak gugup menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Tumben, biasanya kalau kamu habis lembur siangnya gak akan kerja, tapi kok ini tetap berangkat. Apa gak capek ?"
"Enggak lah kan demi kamu, demi bahagiain istri"
Desi tersenyum mendengar gombalan suaminya itu, ia pun mendekat dan membantu suaminya mengancingkan kemeja serta merapihkan pakaian Febri.
"Maaf ya Des untuk saat ini aku akan sering bohong sama kamu, suatu saat nanti aku akan jelaskan semuanya dan Mas harap kamu akan mengerti dengan semua ini" batin Febri sambil menatap istrinya dengan seksama.
Febri belum berani membayangkan jika Desi sampai tau kenyataan ini, ia juga belum berani membayangkan kalau salah satu dari istrinya ada yang terluka.
"Udah, yuk sarapan" ucap Desi membuyarkan lamunan Febri.
"Makasih Sayang, hmm kamu gak kerja ?"
"Aku sif malam Mas, jadi maaf saat kamu pulang nanti aku udah gak di rumah"
"Oh, ya tidak apa-apa Mas mengerti kok"
Di meja makan Febri melihat masakan Desi yang menurutnya tak selera makan. Entah apa yang terjadi padahal selama ini apapun yang Desi masak Febri akan makan dengan lahap.
Karena melihat Febri hanya menatap meja makan, Desi kembali heran.
"Kamu kenapa Mas ? ayo sarapan entar kamu telat lagi kalau gak buru-buru sarapannya" ucap Desi ia pun menuangkan nasi dan lauknya kedalam piring Febri.
"Hmmm, anu dek. Mas kek nya gak selera makan"
"Lo kenapa ? bukannya ini semua makanan kesukaan Mas ?" tanya Desi heran, kemudian wanita itu mengangkat satu piring dimana isinya adalah gulai ikan mas yang masih mengepulkan asapnya "tuh lihat, ada gulai ikan kesukaan kamu"
Namun Febri hanya menggeleng, ia juga heran ada apa dengan dirinya tak biasanya Febri seperti ini, biasanya kalau sudah mencium aroma makanan kesukaan nya Febri langsung makan dengan lahap.
"Mungkin kamu bosan sama masakan ini, coba bilang sama aku Mas mau dimasakin apa ? kan udah lama juga mas gak reques makanan ke aku" tanya Desi yang merasa kalau suamianya itu bosan karena selalu di suguhi makanan seperti itu, mungkin saja Febri mau mencoba makanan lain.
"Mas mau makan cumi sambal ijo, bisa gak kamu bikinin"
"Hah, aku gak salah dengar kan mas ? kamu mau makan cumi ?"
Febri menggeleng memang benar adanya kalau saat ini ia menginginkan makanan itu.
__ADS_1
"Kok aneh sih, selama ini kamu gak pernah menyukai cumi bahkan melihatnya saja kamu eneg kok sekarang malah mau makan" ucap Desi yang heran. Bagaimana tak heran karena selama ini Febri paling membenci hewan berbadan lunak itu. Bagi Febri cumi adalah hewan menjijikan.
Dan sekarang Febri malah menginginkan makanan itu, Desi menatap kearah sang suami dimana sampai saat ini Febri belum mengambil makanan apapun.
"Mau banget ya Mas ?" tanya Desi lagi.
"Iya sayang, mas pengen banget. Nanti masakin ya !"
"Kok aneh sih Mas, kamu gak lagi sakit kan ?"
"Enggak lah, aku sehat, kalau aku sakit ngapain aku kerja"
"Ya sudah kebetulan hari ini aku mau kepasar, nanti aku beliin cumi dan masakin buat kamu. Nanti pas kamu pulang udah ada itu semua"
Mendengar itu Febri tersenyum bahagia. "Makasih sayang, aku tunggu ya !"
"Hmmmmm"
Mual dan muntah yang Safa alami benar-benar menguras tenaga, ia bahkan tak kuat lagi bangun karena tenaga nya habis.
Sampai saat ini tak ada makanan yang masuk, karena air putih saja tak dapat Safa terima.
Saking lemahnya wanita cantik itu menangis, ia memegangi perutnya karena kembali merasakan gejolak yang aneh.
Dalam kondisi seperti ini Safa begitu menginginkan perhatian dari seseorang, terutama sang suami yang saat ini sedang berada di rumah istri pertamanya.
"Mas Febri kesini lagi gak ya ? atau dia langsung berangkat kerja"
Selesai sarapan Febri langsung pamit untuk berangkat bekerja, seperti biasa Desi akan mencium punggung tangan Febri dengan sopan.
"Hati-hati Mas !" ucap Desi.
"Iya, kamu juga hati-hati di rumah"
Didalam perjalanan Febri teringat dengan Safa, akhirnya ia memutuskan untuk mampir sebentar.
Tanpa mengetok pintu dahulu Febri langsung masuk saja, kebetulan pintu tak terkunci dan itu membuat Febri yakin kalau Safa belum bangun.
Di meja makan juga belum ada makanan apapun.
"Apa Safa belum bangun ya ? inikan udah jam 08 masa iya dia betah banget tidurnya"
__ADS_1
Febri melangkahkan kakinya menuju kamar, matanya menyapu isi kamar untuk mencari dimana Safa namun wanita itu tak ada, baru saja Febri akan berteriak karena panik telinganya mendengar suara orang yang muntah-muntah, Febri langsung berlari kekamar mandi untuk melihat keadaan Safa.
"Fa, astaga kamu kenapa ?" tanya Febri yang terkejut melihat wajah pucat Safa.
"Aku gak kuat Mas"
"Kamu mengalami morning secness ya ?"
"Aku gak ngerti Mas, tapi ini gak enak banget"
Segera Febri menggendong Safa kembali kekamar, ia meletakkan tubuh Safa dengan pelan keatas ranjang. Tak lupa Febri menyelimuti kaki Safa karena terasa sangat dingin.
"Minum dulu Fa !"
"Gak mau Mas, nanti keluar lagi"
"Kamu belum makan apa-apa pagi ini ?"
Safa menggeleng "belum Mas"
"Kamu harus makan Fa ! kasian bayi kita"
"Tapi nanti keluar lagi Mas, aku capek kekamar mandi terus"
Febri terdiam menatap Safa, ia menjadi tak tega melihat kondisi istri muda nya itu.
"Kamu mau makan apa ? biar Mas cariin"
Safa berpikir sejenak "aku kau ubi di rebus Mas" ucap Safa yang membayangkan kelezatan ubi yang di rebus.
"Baiklah Mas akan kewarung dulu buat nyari ubinya, sekalian Mas beliin kamu susu ya. Kamu sukanya apa coklat, vanila apa strowbery?"
"Coklat Mas"
Febri mengangguk, sebelum pergi Febri mencium kening istrinya terlebih dahulu. Dan itu membuat Safa tertegun ia mengelus keningnya dimana masih terasa bibir Febri menempel disana padahal orangnya telah pergi.
"Mas, bagaimana kalau aku mencintaimu ? apa aku salah nantinya ?"
"Perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan membuatku hampir luluh, mungkin aku bodoh karena begitu mudah memberikan hatiku padamu, tapi selama ini belum ada laki-laki yang memberiku perhatian selain Ayahku. Dan sekarang kamu memberikan aku perhatian itu"
Tak terasa Safa kembali meneteskan air mata, ia tak ingin mencintai Febri, tapi ternyata hatinya berkata lain. Mungkin karena Safa tak pernah pacaran dan perhatian dari lelaki ia dapatkan hanya dari Ayahnya.
---
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...