
Safa yang mendengar suara Orlando langsung berlari kedepan, dan benar saja ia melihat laki-laki itu sedang tertawa dengan bahagia bersama putranya.
"Ndo" panggil Safa.
Orlando menoleh "Iya, ada apa Fa ?"
"Kapan datang ?"
"Baru saja"
"Kenapa gak masuk ? di luar kan panas"
"Tidak mengapa, aku mau minta izin sama kamu untuk membawa Arnold main keluar" Orlando mendekat namun ia tak pernah sama sekali menatap Safa, berbeda dengan biasanya.
"Kemana ? aku ikut ya !" ucap Safa sembari tersenyum manis.
"Maaf ya Fa, kali ini aku cuman mau berdua sama Arnold saja"
Mendengar ucapan Orlando membuat Safa langsung terdiam, selama ini laki-laki itu tak pernah menolak jika dirinya mau ikut.
Namun sekarang Orlando melakukan itu, membuat Safa benar-benar merasa kalau Orlando sudah berubah.
Apa salahnya ?
Hanya itulah yang ada di benak Safa, ia sudah cukup menebak-nebak tentang kesalahannya namun sampai sekarang tak kunjung Safa temukan.
"Bagaimana boleh gak ? kalau gak boleh aku pulang" tanya Orlando.
Lagi-lagi Safa terhenyak mendengar setiap ucapan yang terlontar di bibir Orlando "Boleh kok, tapi jangan kesorean ya pulang nya !!"
"Ok" Balas Orlando
"Ar ayo pamit sama Bunda ! Om tunggu di mobil" ucap Orlando pada Arnold.
Om ????
Safa kembali di buat bingung, karena selama ini Orlando selalu mengucapkan kata Papa pada Arnold namun kali ini beda. Entah kenapa membuat Safa merasa sakit mendengarnya, karena ia sudah terbiasa mendengar kata Papa.
Setelah Arnold berpamitan, ia langsung menuju mobil dimana Orlando sudah menunggu di dalamnya.
Safa masih berdiri dengan menatap mobil Orlando yang perlahan berjalan, ada rasa sedih, bingung yang ia rasakan.
"Kamu kenapa sih Ndo ? sepertinya kamu berubah, apa aku ada salah sama kamu" gumam Safa.
"Fa..." tiba-tiba Wina menepuk bahunya membuat Safa kaget, ia menoleh lalu tersenyum.
"Yuk masuk ! di luar panas !" ajak Wina.
"Iya Bu"
__ADS_1
Wina tak ingin bertanya lebih tentang hubungan Safa dan Orlando, ia hanya akan menunggu sampai Safa sendiri yang menceritakan semuanya.
**********
Orlando membawa Arnold ke taman bermain, ia ingin menyenangkan Arnold. Karena mungkin kedepannya dirinya tak akan selalu sedekat ini.
"Ar, mau main apa ngobrol dulu ?"
"Ngobrol sama Papa dulu lah, Aku kangen sama Papa"..
"Ya sudah yuk, kita duduk disana" Tunjuk Orlando pada sebuah bangku panjang.
Arnold mengangguk, ia menggandeng tangan Orlando, sebelum mengobrol Orlando memesan es cream untuk menemani mereka.
"Pa"
"Iya"
"Kemaren Papa kemana ? kok gak nemenin aku sama Bunda ?"
"Maaf ya, Papa ada kerjaan kemaren. Memangnya Ar sama Bunda kemana ?" tanya Orlando pura-pura tidak tau.
"Ar gak kenal tempatnya, tapi kemaren aku sama Bunda ke tempat Om-om dan dia mengaku sebagai Ayahku. Bunda juga bilang kalau Om itu Ayahku. Tapi aku gak mau kan aku udah ada Papa"
Orlando mengelus kepala Arnold dengan lembut, ia berusaha tetap tersenyum walau dadanya terasa semakin sesak.
"Ar, dengerin Papa ! dia memang Ayah nya Arnold, dia suaminya Bunda kamu, jadi Ar harus sopan sama dia dan mau memanggilnya dengan sebutan Ayah !"
"Ar kan anak pintar" potong Orlando dengan cepat.
"Terus kenapa baru sekarang Aku ketemu sama dia Pa ? kenapa gak dari kecil seperti Papa"
"Kalau masalah itu coba Ar tanya sama Bunda ! Papa gak bisa bantu"
Arnold menunduk, Es cream di tangannya hampir mencair karena tak kunjung ia lahap.
"Mulai sekarang Arnold panggilnya jangan Papa lagi ! tapi Om seperti kata Bunda, kan sekarang Ar sudah bertemu dengan Ayah kandung Ar" ucap Orlando lirih, jujur ia begitu sakit mengatakan semua ini. Namun tak ada cara lain karena Orlando tidak ingin Febri dan Safa kembali ada masalah.
Biarlah semuanya ia simpan sendiri, mengenang rasa cinta yang entah sampai kapan ia pendam. Orlando hanya ingin Safa bahagia walau bukan bersamanya.
Mungkin inilah yang di namakan sakit melepaskan.
**********
Di lain tempat Febri sedang mencari sesuatu untuk anaknya, ia sengaja ke toko mainan untuk membelikan Arnold mainan yang paling mahal..Febri ingin mengambil hati anaknya.
Namun saat akan mengambil sebuah mainan mobil-mobilan yang besar sebuah tangan juga mengambil mainan itu juga, membuat Febri menoleh lalu terkejut karena orang di sebelahnya ada Desi.
"Mas Febri"
__ADS_1
"Desi"
Ucap keduanya secara serempak.
"Kamu ngapain disini Des ? dan kenapa kamu mau beli mobilan juga ?" tanya Febri heran.
"Aku mau membelikan untuk calon anakku Mas" jawab Desi menunduk.
Febri terkejut, maksud ucapan Desi apa ?
"Maksudnya ?"
"Aku akan menikah ? dan laki-laki yang akan aku nikahi adalah seorang duda beranak satu, makanya aku mau membelikan calon anakku, tapi kalau kamu mau ambil yang ini silahkan biar aku cari yang lain"
Untuk kedua kalinya Febri terkejut mendengar kalau Desi akan menikah lagi, bukan karena ia masih ada rasa cinta melainkan ia tak menyangka kalau wanita itu akan menikah secepat ini.
"Kamu sendiri mau membelikan untuk siapa ?" tanya Desi.
"Untuk anakku Des, Alhamdulillah mereka kembali dan sekarang anakku sudah tumbuh besar ! dia tampan dan sangat mirip denganku"..
Senyum samar di tampilkan Desi di wajah cantiknya, rasanya walau sudah berumur tapi wanita itu tidak berubah.."Syukurlah kalau begitu, sampaikan maafku pada Safa ya Mas ! selama ini aku jahat banget sama dia, tapi mulai sekarang aku tidak akan mengganggu kalian lagi, semoga kalian bahagia begitu juga dengan aku"
"Pasti akan aku sampaikan ! semoga kita sama-sama bahagia ya Des"
Desi mengangguk "Terima kasih pernah jadi lelaki terhebat dalam hidupku Mas ! terima kasih pernah menyanyangi aku dengan sepenuh hati dan terima kasih karena sudah menghadirkan luka yang cukup besar di hidupku, maafkan aku yang tak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu"
"Maafkan atas kesalahan Mas juga Des, Maaf atas luka yang Mas torehkan di hidupmu"
Saat keduanya sedang asik mengobrol seorang laki-laki tampan menghampiri Desi.
"Sudah belum Sayang ?"
Desi menoleh "Belum Mas, ini lagi cari-cari. Oh ya kenalkan ini Mas Febri mantan suami aku, tadi gak sengaja ketemu disini"
Laki-laki itu tersenyum ramah kearah Febri, lalu mengulurkan tangannya "Saya Niko calon suami Desi, senang bertemu denganmu" ucap Niko ramah.
"Febri" balas nya
"Kami kesana dulu ya Mas, jangan lupa nanti datang di acara nikahan kami"
"Inysa Allah, semoga lancar ya !"
"Aamiin"
Febri masih menatap kepergian Desi dan Niko, apalagi ia melihat Desi bisa tertawa bersama laki-laki itu. Membuat Febri juga merasa bahagia setidaknya mantan istrinya sudah menemukan pasangan hidup lagi.
"Saatnya aku yang memperjuangkan rumah tanggaku dan Safa !" gumam Febri.
----
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...