
Saat ini Safa dan juga Orlando sedang menunggu antrian sampai nama Safa di panggil. Orlando tersenyum karena tak menyanhka kali ini ia bisa menemani Safa periksa kehamilan.
Berbeda dengan Safa yang masih saja gelisa karena bayi dalam kandungannya tak kunjuk bergerak, padahal Safa sudah mengelus perut buncitnya berulang.
"Ibu Safa Margareth" panggil seorang suster.
Safa mengangguk, ia berdiri dan di ikuti Orlando.
"Kamu tunggu sini aja, gak usah ikut kedalam" ucap Safa.
"Biarkan saja suaminya ikut Bu" sahut sang suster.
"Nah kan di bolehin, yuk masuk" Balas Orlando dengan senang.
"Tapi kan .."
"Udah ayo !"
Akhirnya mau tak mau Safa menurut, ia masuk kedalam ruangan dimana seorang dokter perempuan sedang duduk dan menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat siang, perkenalkan saya dokter Wulan" ucap dokter Wulan dengan ramah.
"Siang dok" balas Safa dan Orlando serempak
"Sudah berapa bulan usia kehamilan nya ?"
"6 bulan jalan 7 dok"
"Ada keluhan apa ibu Safa ?"
Safa pun menceritakan tentang kegelisahan nya hari ini, setelah mendengar semuanya dokter Wulan menyuruh Safa berbaring di atas tempat tidur untuk melakukan pemeriksaam USG.
Saat sang suster akan mengangkat baju Safa, dengan gerakan cepat Safa menahan nya.
"Kenapa Bu ?" tanya Suster.
"Emmm, anu Sus" Safa terlihat ragu tapi matanya menatap kearah Orlando.
Menyadari tatapan Safa membuat Orlando mengerti, mungkin Safa risih jika perutnya di lihat oleh Orlando, karena bagaimanapun dia dan Orlando bukan lah suami istri seperti yang di pikirkan orang lain.
Orlando segera berbalik badan supaya tak menatap kearah Safa lagi, ia pura-pura menyibukkan diri dengan ponsel.
"Anu apa Bu ?" suster balik bertanya.
"Tidak apa-apa Sus silahkan di lanjut"
Baju Safa sudah terangkat, Gel untuk USG sudah di oleskan dan dokter Wulan langsung melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana dok apa bayi saya sehat ?" tanya Safa tak sabaran.
__ADS_1
"Bayi ibu sehat, tapi dia begitu lemah. Mungkin ini karena ibu terlalu stres. Sepertinya ibu harus di rawat dulu untuk sementara karena kandungan ibu sangat lemah"
Air mata Safa langsung menetes mendengar semuanya, tapi masih ada kelegaan sedikit karena pikiran buruk yang terus merasuki pikirannya tak terjadi.
"Harus ya dok di rawat ?" tanya Safa.
"Iya Bu, biar kami bisa pantau semuanya, takutnya nanti kalau ibu pulang terjadi hal-hal yang tidak di inginkan"
"Rawat aja dok ! siapkam ruangan VVIP untuknya" sahut Orlando yang mendengar semuanya.
"Baik Pak akan kami siapkan"
"Orlando kamu apa-apaan sih ? kenapa langsung ngomong gitu aku kan belum ngomong apa-apa" Safa terkejut mendengar keputusan Orlando.
"Kamu gak dengar tadi kata dokter kalau bayi kamu butuh perawatan. Kamu mau dia kenapa-napa ? udah kamu di rawat aja, aku yang nanggung semuanya"
Safa terdiam tentu ia tak ingin bayi di kandungannya kenapa-napa.
"Baiklah aku mau dirawat" Safa akhirnya menyetujui semuanya, urusan Febri akan ia pikirkan belakangan.
"Gitu dong"
"Tolong jangan kabari suamiku Ndo"
"Iya"
********
"Walau kamu gak cerita apa-apa, aku tau kalau ini perbuatan suami kamu Fa"
"Kenapa kamu kuat bertahan, padahal dia sudah melukai hati dan fisik kamu. Seandainya kamu mau pergi aku siap membawa kamu pergi"
Orlando begitu kesal dan marah saat melihat wajah Safa yang memar, ia yakin semua ini adalah ulah suaminya karena selama ini ia tak pernah melihat orang lain masuk ke apartemennya selain suami Safa sendiri.
"Semoga kamu segera mengambil keputusan ya Fa ! aku gak kuat lihat wajah kamu seperti ini"
*********
Malam harinya Febri tak datang lagi ke apartemen karena saat ini ia sudah berada di rumah bersama Desi. Bahkan laki-laki itu lupa kalau ia telah mengunci Safa dari luar.
Febri akan mengatakan pada Desi kalau ia akan membawa Safa tinggal serumah dengan mereka.
"Sayang, sini duduk dulu ada yang mau Mas bicarakan" ucap Febri sembari menepuk sofa sebelahnya.
Desi menurut ia duduk bersebelahan dengan sang suami "Ada apa Mas ?"
"Begini, Mas mau bilang kalau Safa akan tinggal satu rumah dengan kita, kamu gak keberatan kan ?"
Mata Desi membulat dengan sempurna, bisa-bisanya Febri mengatakan hal itu. Bagaimana mungkin ia mau satu atap dengan Safa. Apalagi nanti ia akan melihat Febri berduaan dengan Safa.
__ADS_1
Tapi karena ingin terlihat baik di mata Febri, Desi berpura-pura tersenyum.
"Iya Mas aku setuju, dia kan istri kamu juga. Lagian enak kalau Safa tinggal disini jadinya kamu gak perlu bolak-balik" balas Desi.
"Kamu memang istri Mas yang baik, makasih Sayang atas pengertiannya" Febri mencium puncak kepala Desi.
Desi mencibir dalam hati ia berkata "Tidak apa-apalah aku bilang setuju sekarang, entar aku cari rencana saja untuk membuat pelakor itu tak tinggal di rumah ini. Enak saja dia mau satu rumah denganku"
Desi membalas senyuman Febri. Sementara otaknya berpikir dengan keras tentang rencana yang akan ia lakukan untuk menyingkirkan Safa.
"Mending aku minta bantuan kakak tiri pelakor itu, dia kan janji akan membantu aku"
"Mas aku kekamar duluan ya !"
"Iya Sayang, nanti Mas menyusul"
Setelah kepergian sang istri Febri menghubungi Safa untuk mengatakan kalau Desi setuju jika Safa tinggal serumah dengan mereka.
Namun ternyata nomor Safa tidak aktif, membuat Febri akhirnya menyusul sang istri dikamar.
*******
Sementara di rumah sakit Safa baru saja selesai makan malam, ia mengidam ingin makan nasi goreng yang ekstra pedas. Tapi Orlando tak menuruti ia tak ingin Safa dan bayinya kenapa-napa.
"Minum vitamin dulu, baru tidur lagi" pinta Orlando.
"Entar lah Ndo, aku masih kenyang tau gak"
"5 menit lagi ya"
"Hmm"
"Nih" Orlando memberikan ponselnya "Buat mainan, kamu kan mematikan ponsel kamu"
"Mainan apa sih Ndo ? udah ah simpan aja aku juga gak mau main ponsel"
"Ya main apa aja lah Fa, nonton youtobe kek atau apalah. Aku mau cek laptop bentar makanya aku pinjemin ponsel"
Safa akhirnya menerima ponsel Orlando, sementara Orlando langsung duduk di sofa dan mengerjakan pekerjaannya.
Aplikasi youtobe itulah yang Safa buka, ia melihat kelas kehamilan dan senam hamil, karena selama ini Safa belum pernah mengikuti semua itu.
Tapi sesekali Safa melirik kearah Orlando yang begitu fokus kelayar laptop, Safa tersenyum.
"Seandainya kamu adalah Mas Febri, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia" batin Safa.
Safa tersadar kalau sudah membayangkan hal yang tak mungkin terjadi.
---
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...