Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Terpaksa


__ADS_3

Safa masih saja terdiam, mencerna setiap ucapan yang Febri lontarkan. Sesekali perempuan berparas cantik itu mengelus perutnya yang masih datar.


Pikiran nya kalut, jangan sampai apa yang Febri ucapkan menjadi kenyataan. Ia tak ingin menjadi duri dalam rumah tangga Febri.


"Hanya sebulan, dan setelah ini aku bisa pergi yang jauh" gumam Safa.


Iya Safa terpaksa menerima menjadi kekasih Febri, hanya sebulan sampai ia datang bulan nanti. Dalam hal ini Safa sangat berharap siklus menstruasi nya akan berubah. Ia sangat berharap hal itu akan datang esok.


Menjadi kekasih dari seorang pria yang sudah mempunyai istri bukanlah keinginan Safa, entah dosa apa yang ia perbuat dari masa lalu sehingga semua ini harus terjadi dalam hidupnya.


"Ya Allah, semoga tidak akan ada janin yang sedang berusaha hidup di rahim ku" kembali Safa bergumam namun sekarang di iringi dengan harapan yang begitu besar..


----


Sementara itu Febri baru saja tiba di Klinik, ia langsung masuk kedalam ruangan. Sudah ada banyak pasien yang mengantri untuk melakukan USG, sebagai dokter Spesialis kandungan inilah pekerjaan Febri. Setiap hari ia akan melihat Janin yang berkembang di dalam perut seorang Ibu.


Terbesit rasa ingin setiap kali Febri melakukan pemeriksaan USG. Bahkan kerap kali dokter tampan itu memandangi layar monitor dengan sangat lama, ia terkadang sedikit berkhayal kalau yang ia pandangi itu adalah calon anak nya.


"Permisi dok !" sapa sepasang suami istri yang kini sudah masuk kedalam ruangan praktek Febri.


Seperti biasa Febri akan menampilkan senyum paling menawan, bicara yang sopan dan sangat ramah. Makanya di rumah sakit maupun di klinik Febri di panggil dokter idaman.


"Ada keluhan apa Bu ?" tanya Febri pada seorang wanita.


"Saya sudah Positif hamil Dok ! tapi saya punya riwayat keguguran. Jadi saya ingin periksa apakah janin saya berkembang dengan baik atau tidak, saya sedikit trauma dok" jawab sang ibu.


"Baiklah, silahkan berbaring Bu, kita lakukan USG sekarang"


Ibu itu berbaring di atas brankar yang sudah di sediakan, seorang Asisten Febri membantu ibu itu dan mengoleskan Jell pada perut ibu itu. Barulah Febri melakukan USG.


"Belum kelihatan apa-apa Bu, masih penebalam dinding rahim, tapi di Tespack positif ya ?" tanya Febri sambil menggeserkan alat USG pada perut ibu itu.


"Iya dok, kalau menurut hitungan bidan kemaren sudah 5 minggu"

__ADS_1


"Ada banyak kasus seperti ibu, saya saran kan Ibu USG transvaginal. Disana akan terdeteksi. Tapi kalau ibu tidak mau kita tunggu 2 minggu lagi. Biasanya di usia 5 minggu memang belum terlihat adanya janin maupun kantong nya. Nanti kalau sudah memasuki minggu ke 8-9 jika belum terlihat juga perlu kita tindak lanjuti" jelas Febri. Kini pemeriksaan sudah di hentikan, Febri kembali duduk ketempat semula sementara sang Asisten membantu membersihka perut ibu tadi.


"Jangan setres, Vitamin nya di minum dengan rutin, susu ibu hamil juga. Insya Allah calon anaknya akan berkembang dengan baik" sambung Febri lagi sembari menuliskan resep pada sebuah kertas putih yang akan di serahkan pada bagian apotek.


Sepasang suami istri itu pamit, Febri dapat menangkap kekecewaan pada wajah suami dari ibu tadi.


-----


Berbeda dengan Safa yang baru saja tiba di rumah nya atau lebih tepatnya rumah ibunya. Lama Safa berdiam diri di depan pagar rumah itu, ia merasa enggan untuk masuk karena akan bertemu dengan sang Ibu dan Ayah tirinya.


"Eh Non Safa, ayo masuk Non maaf tadi Mamang gak tau kalau Non ada di depan" ucap Mang Ucup seorang tukang kebun yang bekerja di rumah Safa.


"Iya Mang, apa Ibu ada ?" tanya Safa.


"Nyonya sama Tuan lagi liburan Non" Mang Ucup terlihat ragu mengatakan semua itu


Safa berusaha tersenyum, ia sudah mengira tentang hal ini. Tidak mungkin ibunya akan mencari dirinya. Terbuktikan kalau sekarang sang Ibu sedang pergi liburan.


"Silahkan Non"


Safa masuk kedalam, rasanya ia rindu dengan rumah ini. Dulu saat sang Ayah masih hidup rumah ini seperti surga untuknya, Ayah dan Ibunya hidup rukun dan selalu memanjakan dirinya. Namun sekarang semua itu hanyalah hayalan saja. Kebahagiaan nya sudah lenyap.


Safa melewati ruang tamu, ia hendak menuju kamarnya namun suara seseorang berhasil menghentikan langkahnya.


"Eh masih berani juga Lo pulang, padahal kan udah di usir" ucap Sara kakak tiri Safa.


Safa berbalik "Inikan rumah ku ! jadi berhak dong kalau aku pulang" balas Safa ketus.


"Hahaha" Sara tertawa mengejek "Jangan ngehalu deh, jelas-jelas ini rumah sudah atas nama Papa gue, Lo itu gak berhak lagi tau gak sama rumah ini" sambung Sara membuat Safa sangat emosi.


"Terserah !! lagian aku cuman pulang bentar, cuman mau ngambil barang-barang aku" setelah mengatakan itu Safa berlalu dari hadapan Sara. Ia langsung menuju kamarnya.


Tak disangka Sara mengikuti langkah kaki Safa, ia memperhatikan Safa yang memasukan pakaian nya.

__ADS_1


"Apaan tu" Safa langsung mengambil sebuah buku tabungan yang sedang Safa pegang.


"Kembalikan itu punyaku !!" Safa hendak merebut kembali buku tabungan nya, namun dengan cepat Sara mengangkat tangan nya keatas. Tinggi badan Safa memang tak sama dengan Sara.


"Kok gue gak tau ya kalau Lo punya tabungan sebanyak ini" ucap Sara yang kaget melihat jumla uang yang ada di tabungan Safa.


"Kembalikan Kak Sara !! itu satu-satunya tabungan ku, tolong jangan di ambil"


"Enggak mau !! ini akan menjadi milikku" Safa masih saja mengelak saat Safa akan merebut buku tabungan itu.


"Mana ATM nya ? dan berapa pinnya ?" tanya Sara


"Sampai kapanpun aku gak akan ngasih tau semua itu sama kamu, apa kamu gak puas nguasain semua harta ayah aku ? rumah, toko dan kekayaan Ayah sudah kalian rebut semua. Bahkan kasih sayang ibu juga kalian rebut apa kamu belum puas" teriak Safa dengan linangan air mata.


"Gue gak akan puas Safa, bahkan gue senang lihat Lo menderita kek gini" Sara kembali menertawakan Safa.


"Tolong kembalikan buku tabungan ku !!" pinta Safa kembali, kali ini ia menurunkan suaranya berharap Sara akan iba dan mau mengembalikan buku tabungan nya.


Safa sangat memerlukan uang yang ada di tabungan nya, itu adalah sala satu peninggalkan Ayah yang masih ia simpan..Memang dulu saat sang Ayah masih hidup setiap bulan ia akan selalu mengirimkan uang ke tabungan Safa. Namun sayangnya itu atas nama Ibunya Safa


"Enggak akan aku kembalikan !! ini punyaku !" Sara pergi sambil membawa buku tabungan Safa.


"Tolong kak Sara kembalikan tabungan itu" ucap Safa yang berlutut di kaki Sara.


"Kalau aku bilang enggak ya enggak. Tidak apa-apa kamu gak akan berikan ATM sama pin nya karena ibu kamu pasti bisa ngambil uang ini"


-----


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


...KASIH HADIA (BUNGA / KOPI)...

__ADS_1


__ADS_2