
Febri kembali terdiam untuk beberapa saat, sementara Safa yang melihat reaksi Febri langsung paham bahwa laki-laki itu tak pernah mencintainya.
"Aku mau pisah sama kamu Mas" ucap Safa membuat Febri kaget.
"Jangan bicara seperti itu Fa, Mas sayang sama kamu, dan lagi pula saat ini kamu sedang mengandung" balas Febri yang tak suka mendengar ucapan Sang istri.
Safa menatap wajah suaminya, mereka belum juga pergi dari keramaian itu, walau sesekali beberapa pengunjung menatap kearah mereka.
Namun tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan perdebatan antara Febri dan Safa. Dia adalah Putri teman satu pekerjaan dengan Desi.
Putri memang tak ikut ke acara bersama Desi dan yang lain, ia memilih tetap tinggal di Solo bersama sang suami dan madunya.
"Itukan Febri suaminya Desi, dia bersama siapa ya ? sepertinya mereka dekat sekali" gumam Putri penasaran.
"Lebih baik aku foto lah terus kirim ke Desi"
Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya Putri langsung mengambil foto antara Febri dan Safa. Dan situasi nya sangat pas karena saat ini Febri sedang menggenggam kedua tangan Safa.
"Wooow.. Mereka ada hubungan apa ya ?"
"Desi harus tau nih"
Secepat kilat Putri mengirimkan foto Febri bersama Safa kepada Desi. Niat Putri hanya ingin Desi tau kalau suaminya tidak sebaik yang Desi pikirkan.
********
"Sekali lagi maafkan Mas ya Fa !! Mas janji mulai sekarang akan lebih peka terhadap perasaan mu"
"Buktikan Mas, jangan hanya bicara saja"
Febri mengangguk,ia kembali mengecup kedua tangan istrinya.
"Ya sudah yuk katanya mau pulang, Mas anterin"
"Anterin ? memangnya Mas mau kemana ?" tanya Safa heran
"Mas ada kerjaan sedikit di luar, enggak lama kok, nanti langsung pulang lagi ke Apartemen"
"Oh" Safa tak lagi bertanya lebih, ia tahu suaminya itu seorang dokter terkenal, Febri pasti banyak kerjaan lain di luar sana yang tidak Safa ketahui.
Tanpa memperoleh satu barangpun, keduanya langsung pulang. Di perjalanan Safa lebih banyak diam, tak membuka suara ataupun bertanya apapun kepada Febri.
"Kok diam terus Fa, masih marah ya sama Mas ?"
"Enggak kok Mas, Aku cuman capek aja"
"Kamu tidur aja kalau gitu, entar kalau udah sampai apartemen Mas bangunkan"
Mungkin karena lelah dan perasaan campur aduk, Safa akhirnya memejamkan matanya. Sementara Febri langsung fokus kejalanan. Sesekali ia melirik kearah Safa dan mengelus perut buncit Safa.
__ADS_1
Rasanya sudah gak sabar untuk bertemu dengan anaknya, masih tersisa waktu 4 bulan lagi.
"Sehat terus ya anak Ayah ! nanti kalau kamu sudah lahir Ayah janji akan menuruti semua yang kamu minta" gumam Febri.
Mobil memasuki halaman parkir apartemen, Setelah menghentikan mobilnya Febri langsung membangunkan Safa. Sebenarnya ia tak tega tapi mau bagaimana lagi, Febri tidak akan kuat menggendong Safa. Mungkin dulu iya Febri kuat karena Safa masih kurus namun semenjak hamil Safa menjadi gendut.
"Sayang, bangun yuk udah sampai nih" Febri mengelus pipi kanan Safa dengan lembut.
"Emmmm" Safa menggeliat, ia mulai membuka matanya.
"Sudah sampai ya Mas ?" tanya Safa dengan suara serak.
"Iya Sayang, sudah sampai yuk turun ! nanti di lanjut lagi tidurnya !"
"Baik Mas"
Febri dan Safa turun dari mobil, dan melangkah memasuki apartemen, Safa masih sangat mengantuk dan kepalanya mendadak pusing akibat tidur sebentar.
*********
"Apa-apaan ini ?" bentak Desi terkejut.
Bagaimana tak terkejut karena saat ia membuka chat dari Putri. Mata Desi langsung di berikan penampakan foto sang suami yang sedang bersama perempuan lain.
"Mas Febri sama siapa, gak mungkin dia selingkuhin aku"
"Kamu kenapa Des ? kok wajah kamu berubah seperti itu ?" tanya Tata heran.
"Tuh lihat sendiri, sih Putri kirimin aku foto suami aku bersama perempuan lain" Desi memberikan ponselnya pada Tata.
"Oh My good.. Ini beneran Febri ? ya tuhan gue gak nyangka kalau Febri berpaling dari kamu"
"Jangan ngomong gitu dulu Ta, siapa tau kan itu hanya teman kerjanya"
"Kalau teman kerja kenapa pakai pegangan tangan segala coba ? tapi coba perhatikan kok bentuk perut sih cewek kaya orang hamil ya Des ?"
"Masa sih, coba aku lihat lagi"
Desi kembali meraih ponselnya, ia langsung Zoom foto sang suami dengan Safa,.benar memang kalau disana terlihat sekali bahwa perut Safa buncit.
"Lebih baik aku telepon sih Putri minta kejelasan"
Hanya satu kali panggilan Putri langsung menjawab telepon dari Desi.
"Halo Put, Kamu dapat foto Mas Febri dari siapa ?" tanya Desi langsung.
"Ya aku sendiri lah yang ambil foto itu Des, bahkan aku lihat dengan jelas suami kamu mencium tangan perempuan itu"
"Kamu gak ngada-ngada kan Put ? aku masih belum percaya tau gak ?"
__ADS_1
"Makanya kamu pulang aja cari tau sendiri, tapi kamu jangan kasih tau Febri kalau kamu pulang biar kamu tau dia seperti apa"
"Iya aku pulang hari ini"
Desi begitu marah dan kecewa jika memang suaminya melakukan itu. Desi berjanji akan menyingkirkan siapa saja perempuan yang membuat suaminya berpaling dari nya.
Sampai kapanpun Desi tak akan rela jika di madu, apalagi sampai ada perempuan lain yang memberikan anak untuk Febri. Jika Desi tak bisa memberikan anak untuk Febri maka perempuan lain juga jangan.
"Sabar ya Des ! semoga aja itu gak benar" Tata mengelus pundak Desi dengan pelan.
"Iya Ta, semoga saja itu gak benar dan itu hanya teman Mas Febri saja"
"Jadi kamu mau duluan pulang hari ini ?"
"Iya Ta,.aku gak tenang kalau gak pulang, aku ingin mastiin semuanya"
"Yaaa. Gak enak deh kalau gak ada kamu"
"Kan masih ada teman-teman yang lain"
*********
Sesampai di apartemen Febri kembali pergi, entah apa yang akan di lakukan pria itu, tapi Safa tak peduli dan tak ingin bertanya apa-apa.
Bahkan Safa pun tak bertanya apa Febri akan kembali ke apartemen atau pulang kerumahnya.
Seperti biasa saat sendiri seperti ini Safa akan berdiam diri di kamar dan menghadap keluar jendela, gedung-gedung pencakar langit yang selalu menjadi temannya.
"Entah sampai kapan semua ini seperti ini ?"
"Bagaimana nanti setelah anak ini lahir dan Mas Febri menceraikan aku, setelah itu aku di pisahkan darinya"
"Enggak itu gak boleh terjadi"
Safa menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai negatif, ia tak ingin berpisah dengan anaknya, kalau sampai Febri melakukan itu Safa berjanji akan melakukan apa saja untuk bertahan dengan anaknya
Triiiing.
Tiba-tiba ponsel Safa berbunyi tanda ada pesan masuk, dengan segera Safa melihatnya.
"Lagi ngapain ? sudah pulang belum jalan-jalannya ?"
Safa tersenyum membaca pesan dari Orlando.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1