
Orlando menunggu dokter memeriksa Safa hampir 1 jam lamanya, membuat laki-laki itu khawatir sekali.
Hingga akhirnya sang doktet keluar dengan cepat Orlando berdiri dan mendekati dokter Wulan.
"Bagaimana keadaan Safa dan bayinya dok ?" tanya Orlando.
"Alhamdulillah bayinya bisa di selamatkan walaupun keadaannya masih lemah, tapi kami akan selalu memantau kondisinya. Tapi Ibu Safa keadaan nya kritis, banyak darah yang ia keluarkan dan juga benturan di kepalanya yang begitu kuat sehingga ada pembekuan darah di otaknya" jelas Dokter Wulan.
"Tapi masih bisa di selamatkan ? terus tindakan apa yang akan kalian ambil ?"
"Kami akan berusaha menyelematkan Safa serta bayinya"
Orlando mengusap wajahnya dengan gusar, ia begitu tak tenang memikirkan wanita cantik itu.
"Boleh saya lihat keadaan Safa sekarang dok ?"
"Silahkan ! tapi jangan lama-lama karena perawat kami akan memindahkan ibu Safa keruang perawatan"
Orlando mengangguk, ia pun langsung masuk kedalam ruangan IGD dimana saat ini Safa sedang terbaring lemah di atas brankar kecil itu, matanya tertutup rapat dan hidung tertutup dengan selang oksigen. Sungguh Orlando tak kuat melihat keadaan Safa seperti ini jika ia ia ingin memilih biar dia saja yang menggantikan Safa.
"Kedua wanita itu harus membayar semua ini dengan setimpal" gumam Orlando dengan menggepalkan kedua tangannya.
Orlando mengelus kepala Safa dengan lembut "Kamu gak akan marah kan sama aku kalau aku bawa kamu ke Thailand ? aku lakukan semua ini untuk melindungi kamu Fa"
"Sungguh aku begitu gak kuat melihat kamu tersiksa seperti ini"
*********
Sementara itu Desi dan Sara baru saja selesai membersihkan sisa darah bekas tubuh Safa. Dan tinggal membereskan apartemen yang berantakan akibat ulah mereka hanya untuk melenyapkan Safa.
Entah setan apa yang merasuki keduanya, Desi yang tadinya merasa ketakutan sekarang malah tersenyum senang.
"Aku harap Safa pergi aja dari dunia ini" Ucap Desi.
"Betul itu Tante, biar dia gak ganggu rumah tangga kalian lagi"
Desi tersenyum "Sekarang aku gak perlu takut berbagi suami, karena Safa sudah pergi"
__ADS_1
"Terus bagaimana kalau laki-laki yang menolong Safa tadi melaporkan kita kepolisi Tante ? aku gak mau ya masuk penjara"
"Kamu tenang saja, laki-laki itu tidak akan bisa melaporkan kita ke polisi karena dia tidak punya bukti, dan polisi tidak akan menerima tuntuan darinya jika tanpa bukti yang kuat"
Mendengar hal itu Sara tersenyum legah, ia tak perlu takut akan masuk penjara karena telah menganiaya Safa.
"Sudah beres semua kan ? ayo kita pulang !" Ajak Desi tak lupa Desi membawa pecahan kaca dan kain yang ia gunakan untuk membersihkan sisa darah.
Sara mengangguk mereka berdua langsung keluar dan meninggalkan apartemen itu dan bersikap biasa saja, tapi saat diluar tak sengaja mata Sara menangkap ada CCTV yang mengara ke apartemen.
"Tante lihat itu, ada CCTV" tunjuk Sara.
Desi mengikuti arah tunjuk Sara, ia terkejut karena dulu setau Desi di apartemen ini tak ada CCTV.
Saat keduanya panik petugas Apartemen lewat, Desi segera menghentikan nya.
"Mas maaf, apa CCTV ini masih berpungsi ?" tanya Desi.
"Masih Bu, tapi udah mau seminggu ini CCTV ini rusak hari ini baru akan di benari"
"Oh, makasih Mas"
*******
"Kenapa pikiran ku gak tenang ya ? aku selalu memikirkan Safa" gumam Febri.
Degup jantungnya terus berpacu dengan kuat, pikirannya gelisah dan tidak tenang sama sekali. Bayangan wajah Safa terus hadir di ingatan nya.
"Semoga dia baik-baik saja, lebih baik aku menyelesaikan pekerjaan ini supaya aku bisa cepat pulang dan menemui Safa"
Febri kembali melanjutkan pekerjaan nya walau dengan keadaan yang gelisa seperti ini, ia berusaha semaksimal mungkin supaya tidak ada yang salah dengan kerjaan nya.
Febri yakin kalau perasaan gelisa nya karena ia terlalu merindukan Safa, dan juga calon anaknya kelak.
*******
Orlando baru saja selesai menghubungi kedua orang tuanya untuk mengatakan kalau ia akan membawa Safa ke Thailand. Beruntung kedua orang tua Orlando menyetujui dan akan segera menyiapkan rumah sakit terbaik untuk perawatan Safa nantinya.
__ADS_1
Setelah itu Orlando berbicara pada pihak rumah sakit kalau Safa akan di bawa keluar negeri saja, semua ini memang terlihat dadakan akan tetapi Orlando ingin yang terbaik untuk Safa.
Sebenarnya bisa saja Orlando menghubungi suami Safa dan menceritakan apa yang Safa alami barusan, tapi itu terlalu menguras tenaga akhirnya Orlando membawa Safa keluar negeri saja dan akan kembali ke indonesi sambil melaporkan dua wanita yang telah membuat Safa seperti ini.
"Bagaimana dok ? apa bisa pasien saya bawa ke Luar negeri ?" tanya Orlando berulang.
Dokter Wulan masih terus memeriksa keadaan Safa juga janin di kandungan Safa "Sebenarnya agak rawan sih Pak kalau membawa Ibu Safa dengan keadaan nya seperti ini, tapi kalau Bapak begitu nekat saya akan ikut untuk mengantarkan hanya untuk memastikan keadaan ibu Safa di jalan"
"Baik saya setuju, siapkan saja perlengkapan Safa lainnya, masalah penerbangan biar saya yang urus"
Dokter Wulan mengangguk, setelah itu Orlando pergi keluar untuk mengurus penerbangan nya ke Thailand. Keluarga Orlando memang mempunyi pesawat pribadi sehingga muda bagi Orlando untuk membawa Safa.
"Aku akan segera kesana Mom ! tolong siapkan semuanya !" pinta Orlando yang kembali menelpon sang Momy
"Baik Nak ! akan kami siapkan, kau jaga saja wanita itu"
"Siap Mom"
Sebelum berangkat Orlando pulang ke apartemen dulu, ia ingin ke apartemen Safa untuk mencari sesuatu.
Tidak berapa lama Orlando sudah sampai di apartemen Safa, laki-laki itu tersenyum saat melihat apartemen Safa sudah rapih, bersih seperti sedia kala.
"Mereka berdua memang wanita licik dan pintar, tapi kalian lupa kalau Orlando lebih licik dari kalian. Kalian kira dengan membersihkan apartemen ini kalian bisa bebas begitu saja." gumam Orlando.
"Untuk saat ini aku akan membiarkan kalian berkeliaran dulu, tapi semua itu tidak akan bertahan lama karena aku akan kembali dengan menyiksa kalian"
Orlando balik dan meninggalkan apartemen Safa lalu masuk ke apartemen nya, ia membereskan berkas-berkasa penting yang sepertinya harus ia bawa ke Thailand.
Orlando akan tinggal di thailand untuk sementara sampai Safa sadar.
"Mudah-mudahan jika Safa sadar nanti dia tidak akan marah kalau aku membawa nya kabur !"
"Aku cuman ingin melakukan yang terbaik untuknya. Aku cuman ingin melindungi dia dan bayinya"
Selesai membereskan berkas-berkas penting Orlando kembali keluar tak lupa mengunci pintu, saat akan memasuki lift ia berpapasan dengan Febri yang baru saja keluar dari Lift.
---
__ADS_1
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...