
Hari ini Sara dan Desi ketemuan di kafe, awalnya Desi menolak karena dia harus bekerja namun Sara memaksa dan mengancam Desi.
Hingga akhirnya Desi menyetujui keinginan Sara untuk bertemu dari pada Sara membongkar semuanya pada sang suami.
"Ada apa sih kamu minta ketemuan ? saya tuh sibuk mau kerja" ucap Desi dengan nada kesal.
"Aku mau liburan"
Desi menatap sinis kearah Sara "Ya terus apa hubungan dengan ku, kalau kamu mau liburan ya silahkan ngapain harus ketemuan dulu sama aku, buang-buang waktu tau gak"
"Ya jelaslah ada hubungan nya sama Tante, soalnya aku mau liburan dan Tante yang harus menanggung semua biaya aku liburan" Sara terlihat santai saat mengucapkan itu.
Berbeda dengan Desi yang kaget mendengarnya "Kau gila ya ? kamu lupa kalau saya ini adalah orang asing, ya kalau kamu mau liburan kenapa gak minta sama kedua orang tua kamu ? saya mah Ogah ya biayain kamu liburan mending uangnya buat aku liburan sendiri" Bentak Desi geram.
"Ya sudah kalau Tante gak mau aku akan bongkar sama suami Tante kalau Tante yang menyebabkan Safa pergi. Aku punya lo foto-foto saat Tante membersihkan darah di lantai waktu itu"
Desi langsung menatap tajam kearah Sara, ia telah salah menilai wanita itu selama ini. Ia pikir Sara bukanlah perempuan licik namun ternyata semua dugaan nya tentang Sara salah
"Memangnya kenapa sih kamu mau minta liburan ?" tanya Desi sedikit memelan kan suaranya.
"Aku mau menenangkan diri Tante dari hantunya Safa, udah dua hari ini ada yang ngirimin aku paket misterius dan semalam aku di hantuin sama Safa dan anaknya, makanya aku mau liburan supaya hantu nya gak ganggu aku lagi" jelas Sara
"Berarti semalam bukan cuman aku yang di datangi suara menyeramkan itu, Sara juga" batin Desi.
"Semua ini kan gara-gara Tante, jadi Tante harus tanggung jawab" lanjut Sara lagi.
"Eh kamu lupa ya, yang menginginkan kematian Safa bukan cuman saya ya ? tapi kamu juga dan rencana ini kita berdua yang ngatur kenapa sekarang kamu nyalahin saya ?" kembali Desi membentak karena tak terima dengan ucapan Sara.
Bisa-bisanya Sara menyalahkan Desi atas semua yang terjadi, padahal mereka berdua yang merencanakan semua ini. Desi geram ingin sekali dirinya mencekik wanita itu.
"Pokoknya apapun alasan nya Tante harus menanggung semua biaya aku liburan, kalau enggak siap-siapa mendekam di penjara dan di ceraikan sama suami Tante" Sara tersenyum lalu berdiri dari duduknya membuat Desi mendongak.
__ADS_1
Sara terlihat menulis sesuatu pada selembar kertas yang ia keluarkan dari dalam tasnya, entah apa itu Desi pun tak ingin tahu. Setelah selesai Sara menggeser kertas itu kehadapan Desi.
"Ini nomer rekening ku Tante jangan lupa transfer yang banyak, Tante bisa hitung dulu berapa kira-kira uang yang akan aku habiskan untuk liburan" Bisik Sara dengan tersenyum licik.
"Oh ya aku lupa, aku mau ke korea Tante" Sara menepuk pundak Desi dengan pelan namun dengan cepat Desi menghindar. Ia begitu kesal dengan sikap Sara.
"Aku tunggu sampai nanti malam ya Tante kalau Tante belum mentransfernya, siap-siap kehilangan semuanya" Setelah itu Sara melenggang pergi dengan senyum merekah di wajahnya, berbeda dengan Desi yang langsung mengeluarkan sumpah serapa di hatinya.
"Awas kamu Sara, aku juga akan mencari bukti untuk melaporkan kejahatan kamu"
*********
Febri melirik jam di tangan nya, waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, Ia sudah selesai melakukan pekerjaan nya di Klinik dan akan dilanjut jam 04 sore nanti di rumah sakit. Febri memutuskan untuk pulang ke apartemen ia ingin menghirup aroma tubuh Safa yang menempel pada seprai dikamar itu.
Tak ingin menunggu lama Febri langsung meluncur ke apartemen, sesampai disana ia bertemu dengan Orlando yang baru saja selesai membeli makan siang. Keduanya masuk kedalam lift yang sama.
Orlando sibuk dengan ponselnya sementara Febri sibuk mencuri pandang pada Orlando, ia ingin bertanya pada laki-laki itu tapi entah kenapa Febri merasa sungkan.
Orlando memasukan ponselnya, ia menoleh kearah Febri "Bertanya apa ya ?"
"Apa kau pernah melihat istriku maksudku Safa, setau saya anda kan dekat dengan nya"
"Saya tidak pernah lihat, terakhir bertemu waktu Safa pulang dari rumah sakit dan setelah itu saya gak pernah bertemu lagi, saya pikir kamu yang menyuruh Safa tinggal" jawab Orlando dengan kebohongan, ia begitu jago ekting sampai-sampai Febri langsung percaya begitu saja
Febri menghela nafas panjang mendengar jawaban Orlando "Safa menghilang dan sampai sekarang belum saya temukan" ucap Febri lirih.
Entah kenapa melihat Febri yang seperti ini ada rasa kasihan di hati Orlando, apalagi saat teringat dengan cerita Safa kalau suaminya ini sangat menginginkan seorang anak. Akan tetapi jika mengingat bagaimana perlakuan Febri ke Safa membuat api kemarahan Orlando memuncak. Wajah memar Safa akibat tamparan sang suami masih sering terlintas di pikiran nya.
"Apa anda sudah mencarinya ?" tanya Orlando berbarengan dengan terbukanya pintu lift.
"Sudah, saya sudah mencarinya bahkan saya mendatangi rumah kedua orang tuanya tapi Safa tak juga aku temukan. Entahlah Safa kemana ? dia menghilang seperti di telan bumi" jawab Febri
__ADS_1
"Dia gak bakalan kamu temukan di kota ini, karena dia ada di negara ku, maafkan aku ya pak tua karena aku yang menyembunyikan istrimu" batin Orlando.
Keduanya berjalan beriringan menuju apartemen, sesampai di apartemen Safa, Orlando menghentikan langkahnya.
"Semoga Safa segera di temukan, saya turut sedih mendengarnya"
"Terima kasih, kalau begitu saya masuk dulu mau istirahat"
Orlando mengangguk, setelah Febri masuk ia menuju apartemennya, ia ingin menceritakan pada Safa kalau suaminya mencarinya, karena walau bagaimana pun Febri dan Safa masih Sah sebagai pasangan suami istri.
Kali ini Orlando melakukan sambungan video Call, ia tersenyum kearah camera saat wajah cantik Safa menghiasi layar ponselnya.
"Ada apa Ndo ?" tanya Safa.
"Aku cuman mau bilang, tadi aku ketemu sama suami kamu, dan dia nanyain kamu ke aku"
"Terus kamu bilang kalau aku ada di thailand ?"
"Ya enggak dong, aku cuman bilang kalau aku gak tau kamu pergi kemana, dia sedih banget kayanya Fa, terlihat sekali raut di wajahnya"
Safa terlihat menunduk "Kasihan Mas Febri, dia mungkin gak nyariin aku Ndo, tapi dia nyariin anak di kandungan aku"
"Tapi dia nanyain kamu Fa, sumpah aku ngerasa berdosa banget udah bawa kamu kabur Fa"
"Ini bukan salah kamu Ndo, ini salah Mas Febri yang gak bisa jadi suami yang baik untuk aku. Aku sudah memutuskan setelah anak ini lahir aku akan menggugat cerai Mas Febri, aku akan mencari kehidupan baru tanpa menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang"
-----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1