Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 71


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam 25 menit, kini Orlando, Safa dan Arnold tiba di Bandara Soekarno Hatta. Sebuah mobil sudah menunggu mereka di Parkiran Bandara untuk mengantarkan ke Kota Solo.


Arnold tampak tak bersemangat saat tiba di Indonesia, walaupun Safa terus membujuknya dengan mengatakan akan mengajak Arnold jalan-jalan. Akan tetapi bocah lima tahun itu tetap ingin kembali ke Negara Thailand.


"Gak enak disini Bunda" gerutu Arnold saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Dengan lembut Safa mengelus rambut Arnold "Nanti kalau udah lama Ar pasti ngerasa enak, percaya sama Bunda"


Orlando yang duduk di depan menoleh "Kalau sudah sampai Solo Papa ajak jalan-jalan ya !"


"Males, pasti tempatnya gak sebagus di sana


"Kata siapa ? Tanah kelahiran Bunda juga banyak kok tempat bagus" Sahut Safa


Arnold kembali diam, kepalanya ia sandarkan didada sang Bunda. Arnold sama sekali enggan untuk memperhatikan sekitar.


Sementara Safa terus mengelus kepala Arnold dengan penuh kasih sayang, ia paham perasaan putranya itu, selama ini Arnold dibesarkan di negara Thailand mungkin ia enggan untuk bersosialisasi lagi.


********


Beberapa jam kemudian mereka semua sudah tiba di kota Solo, kota yang sangat Safa rindukan selama ini. Sudah 5 tahun lebih ia meninggalkan kota ini, ternyata sudah ada perubahan membuat Safa tak berkedip menatap sekitar.


Saat berada di lampu merah dan mobil berhenti, Safa tak sengaja menatap kesamping, sebuah mobil yang sangat Safa kenal tengah berhenti tepat di samping mobilnya. Jantung Safa berdetak kencang, perasaan nya bergemuruh tak karuan.


Ternyata waktu lima tahun berpisah ia masih sangat mengenali mobil Febri.


"Bunda buka jendelanya, Ar mau muntah !!" ucap Arnold tiba-tiba.


"Tahan dulu ya Nak ! kita akan segera tiba !" balas Safa, ia takut membuka kaca jendela karena belum ingin Febri mengetahui kalau ia telah kembali ke kota Solo.


"Tapi Ar sudah gak tahan Bunda !! ayo Buka !"


Sebelum Safa sempat mencegah kaca jendela sudah terbuka dengan lebar, membuat Safa langsung menunduk sementara Arnold mendekat kearah jendela dengan menghirup udara segar.


Febri yang saat itu sedang menunggu lampu berubah berwarna hijau tak sengaja menatap ke samping, ia tersenyum kearah boca laki-laki yang tengah memejamkan matanya seperti menikmati udara di luar mobil.


"Kenapa aku teringat dengan masa kecilku ? saat melihat kebiasaan bocah itu, dulu aku juga sering melakukannya saat mabuk perjalanan" gumam Febri yang tak berkedip menatap kearah Arnold.


Tak berselang lama lampu berubah hijau, seperti sebuah kebiasaan suara klakson dari pengendara lainnya saling bersahutan.. Mobil di samping Febri telah melaju sementara dirinya masih tetap bergeming.

__ADS_1


Din--Din-Din.


Febri tersentak kaget saat sebuah mobil membunyikan klakson berulang, ia baru sadar kalau sudah saatnya mobilnya bergerak.


"Aiiisssttt, karena begitu memperhatikan boca itu, aku sampai membuat orang lain marah"


Di mobil Safa, wanita itu sudah bisa bernafas legah karena mobil kembali melaju.


"Bunda kenapa sih ? dari tadi sembunyi mulu" tanya Arnold heran.


"Iya kamu kenapa Fa ?" Orlando pun ikut bertanya.


"Tadi aku melihat mobil mas Febri, dia tepat disamping mobil kita makanya aku nyumput" jawab Safa.


"Oh, ku kira ada apa"


"Ternyata sekian lama kamu berpisah dengan Febri, kamu masih begitu hapal dengan kendaraan pribadinya Fa ? apa mungkin aku harus benar-benar mengubur semua rasa ini" Batin.Orlando lirih.


**********


Sebuah rumah minimalis dengan dua lantai sudah Orlando siapkan sejak awal, ia membeli rumah ini untuk tempat tinggal Safa dan Arnold karena Orlando tau Safa tak punya tempat tinggal.


Safa melirik sekitar "Loh kita di rumah siapa Ndo ? bukankah kita akan ke apartemen ?".tanya Safa heran.


"Ini rumah kalian, hadia dari Dady. Ya kali aku bawa kamu keapartemen" jawab Orlando berbohong, ia sengaja melakukan itu karena kalau ia bilang kalau rumah ini adalah beliannya otomatis Safa akan menolak.


"Ayo turun Bunda ! Ar sudah capek sekali" sahut Arnold.


Orlando turun duluan, ia membukakan pintu belakang dan segera menggendong Arnold.


"Ni kuncinya Fa, kamu buka sana pintunya !" pinta Orlando dengan memberikan kunci rumah kepada Safa.


Safa menerima kunci rumah itu lalu berjalan dan membukanya.


"Yuk masuk" ajak Orlando.


Dengan langkah yang pelan Safa memasuki rumah itu, ia tak menyangka kalau Aroon akan membelikan sebuah rumah yang begitu mewah.


"Perlengkapannya udah lengkap Fa, tapi kalau mau di tambah ya terserah kamu, masih luas kok tempatnya" ucap Orlando.

__ADS_1


"Ada 4 kamar disini, dua di lantai atas dan dua di lantai bawah ! nanti kamu cari Art buat bantuin kamu" sambung Orlando lagi.


"Iya Ndo, aku mengucapkan banyak terima kasih karena kamu sekeluarga baik banget sama aku dan Arnold, entah bagaimana caranya aku bisa membalas kebaikan kalian"


"Cukup jangan kembali dengan Febri dan kamu mau menerima aku sebagai suami kamu Fa" batin Orlando.


*********


Setelah membantu Safa berberes dan memastikan Arnold tertidur Orlando pamit untuk pulang ke apartemen..Ia tidak mungkin menginap di rumah ini karena dirinya dan Safa tidak ada hubungan apa-apa


Kini Safa melanjutkan memasukan pakaianya kedalam lemari, sesekali ia menoleh ke arah Arnold yang sudah terlelap di atas kasur. Sesungguhnya Safa juga merasa lelah tapi ia ingin membereskan semuanya malam ini biar besok ia bisa sedikit bersantai.


Sementara Orlando sudah tiba di Apartemen, memang jarak dari rumah yang ia beli untuk Safa tidaklah begitu jauh. Saat akan naik ke lantai lima Orlando bertemu dengan Febri di dalam lift.


"Sudah lama kamu tidak kelihatan" ucap Febri menegur terlebih dahulu.


"Iya Mas, saya pulang ke negara saya, dan ini saya kembali soalnya ada kerjaan" balas Orlando tersenyum getir.


"Oh"


"Mas tinggal di sini sekarang ?"


"Iya, sudah lama, saya ingin menunggu Safa pulang tapi ternyata sudah 5 tahun lebih dia juga belum ada kabar" Febri menunduk, raut kesedihan begitu nampak di wajahnya membuat Orlando merasa bersalah karena telah menyembunyikan Safa selama ini.


Orlando tak menjawab karena bingung harus menjawab apa, sampai pintu lift terbuka keduanya sama-sama diam.


Febri keluar lebih dulu, membuat Orlando memperhatikan penampilan Febri, laki-laki itu tidak sama dengan Febri yang ia temui beberapa tahun yang lalu. Febri terlihat lebih kurus seperti tak terawat.


"Dia tinggal di apartemen selama ini, apa itu berarti dia sudah tidak bersama dengan istrinya yang kejam itu" batin Orlando.


Orlando melangkah namun matanya terus memperhatikan Febri sampai laki-laki itu masuk kedalam apartemennya, baru lah tatapan mata Orlando teralih.


"Sepertinya aku harus secepatnya menyuruh Safa menemui Febri, supaya aku tak merasa bersalah seperti ini"


_____


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


...KASIH HADIA (KOPI/BUNGA)...


__ADS_2