
Safa langsung terdiam mendengar apa yang barusan ia dengar. Ia menatap punggung kekar milik Orlando dengan seksama.
"Kamu bohong kan Ndo ?" tanya Safa.
"Mana mungkin aku bohong Fa, kamu nya aja yang gak peka, selama ini aku perhatian sama kamu karena aku cinta sama kamu Fa"
"Jadi selama ini kamu baik sama aku karena ada tujuannya Ndo ? ku kira kamu tulus bantu aku dan tak mengharapkan apa-apa dariku"
Orlando menoleh, mata keduanya saling memandang.
"Aku tulus bantuin kamu Fa, Cinta yang aku berikan padamu itu juga tulus. Selama ini aku tak mengharapkan balasan padamu bahkan sampai sekarang, makanya aku ingin menjauh darimu dan Arnold" Jelas Orlando menggebu.
"Asal kamu tau hatiku sakit saat mendengar kalau kamu masih mencintai mantan suami kamu itu Fa, padahal kalian sudah berpisah sangat lama dan bahkan dia sudah menyakiti kamu, tapi kamu masih saja mencintai dia"
"Sedangkan aku" Orlando menunjuk dirinya sendiri "Aku yang selalu ada buat kamu, selalu baik sama kamu tak pernah sedikitpun mendapatkan cinta dari kamu Fa"
Safa mencerna setiap ucapan dari Orlando, ada rasa bersalah dari diri Safa karena ia tak pernah peka terhadap perasaan laki-laki itu.
Harusnya ia sadar kalau lelaki sudah baik pada seorang wanita, pasti ada perasaan lebih. Dan bodohnya Safa tak pernah mengerti akan semua itu.
Dan sekarang Safa di ambang kebingungan, ia sudah banyak berhutang budi sama Orlando. Selama ini Orlando begitu banyak membantunya bahkan bukan banya Orlando tapi juga keluarganya.
"Kalau kamu sudah tidak ada keperluan lagi silahkan pulang Fa ! aku mau istirahat" ucap Orlando.
Safa masih saja terdiam, entah kata apa yang pantas untuk menjawab setiap ucapan yang Orlando katakan.
"Ndo, maafkan aku yang peka selama ini ! maaf karena aku gak peka terhadap perasaan mu" air mata Safa menetes membasahi pipinya.
"Tidak apa-apa, aku paham kok"
"Ndo, tolong kamu jangan menjauh ! bersikap lah seperti biasa Ndo, seperti dulu lagi ! kasian Arnold dia begitu sedih kalau kamu melakukan ini"
"Kan dia ada Ayah nya Fa, kamu lah yang menjelaskan semuanya pada Ar, aku yakin dia akan paham dan mengerti semua ini. Ar itu anak yang pintar" balas Orlando yang berusaha menyembunyikan semua rasa sesak didadanya.
Jemari Orlando menghapus air mata Safa yang menetes, laki-laki itu tersenyum.
"Udah ya jangan nangis lagi, aku gak papa kok. Kamu pulang sana entar di cariin sama Arnold" ucap Orlando sembari terkekeh pelan.
"Kamu ngusir aku Ndo ?"
"Iya. Hehe"
"Jahat banget sih"
__ADS_1
"Biarin"
Safa memanyunkan bibirnya, membuat Orlando begitu sangat gemas.
"Boleh gak aku peluk kamu Fa ?" tanya Orlando sedikit ragu.
"Bo--leh" jawab Safa.
Orlando mendekat, ia langsung menarik Safa kedalam pelukannya. Begitu erat dan rasanya Orlando tak ingin melepaskan kehangatan ini, jika ia bisa Orlando ingin menghentikan waktu supaya semua ini tak berakhir.
"Aku mencintaimu Fa, sangat mencintaimu. Aku akan selalu mendoakan setiap kebahagiaan mu." batin Orlando.
Detak jantung Orlando begitu jelas terdengar di telinga Safa, ia memejamkan matanya sembari menikmati semuanya.
"Aku akan berusaha membalas cinta kamu Ndo, walau sekarang rasa itu belum hadir tapi aku akan berusaha membalasnya, ini sebagai bentuk balas budi aku" batin Safa.
**********
Febri mengetok pintu rumah Safa berulang, hingga akhirnya pintu terbuka. Ada Wina yang menyambut kedatangannya.
"Safanya ada Bu ?" tanya Febri sopan.
"Safa keluar sebentar"
"Maaf saya tidak tahu, silahkan masuk ! ada Arnold kok didalam"
Febri mengangguk padahal dia ingin saat ia memberikan hadia yang ia bawa untuk Arnold di lihat oleh Safa, ia ingin mengambil hati Safa lagi agar mencintainya seperti dulu.
"Hai jagoan" Sapa Febri dengan senyum mengembang, ia mendekati Arnold yang sedang sibuk merangkai permainan nya.
"Mau Ayah bantu gak ?" tanya Febri lagi karena tak kunjung ada jawaban dari Arnold.
"Om ngapain sih datang terus kesini ? gak ada kerjaan apa ?" tanya Arnold cuek.
"Jangan panggil Om dong, panggil Ayah ! kan aku ini Ayah kamu"
Arnold melirik sinis kearah Febri, entah kenapa kata Ayah yang Febri ucapkan terdengar aneh di telinga Arnold. Karena memang selama ini sudah biasa dengan panggilan Papa itupun pada Orlando.
"Oh ya ini Ayah beliin Ar mainan, coba di buka !" Febri memberikan hadia yang ia bawa pada Arnold.
Bukan menerima nya Arnold justru kembali melirik sinis kearah Febri "Letakkan saja disana ! Om gak lihat ya kalau aku lagi ada kerjaan"
Mendengar jawaban Arnold membuat Febri emosi, apalagi Arnold kembali memanggilnya dengan sebutan Om bukan Ayah seperti yang ia inginkan.
__ADS_1
"Panggil Ayah Arnold ! kamu ini gak ngerti ya !" bentak Febri menggema.
Arnold yang memang takut dengan bentaka seseorang langsung berlari dan mencari Wina, ia berlindung di belakang Wina.
"Kamu ini jangan bentak-bentak Arnold dong ! bagaimana dia mau suka sama kamu kalau sikap kamu seperti ini" ucap Wina tak kalah emosi, ia memang mendengar dengan jelas bentakan Febri.
"Aku cuman ingin dia ngerti Bu, kalau aku ini Ayahnya dan aku ingin dia memanggil aku Ayah bukan Om. Lagian Safa apa gak ngajarin Arnold sih"
"Arnold itu masih kecil Febri ! harusnya kamu yang lebih sabar menghadapinya ! dan jangan salahkan Safa dalam hal ini"
Tatapan mata Febri begitu nyalang, ia begitu marah karena anaknya tak kunjung memanggilnya Ayah seperti yang ia harapkan. Bahkan jangankan memanggilnya Ayah sikap Arnold saja begitu dingin terhadap Febri.
"Assalamualaikum" tiba-tiba terdengar suara Safa dari ambang pintu.
"Waalaikumsalam" .jawab Febri dan Wina serempak.
Sementara Arnold langsung berlari dan memeluk Safa dengan erat. Ia masih saja ketakutan atas sikap Febri. Safa yang mengerti kondisi putranya langsung membalas pelukan Arnold.
"Kamu kenapa Nak ? kok ketakutan seperti ini ?" tanya Safa dengan lembut.
"Om itu bentak aku Bun, aku takut"
Safa langsung menatap Febri dengan tajam "Mas sudah ku bilang jangan tinggikan suara mu di hadapan Arnold kenapa kamu gak ngerti sih ?"
"Aku cuman mau ngajarin dia Fa, supaya dia bisa bersikap sopan padaku, aku ini Ayah nya bukan Om nya !"
"Tapi bisakan pelan-pelan ngasih tau Ar, dia takut kalau di bentak Mas"
"Kalau pelan Arnold gak bakalan ngerti Fa"
Safa menggelengkan kepalanya atas sikap Febri, ia pikir Febri akan sabar menghadapi Arnold. Wajar jika Arnold belum bisa mengakui Febri sebagai Ayahnya karena mereka baru saja bertemu.
"Ini semua salah kamu Fa" ucap Febri lagi.
"Kenapa salah aku ?"
"Karena kamu membawanya pergi dari hidupku, coba kalau dari dulu kamu gak menghilang mungkin Arnold gak akan seperti ini"
*****
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1