
Kekesalan Safa terhadap Orlando tak hanya sampai di warung bakso saja, karena saat Safa menuju tempat nasi padang Orlando pun ikut. Safa bukan tak suka dengan Orlando namun cara Orlando yang mendekatinya yang membuat Safa kesal.
"Bisa gak sih jangan ikutin aku terus ?" tanya Safa yang sudah tersulut emosi.
"Aduh cantik, makin ge'er deh. Sudah ku bilang kalau aku tak mengikutimu tapi memang tujuan kita sama" jawan Orlando santai.
"Ah, bodoh lah.. Terserah kamu aja !"
Safa berjalan duluan, kali ini di warung nasi padang ia tak makan di tempat, melainkan di bungkus. Safa masih mengingat kata-kata teman-teman SMA nya dulu kalau beli nasi padang yang di bungkus akan lebih banyak dari pada makan di tempat.
Orlando kembali mengikuti Safa, ia pun memesan satu bungkus nasi padang yang menu nya hampir sama dengan Safa.
"Katanya gak ngikutin aku, tapi itu apa ?" gumam Safa namun masih bisa di dengar oleh Orlando.
Orlando hanya membalas dengan senyuman. Selesai membayar pesanan Safa kembali ke apartemen. Saat di perjalanan Safa baru sadar kalau ia sudah sangat jauh dari apartemen.
Kakinya sudah sangat lelah untuk melangkah, namun untuk memesan ojek online nanggung. Perut Safa kembali bergejolak minta di keluarkan isinya tapi sebisa mungkin Safa menahan supaya tak memuntahkan isi perutnya di jalan.
Orlando menyadari perubahan Safa, apalagi saat Safa menahan mual membuat Orlando berpikir keras.
"Kamu kenapa ? sepertinya kamu ingin muntah ?" tanya Orlando.
Safa menggelengkan kepalanya, sebagai bentuk jawaban, karena kalau ia menjawab dengan ucapan otomatis Safa akan langsung memutahkan isi perutnya.
"Kalau gak enak teduh dulu, lihat wajah kamu pucat begitu".
Karena sudah tak tahan Safa akhirnya memuntahkan isi dalam perutnya, bakso yang sudah bercampur dengan makanan lain keluar dan mengenai kemeja Orlando.
"Uweekk--uweeek" entah sudah keberapa kali Safa mengeluarkan isi dalam perutnya, tubuhnya terasa sangat lelah sekarang.
"Maaf karena aku kemeja mu jadi kotor, nanti akan aku cuci" ucap Safa merasa bersalah.
"Jangan masalahkan itu, aku tidak apa-apa. Yang penting kesehatan kamu, apa perlu aku antar ke dokter ?"
"Tidak, karena ini memang harus aku jalani"
"Apa kau menderita sakit parah ? sehingga kau bicara seperti itu ?"
Safa menggeleng "Aku sekarang sedang mengandung, makanya aku mengalami mual dan muntah. Sekarang kamu percayakan kalau aku sudah bersuami"
Orlando terhenyak, ada rasa tak percaya namun ada juga perasaan tak percaya. Orlando bukan tak paham tentang mual dan muntah yang di alami saat hamil mudah.
"Ya sudah ayo kita pulang ! saya pesankan taksi aja ya".
"Tidak usah Orlando, aku masih kuat jalan, lagian tinggal dikit lagi akan sampai. Aku juga ingin membersihkan kemeja kamu dulu, memangnya kamu mau jalan dengan kemeja kotor seperti itu ?"
Orlando melirik kemejanya dimana sudah sangat kotor, apalagi aroma menyengat yang membuat siapapun jijik tapi tidak dengan Orlando. Ia dengan santai melepas kemejanya sehingga meninggalkan kaos putih polos yang masih melekat di tubuhnya.
"Sekarang udah gak kelihatan kan kalau kotor ?"
__ADS_1
Safa mengangguk.
"Jadi kita pulang sekarang !" sambung Orlando lagi.
Mereka berdua berjalan bersama menuju Apartemen, Safa seperti mempuanyai teman baru disini.
Tak berapa lama keduanya telah sampai di apartemen, saat Safa hendak masuk ke apartemennya, Orlando memanggil.
"Emmm Safa"
"Iya ada apa lagi ?"
"Nih" Orlando menyerahkan kemeja di tangannya "Katanya mau nyuciin kemeja aku, cuci yang bersih ya !!"
"Kirain lupa tadi" Balas Safa lirih, namun ia langsung menerima kemeja yang di berikan oleh Orlando.
"Ya sudah aku masuk, entar kalau udah kering aku kembalikan !"
"Ok"
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Sore hari Febri tiba di apartemennya, sekarang Safa mulai terbiasa, saat bertemu dengan sang suami Safa akan mencium punggung tangannya.
"Tadi kemana aja ?" tanya Febri sambil mendudukan diri di Sofa.
"Cuma ke warung bakso sama nasi padang Mas"
Safa berjalan kedapur untuk membuatkan suaminya teh hangat, setelah selesai Safa kembali mendekati Febri.
"Ngeteh dulu Mas !"
"Makasih sayang".
Untuk pertama kalinya saat ia menyandang status sebagai istri, Safa membuatkan suaminya minuman.
"Sini duduk dekat Mas ! Mas kangen sama seseorang di perut kamu"
Safa menurut ia duduk di samping Febri, dan ia merasakan telapak tangan Febri mengelus perutnya yang masih rata, ada sensasi lain yang Safa rasakan salah satunya adalah kenyamanan. Mungkin anak di kandungan Safa tau kalau yang mengelus nya adalah Ayahnya sendiri.
"Hari ini dia rewel gak ?"
"Sedikit Mas"
Febri terus mengelus perut Safa, sampai sesuatu lain di sentuh oleh Febri.
Safa yang merasakan sesuatu yang lain langsung menegang, begitupun dengan Febri yang menatap kearah Safa.
Pandangan keduanya beradu, Febri kembali mengelus sesuatu yang membuat tubuh Safa menegang. Tapi kali ini bukan hanya di elus melainkan di r*mas dengan pelan.
__ADS_1
"Kenapa ?" tanya Febri sambil tersenyum.
Safa menjawab dengan gelengan "Tidak apa-apa Mas"
"Lagi ?"
Safa ingin menolak namun entah kenapa relfleks kepala Safa mengangguk, membuat Febri tersenyum sementara Safa memalingkan wajahnya karena menahan malu.
Sekarang telapak tangan Febri menelusup pada kaos yang di kenakan Safa. Ia mencari sesuatu yang akan semakin membuat tubuh Safa tak karuan.
"Emmmmm" rintih Safa dengan suara tertahan.
Febri terus melakukan aksinya, bahkan saat ini kaos Safa sudah di buka dengan lebar, Febri mendekatkan wajahnya dan mencium pay*d*ra Safa.
Menyadari kalau kelakuan nya salah Febri langsung menghentikan aksinya, karena kalau sampai kebablasan kasian janin yang saat ini di kandung oleh Safa.
"Maaf Fa, harusnya Mas tak melakukan ini, karena Mas harus memikirkan anak kita" ucap Febri menyesali perbuatan nya.
"Iya Mas"
"Oh ya kamu ada makanan gak ? Mas laper soalnya ?" tanya Febri mengalihkan pembicaraan dan juga otaknya yang terus memikirkan hal lain.
"Aku sudah masak buat Mas, gak tau Mas suka atau tidak"
"Ya sudah yuk temenin Mas makan"
Safa mengangguk, ia dan Febri menuju meja makan untuk makan bersama.
"Malam ini Mas tak bisa menemani mu, karena Desi akan curiga"
"Iya, aku mengerti, tidak apa-apa"
Benar kata Yohan tadi kalau Febri ada istri lain yang akan selalu Febri utamakan. Sepertinya Safa jangan menaruh rasa pada suaminya itu, kelak jika mereka berpisah maka rasa sakit itu tidak akan terlalu besar ia rasakan.
"Kamu baik-baik disini, besok pagi Mas akan kesini lagi"
"Iya"
"Kalau malam-malam ada yang ngetok pintu jangan di buka ! apalagi kamu baru. Jika Mas yang datang Mas akan hubungin kamu dulu !"
"Iya"
"Secepatnya Mas akan nyariin kamu Art untuk nemenin dan bantuin kamu disini"
Tak ada kata lain yang dapat Safa ucapkan selain 'Iya'
-----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...