
✉️"Maaf ya Sayang malam ini Mas pulang kerumah Desi lagi"
Pesan singkat dari Febri baru saja Safa terima. Membuat perempuan itu menghela nafas panjang kemudian tersenyum masam.
Lagi dan lagi Febri kembali mengutamakan Desi, padahal disini Safa lah yang lebih membutuhkan perhatian Febri.
"Entahlah, biarkan semuanya berlalu seperti angin yang berlalu" gumam Safa.
Masakan yang baru saja ia hidangkan di atas meja kembali tertutup rapat, Safa sengaja masak banyak supaya suaminya pulang dan bahagia. Tapi nyatanya Febri tak pulang ke tempatnya.
Safa beranjak, dan meninggalkan dapur. Tujuan nya saat ini adalah tempat yang dekat apartemen Orlando. Setelah mengetahui ada tempat bagus untuk menenangkan diri Safa sering kesana.
************
"Pelakor itu pasti sedih karena Mas Febri selalu pulang ketempatku, lihat saja nanti akan aku buat Mas Febri selalu bersamaku" gumam Desi tersenyum bahagia.
Ini memang rencana Desi supaya Febri pulang kerumah dan bersamanya, ia akan membuat Safa merasa terabaikan oleh Febri.
Tidak berapa lama suara mobil Febri terdengar, dengan cepat Desi keluar untuk menyambut kedatangan sang suami.
"Hai Mas" ucap Desi sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ? kok bahagia sekali rasanya ?" tanya Febri heran.
"Memangnya aku gak boleh bahagia apa ?"
"Ya boleh dong Sayang, masa iya gak boleh" Febri mencubit hidung sang istri dengan gemas.
"Hehe, yuk masuk aku udah masak makanan kesukaan kamu"
"Wah, udah gak sabar mau nyicip pasti enak"
Desi melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
"Sebenarnya aku masih marah sama kamu Mas, hatiku masih sakit dengan kelakuan kamu yang menduakan aku, kalau bukan karena ingin melihat Safa cemburu aku belum mau nerima kamu di sisiku" batin Desi.
"Mau makan dulu, apa mandi dulu ?" tanya Desi
"Makan dulu deh, udah laper soalnya"
Desi mengangguk ia langsung menyiapkan piring untuk suaminya makan, segelas air putih untuk suaminya minum. Kali ini Desi benar-benar melayani sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Silahkan Mas !!"
"Terima kasih sayang"
************
Langit sudah mulai gelap, perlahan bintang-bintang mulai menampakan wujudnya sepertinya malam ini tak akan turun hujan.
Bagusla,.memang itu yang Safa harapkan cuaca bagus dan banyak bintang dengan begitu ia tenang duduk disini.
Angin malam mulai menembus kulit Safa, air mata yang masih mengalir dengan pelan membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ya Allah kapan kebahagiaan akan datang padaku" gumam Safa.
Hingga tiba-tiba sebuah jaket melingkar di pundaknya. Safa terhenyak kaget ia mendongakan kepalanya dimana Orlando sedang tersenyum kearahnya.
"Orlando, bikin kaget aja" pekik Safa.
"Makanya jangan melamun, malam-malam begini kok melamun entar kesambet loh" goda Orlando dan mendudukan diri di samping Safa.
"Siapa yang melamun sih"
"Ya kamulah Fa, masa iya pak presiden"
"Udah deh, jangan becanda mulu"
Safa kembali menatap bangunan menjulang tinggi itu.
"Apa sih menariknya ngelihatin gedung-gedung ini ?" tanya Orlando.
"Gak ada memang, tapi suka aja soalnya perasaan aku tenang banget duduk sambil mandangin gedung ini. Kek gak ada beban sama sekali"
Orlando menganggukan kepalanya, jika Safa menatap lurus kedepan berbeda dengan Orlando yang menatap wajah cantik Safa. Pancaran dari sinar lampu malam malah semakin menambah kecantikan Safa.
"Natapnya tuh kesana, ngapain natap aku terus " ucap Safa yang tau kalau sedari tadi Orlando memperhatikan dirinya.
"Ge'er deh, siapa yang natap kamu, aku loh merhatiin gedung yang disana"
Namun Safa hanya mencibir, ia tau betul kalau Orlando sedang berbohong.
"Enggak, memangnya kenapa ?"
"Jalan ke Mall yuk, temenin aku cari kemeja ! tapi kamu izin dulu sama suami kamu biar gak salah paham"
"Lihat besok ya Ndo ! aku gak bisa janji"
"Ok"
Karena jam terus berputar dan malam semakin gelap, Safa beranjak dan masuk ke apartemennya. Sebenarnya matanya belum mengantuk sama sekali tapi Safa kasihan dengan Orlando yang sepertinya menahan kantuk hanya untuk menemaninya.
Padahal Safa sudah meminta supaya Orlando masuk duluan, tapi laki-laki itu tidak mau dan akan tetap menemani Safa sampai Safa merasa bosan disana.
"Selamat malam Fa ! mimpi indah ya !"
Safa hanya membalas dengan anggukan kemudian masuk ke apartemenya.
*********
Terlalu pagi Febri datang ke apartemen, karena saat Febri datang Safa belum baru saja bangun.
"Baru bangun ya ? maaf Mas kepagian datang kesini"
"Tidak mengapa Mas, ya udah tunggu bentar, aku cuci muka dulu"
Sembari menunggu sang istri mencuci muka Febri duduk di sofa sambil menyalahkan televisi. Tak berapa lama Safa kembali dengan membawa secangkir teh juga segelas susu ibu hamil untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Teh nya Mas !"
"Iya Fa, terima kasih"
Safa ingat semalam Orlando ingin di temenin belanja, hatinya sebenarnya ragu untuk mengatakan pada Febri kalau ia akan jalan-jalan ke Mall hari ini.
"Emmm, Mas"
Febri menoleh "Kenapa Sayang ? ngomong aja !!"
"Hari ini aku boleh gak nemenin teman belanja ke Mall, sekalian jalan-jalan Mas"
"Siapa teman nya ? Mas belum hapal siapa teman-teman kamu"
"Orlando Mas"
"Cowok ?" tanya Febri.
"Iya Mas, apartemennya dekat kok sama apartemen kita"
Mendengar hal itu Febri tersulut emosi, karena bisa-bisanya Safa ingin jalan berdua dengan laki-laki lain.
"Kamu sadar gak kalau yang kamu katakan itu salah besar ? bisa-bisanya kamu ingin jalan bersama laki-laki lain" bentak Febri.
Safa terkejut ia tak tahu kalau reaksi Febri akan seperti ini "Maaf Mas, aku hanya minta izin kalau Mas tak mengizinkan aku gak bakalan pergi"
"Udah berapa lama kalian dekat ?" tanya Febri tanpa menjawab ucapan sang istri.
"Kami hanya berteman Mas, kami dekat belum lama kok"
"Keterlaluan Kamu Safa ! kamu itu sudah menjadi seorang istri jadi jangan dekat sama pria manapun kecuali suami kamu"
Mata bulat Safa yang kini sudah membentuk anak sungai menatap ke arah sang suami. Ia rasanya di tuduh selingkuh oleh Febri padahal ia dan Orlando hanya teman biasa.
"Aku cuman butuh teman Mas, apa itu salah ?"
"Ya jelas salah lah !! kalau kamu mau berteman cari yang perempuan jangan laki-laki. Kau tau Safa selama aku nikah sama Desi dia gak pernah berteman dengan laki-laki. Dia sangat menjaga perasaan ku sebagai suaminya"
Hati Safa sakit mendengar Febri bandingin dirinya dan Desi.
"Lalu untuk apa kamu menikahi ku Mas ? kalau di mata kamu hanya mbak Desi yang terbaik ?"
Plaaakkk.
Sebuah tamparan yang cukup keras Febri berikan pada Safa. Membuat Safa menangis dan memegangi pipinya yang terasa sakit.
"Itu hukumannya kalau kamu selalu ngelawan ucapan ku"
---
...LIKE DAN KOMEN ...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1