
2 Hari sudah Safa kembali ke kota Solo, namun dalam 2 hari ini ia belum pernah keluar rumah. Safa masih menghabiskan waktunya untuk beristirahat akibat perjalanan yang sangat jauh membuat tubuh Safa begitu lelah.
Akan tetapi untuk hari ini ia tak akan bisa menolak lagi, benar kata Orlando Semakin cepat maka semakin baik dan Safa akan memutuskan menemui Febri hari ini.
"Ar hari ini ikut Bunda ya !" ucap Safa.
"Kemana Bun ?"
"Nanti Arnold tau, yang jelas sekarang Ar siap-siap ya !"
"Sama Papa juga gak ?" Arnold mendekati Safa yang sedang mengoleskan lipstik ke bibirnya.
Safa menoleh lalu tersenyum "Hari ini kita pergi berdua saja, Om Ando gak ikut" jelas Safa dengan lembut, ia masih sangat berharap Arnold akan menguba panggilan Arnold ke Orlando
Rasanya panggilan Papa yang di ucapkan Arnold membuat Safa tak terima. Ia takut jika suatu hari ada perempuan yang dekat dengan Orlando lalu mendengar panggilan Papa dari putranya membuat semuanya akan rumit dan terjadi salah paham.
"Yaaaa..." Arnold tampak lesu saat mendengar kalau Orlando tak ikut bersamanya "Kok Papa gak ikut Sih Bun ?"
"Ar, Bunda mohon rubah panggilan Ar sama Om Ando, dia itu bukan Papa kamu, dia hanya temannya Bunda dan hari ini Ar akan bertemu dengan Ayah kandung Ar" kali ini Safa berjongkok mensejajarkan tinggi badanya dengan Arnold.
"Papa Ndo adalah Papaku Bunda" seperti biasa Arnold akan menangis jika Safa membahas kalau Orlando bukan Papa nya.
Safa menghela nafas panjang lalu menarik Arnold kedalam pelukannya "Maafin Bunda ya Sayang ! semoga saja setelah kamu bertemu dengan Mas Febri kamu akan mengerti dengan semua ini" gumam Safa.
********
"Hari ini aku akan menemui Mas Febri, sesuai kata kamu aku akan datang ke apartemen untuk menemuinya"
Pesan singkat dari Safa baru saja Orlando terima, di sisi lain ada rasa tidak terima jika Safa bertemu kembali dengan Febri, tapi di sisi lain Orlando ingin mengetahui kejelasan hubungan Febri dan Safa.
"Semoga saja kamu memutuskan yang terbaik Fa !"
Karena mengetahui kalau hari ini Safa dan Arnold akan datang ke apartemen, Orlando memutuskan untuk tidak pergi, ia akan berada di apartemen sembari mengawasi Safa dan Arnold nantinya. Karena takut Febri akan melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) lagi.
"Jika Safa tetap memilih bersama dengan Febri, mungkin aku akan memutuskan untuk pergi !"
*********
Safa dan Arnold sudah selesai bersiap untuk pergi, sebuah mobil sudah menunggu di depan rumah karena memang Safa sudah memesan taksi online.
"Ayo sayang !" ajak Safa keputranya.
Arnold menggandeng tangan Safa menuju mobil, di dalam perjalanan Arnold hanya diam saja, ia ternyata masih kesal karena Orlando tak ikut bersamanya hari ini.
__ADS_1
"Ar kenapa diam terus ?" tanya Safa.
"Lagi malas bicara saja"
"Nanti Ar harus bersikap sopan ya Nak ! jangan marah-marah"
"Iya"
Safa kembali menghela nafas panjang saat melihat sikap dingin dari Arnold, hingga matanya menangkap bangunan menjulang tinggi yang menjadi tempat tinggalnya saat sebelum berada di thailand.
"Semoga ini pertemuan kami terbaik Ya Allah"
"Lindungi kami berdua"
Setelah mobil berhenti dan Safa membayar ongkosnya, Ia kembali menggandeng Arnold menuju apartemen.
"Kita mau kemana sih Bun ?"
"Nanti Ar akan tau" balas Safa.
********
Febri sedang bersiap untuk berangkat bekerja, memang sebelum berangkat ia akan menikmati secangkir kopi sembari menonton televisi.
"Siapa ya ?" tanya Febri pada diri sendiri.
Tanpa menunggu lama Febri langsung beranjak untuk membukakan pintu. Disana ia terkejut melihat kedatangan Safa bersama bocah laki-laki yang entah kenapa tak asing bagi Febri.
"Masya Allah Safa".Pekik Febri
"Assalamualaikum Mas" ucap Safa dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Ini beneran kamu kan ?"
"Iya ini aku Safa, kamu apa kabar Mas ?"
"Seperti yang kamu lihat, ayo kita masuk dulu kita ngobrol didalam"
Safa mengangguk, saat kakinya menginjakan ke dalam apartemen, lintasan masalalu berputar layaknya sebuah film, Safa bahkan memejamkan matanya saat semua itu teringat kembali. Dulu di tempat inilah ia bertarung melawan dua wanita yang ingin menghabisinya dan juga Arnold.
Memang sebuah keajaiban Safa dan juga anaknya bisa selamat dari dua wanita itu.
Menyadari ada yang aneh pada Safa, Febri langsung menoleh ia terkejut saat melihat Safa menangis dengan wajah pucatnya.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa ?" tanya Febri panik, baru saja ia akan menyentuh pundak Safa tapi Safa langsung mundur dan menghindar.
"Jangan sentuh aku Mas !"
"Kenapa Fa, aku ini suami kamu sayang ?"
"Itu dulu Mas, ingat pernikahan kita hanya pernikahan sirih dan kita sudah lama tidak bertemu jadi kita sudah bercerai"
Febri tercengang mendengarnya sementara Arnold langsung menatap ke arah Safa.
"Bunda kenapa menangis ?" tanya Arnold.
"Bunda ????.. dia memanggilmu Bunda ? jadi dia anakku Fa ?" tanya Febri.
"Iya dia anak kamu Mas. Anak yang ingin di bunuh oleh istri pertama kamu, dia Arnold Putra Wijaya yang berhasil bertahan dari siksaan istri pertama kamu" jawab Safa.
"Ya Allah Nak, sini sayang sama Ayah. Ini Ayah kamu" air mata Febri mengalir karena masih tak menyangka kalau sekarang benar-benar ada yang memanggilnya dengan sebutan Ayah.
"Bukan, kamu bukan ayahku, aku sudah punya Papa kok"
Febri memincingkan matanya, ia mendongak dan menatap kearah Safa.. "Apa maksudnya Fa ? kenapa Arnold bilang dia sudah punya Papa ? apa kamu sudah menikah lagi ?" tanya Febri beruntun
"Mana mungkin aku sudah menikah lagi, kalaupun aku sudah menikah buat apa aku mendatangimu Mas"
"Lalu apa maksud Arnold berbicara seperti itu ?" nada suara Febri naik membuat Arnold langsung bersembunyi di belakang Safa.
"Jangan tinggikan suara mu Mas ! Arnold takut mendengarnya"
"Ok ok, aku minta maaf, sekarang jelaskan semuanya, dimana kamu selama ini dan kenapa kamu menghilang selama ini ?"
"Dimana dan kenapa aku menghilang itu gak penting buat kamu Mas, aku datang kesini ingin kamu mengatakan kata talak padaku, walaupun memang sebenarnya kita sudah resmi bercerai hanya saja aku ingin kamu tetap mengatakan itu" balas Safa enggan menatap Febri.
"Tidak" Febri menggelengkan kepalanya "Sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan itu, bahkan aku akan menikahi kamu ulang secara resmi"
"Tapi aku yang tidak mau Mas, aku tidak mau masuk dalam kehidupan kamu lagi, sudah cukup aku bertahan dan berjuang untuk kamu, tapi yang aku dapatkan hanya lah ketersiksaan saja"
"Ok maafkan Mas Fa, Mas tau Mas salah tapi aku mohon jangan tinggalkan Mas lagi !"
"Semuanya sudah terlambat Mas, maaf aku gak bisa bersama.kamu.. Aku datang kesini hanya untuk mengatakan kalau anak kamu sehat dan aku ingin kita akhiri semuanya"
---
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...