Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 78


__ADS_3

Malam harinya Safa sedang menemani Arnold tertidur, semenjak pulang jalan-jalan bersama Orlando membuat Safa heran karena sikap Arnold tampak berbeda, putrnya itu sering murung dan tak bersemangat


"Ar mikirin apa sih ? kenapa belum tidur-tidur ? ini kan sudah malam Nak" tanya Safa, telapak tangannya terus mengelus kepala Arnold dengan lembut.


"Bun" panggil Arnold.


"Iya Nak"


"Tadi Papa Ndo bilang kalau mulai sekarang Ar jangan manggil dia Papa lagi melainkan Om sesuai kata Bunda"


Safa langsung terhenyak kaget mendengarnya, ia sama sekali tak menyangka kalau Orlando akan mengatakan hal serupa pada Arnold.


"Beneran Papa Ndo bilang gitu Nak ?"


Arnold mengangguk "Katanya sekarang Ar sudah bertemu dengan Ayah kandung Ar, makanya Papa Ndo gak mau di panggil Papa lagi"


Setetes air mata membasahi pipi mulus milik Arnold, membuat tangan Safa bergerak untuk menghapus cairan bening itu, ia tau anaknya pasti sangat terluka sekarang karena selama ini Arnold begitu dekat dengan Orlando.


"Udah ya jangan nangis lagi ! Papa Ndo mungkin hanya bercanda Nak !"


"Apa Papa gak sayang lagi sama Ar Bun ?"


"Kata siapa ? Papa Ndo sayang banget kok sama Ar, besok biar Bunda marahin Papa ya biar dia gak bercandain Ar lagi"


Arnold kembali mengangguk, ia memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Safa. Dengan cepat Arnold membenamkan kepalanya di dada sang Bunda, karena elusan lembut dari Safa membuat Arnold cepat sekali tertidur.


"Kamu kenapa sih Ndo ? kenapa kamu mengatakan itu sama Arnold, kamu udah nyakitin dia tau gak" batin Safa yang geram dengan sikap Orlando sekarang.


Bagaimana tidak, bagi Safa tak ada angin dan tak ada hujan Orlando berubah drastis padanya dan juga Arnold


"Besok aku mau Orlando menjelaskan semuanya padaku" batin Safa.


Karena tak ingin meninggalkan putranya sendiri, Safa memutuskan untuk tidur di samping Arnold, namun matanya tak kunjung terpejam membuatnya memutuskan untuk mengambil ponsel.


Ia menghubungi nomor Orlando, akan tetapi hasilnya sama saja, nomornya tidak aktif.


"Apa Orlando belum membeli ponsel baru ya ? sehingga nomornya gak aktif terus"


**********


Sementara itu Febri baru saja selesai membungkus hadia yang akan ia berikan pada Arnold besok pagi, ia yakin Arnold pasti akan sangat menyukai hadia yang akan ia berikan.

__ADS_1


Febri sengaja membungkusnya sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain, karena baginya ini adalah salah satu bentuk perjuangan.


"Arnold pasti akan langsung menyukai aku dan mau memanggilku dengan sebutan Ayah kalau melihat hadia ini" gumam Febri.


Rasanya ia sudah tak sabar menunggu hari esok, ia juga sudah tak sabar menunggu dimana tubuh Arnold bisa di peluk dengan erat.


Bukan cuma Arnold tapi juga Safa, wanita yang akan menjadi ratunya sampai kapanpun.


Setelah memastikan bungkusan kadonya rapih Febri beranjak dan naik keatas ranjang, ia mengelus kasur di sebelahnya dan membayangkan kalau Safa kembali menempati kasur itu.


"Tidak jangan sampai aku membawa Safa kembali ke apartemen ini"


"Mending aku jual rumah yang dulu lalu membeli rumah baru, aku ingin semuanya serba baru karena rumah tanggaku dan Safa akan kembali dari nol"


"Kalau aku bawa Safa ke apartemen ia pasti akan selalu mengingat masalalu nya dan itu akan membuat Safa sedih, tidak aku tidak mau dia sedih lagi"


**********


Pagi-pagi sekali Safa sudah bersiap untuk pergi ke apartemen Orlando, ia mengetok pintu kamar Wina karena memang ibunya belum keluar.


"Ada apa Fa ? dan kamu mau kemana kok pagi-pagi sekali sudah rapih ?" tanya Wina sembari menatap penampilan Safa dari atas sampai bawah.


"Aku pergi sebentar Bu ada urusan, aku titip Arnold ya ! kalau dia bangun kasih susu sama roti bakar dulu buat dia sarapan !"


"Nanti saja aku jelaskan Bu, sekarang aku harus pergi"


Walau di ambang kebingungan Wina tetap mengizinkan Safa pergi, karena seperti nya itu sangat penting.


"Hati-hati Nak !" pesan Wina setelah Safa mencium punggung tangannya.


Safa hanya menjawab dengan anggukan kepala, setelah itu ia berlalu dari hadapan sang Ibu.


Di depan gerbang rumahnya sudah menunggu taksi online yang memang sudah Safa pesan.


"Ke Apartemen xxxx ya pak !" pinta Safa.


"Baik Bu"


Mobil melaju dengan cepat, keadaan masih sangat pagi sehingga jalanan belum terlalu padat, Safa menatap keluar jendela. Hari ini ia ingin mendengar semua penjelasan Orlando. Ia tak ingin Orlando bersikap seperti ini padanya apalagi pada Arnold.


Tak berapa lama ia sudah tiba di apertemen, namun sebelum masuk kedalam lift ia tak sengaja melihat Febri, dengan cepat Safa bersembunyi supaya Febri tak tahu keberadaan nya.

__ADS_1


"Mas Febri mau kemana ya ? dan itu apa yang dia bawa ?"


"Ah masa bodoh lah,aku kan mau bertemu dengan Orlando"


Setelah memastikan Febri telah pergi jauh barulah Safa memasuki Lift ia menekan tombol lima dimana apartemen Orlando berada.


Berulang kali Safa memencet bel namun tak kunjung di buka, saat kelima kalinya barulah Orlando membukakan pintu, laki-laki itu baru saja bangun tidur terlihat dari rambutnya yang berantakan dan masih mengenakan celana pendek.


"Safa" ucap Orlando terkejut.


"Kamu ngapain kesini sepagi ini ?" tanya Orlando lagi.


Tanpa menjawab pertanyaan Orlando, Safa langsung masuk kedalam apartemen tersebut, ia langsung duduk di sofa.


"Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu Ndo ? jadi terserah kamu mau langsung atau mau mandi dulu"


"Ok aku mandi dulu" Orlando kembali kekamarnya, tak mungkin ia mengobrol dengan Safa dalam keadaan seperti ini.


Tak berapa lama Orlando telah kembali, dengan penampilan yang berbeda tentunya, sudah segar dan wangi.


"Mau ngobrol apa Fa ?".tanya Orlando.


"Maksud kamu apa ya Ndo bilang pada Arnold supaya dia tak memanggil kamu Papa lagi ?" tanya Safa to the point.


"Kan memang itu mau kamu Fa, dari dulu kamu gak pernah setuju kalau Arnold memanggilku Papa, jadi apa masalahnya"


"Tapi kenapa baru sekarang kamu mempermasalahkan Ndo ? selama ini kamu kemana ? Kamu sadar gak kalau kamu udah nyakitin dia ? kalau kamu marah sama aku tolong jangan libatkan Arnold ! dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini"


"Aku gak marah sama kamu Fa, jangan salah paham"


"Terus kenapa sikap kamu beruba Ndo ? aku ngerasa kamu kok akan ngejauhin aku Sama Arnold"


Orlando menghela nafas panjang, ia menatap wajah Safa.


"Maaf kalau sikap aku bikin kamu gak nyaman Fa"


"Aku gak butuh maaf kamu Ndo, aku cuman ingin tau kenapa kamu berubah ?"


"Kamu mau tau kenapa aku berubah ?" tanya Orlando dan di jawab anggukan oleh Safa "Karena aku mencintai kamu Fa sangat mencintai kamu, tapi kamu hanya menganggap aku sebagai Kakak"


*****

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2