Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 80


__ADS_3

"Karena kamu membawanya pergi dari hidupku, coba kalau dari dulu kamu gak menghilang mungkin Arnold gak akan seperti ini"


Ucapan Febri begitu menusuk relung hati Safa, tak sadarkah oleh pria itu bagaimana keadaan nya dulu. Bagaimana ia bertahan dari rasa sakit dan juga ketertekanan.


Safa menggelengkan kepalanya tak percaya kalau Febri bisa mengatakan hal serupa.


"Semua yang terjadi bukan salah ku Mas tapi salah kamu dan juga Mbak Desi" ucap Safa lirih.


"Tapi kamu gak harus kan bawa kabur Arnold selama ini, lihat apa yang telah kamu lakukan. Dia gak kenal sama aku padahal dia darah daging ku sendiri. Dan lucunya lagi dia bahkan memanggil ku Om sementara dengan laki-laki lain yang sampai sekarang aku tak tau, dia panggil dengan sebutan Papa" Balas Febri sembari terkekeh pelan.


Bukan keinginan Safa yang ingin membuat Arnold memanggil Orlando dengan sebutan Papa, selama ini ia sudah mengajarkan Arnold untuk memanggilnya Om, tapi Arnold sendiri yang mau. Mungkin karena ia terlalu dekat dengan Orlando.


Sementara dengan Febri. Safa mengaku kalau dirinya telah salah. Harusnya selama ini ia sudah memperkenalkan Febri pada Arnold kalau Febri adalah Ayah kandungnya. Namun rasa sakit dan luka dimasalalu nya yang membuat Safa enggan melakukan itu.


"Kamu gak ngerti dengan semua ini Mas, aku melakukan semua ini ada alasan nya" balas Safa dengan suara bergetar menahan tangis.


"Alasan apa Fa ? harusnya apapun kondisi kamu waktu itu, kamu tetap bertahan bersamaku, aku ini suami kamu, tapi apa ? kamu malah pergi bersama laki-laki lain"


Safa menatap tajam kearah Febri, ucapan Febri benar-benar membuat perasaan nya sakit. Ternyata laki-laki itu tidak berubah sedikitpun walaupun sudah ia tinggalkan sekian lama.


"Pergi kamu dari sini Mas, dan jangan pernah kamu datang lagi ke sini ! sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kamu bertemu lagi dengan Arnold" bentak Safa menggema.


Melihat perdebatan antara Febri dan Safa yang terus berlanjut, akhirnya Wina membawa Arnold pergi. Ia tak ingin ikut campur urusan anaknya.


"Kamu ngancam aku Fa ? berani kamu sama aku" Febri mendekat, ia mencengkram bahu Safa dengan kuat.


"Lepas Mas ! sakit"


"Tidak akak aku lepaskan ! sampai kamu bilang kalau kamu mau menerima aku lagi sebagai suami kamu"


"Ciiihhh" Safa meludah kesembarang arah "Jangan mimpi Mas ! melihat sikap kamu yang seperti ini saja sudah membuatku takut, aku tak ingin tersiksa untuk yang kedua kalinya"


Febri terhenyak, ia baru sadar kalau sudah bersikap kasar pada Safa, harusnya ia bisa mengontrol emosinya supaya Safa mau kembali padanya.


Febri melepaskan cengkaramannya, ia mengusap wajahnya dengan gusar.


"Pergi Mas ! aku bilang pergi ya pergi"


"Maafkan Mas Fa ! Mas gak sengaja, Mas terbawa emosi"

__ADS_1


"Simpan saja seluruh maafmu Mas ! aku sudah tak percaya dengan kata itu"


"Fa, dengerin Mas dulu, kasih kesempatan pada Mas ya !!"


Safa menggelengkan kepalanya, ia menunjuk pintu keluar yang memang terbuka dari tadi "Pintu rumahku terbuka lebar untuk mu pergi Mas, dan jangan sampai aku memanggil pihak keamanan untuk membawamu pergi dari sini"


"Fa..." Febri memelas, ia berusaha supaya Safa merasa kasihan padanya.


"Aku bilang pergi Mas Febri !!" kali ini suara bentakan Safa menggema, ia mengeluarkan sisa suaranya supaya Febri bisa mengerti kalau kehadiran pria itu sudah tak di harapkan lagi.


*********


Beberapa hari kemudian.


Safa sering mengunjungi apartemen Orlando, ia memberikan perhatian pada laki-laki itu, seperti memasak dan membersihkan apartemen Orlando, saat ini Safa bisa kesana dengan bebas karena Febri sudah tak lagi tinggal di apartemen.


Entah dimana Febri tinggal Safa tak peduli.


"Kenapa Safa perhatian banget ya sama aku ? apa dia sudah ada rasa sama aku" batin Orlando sembari mengintip kegiatan Safa yang sedang memasak.


Sesekali ia tersenyum melihat Safa yang begitu cantik, rambutnya di kuncir kuda sehingga menampakan leher jenjang milik Safa.


Orlando keluar dari persembunyianya, ia berjalan mendekati Safa "Kamu punya indera keenam ya sampai tau aku sembunyi dimana"


"Mana ada, aku tuh udah lihat kamu disana, lagian sembunyi tapi sepatunya kelihatan"


"Besok-besok aku harus belajar sembunyi dulu nih, biar gak ketahuan sama kamu" ucap Orlando bercanda.


"Udah sana sarapan, oh ya besok aku gak bisa ke sini ya ! soalnya besok kan toko baru aku akan siap di buka, doakan ya semoga laris manis" balas Safa sembari menghidangkan makanan kemeja.


Orlando mengangguk, memang setelah pulang dari Thailand Safa memutuskan untuk membuka toko kue, berbagai jenis kue ia jual, karena saat berada di thailand Safa kursus bikin kue.


"Ada yang mau aku bantu gak ?"


"Gak ada Ndo, selama ini kan kamu udah banyak bantu aku ! jadi untuk sekarang Alhamdulillah aku bisa ngatasi semua sendiri"


"Wah bagus dong"


Safa terkekeh, kini keduanya menikmati sarapan bersama. Orlando semakin nyaman dengan sikap Safa padanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha Ndo untuk mencintai kamu, aku akan membalas semua kebaikan kamu, Tante Gita dan Om Aroon" batin Safa dengan menatap Orlando yang sedang menyantap makanannya.


Tekad Safa memang sudah bulat untuk membalas cinta Orlando karena ingin balas budi, akan tetapi jangan sampai Orlando tau hal itu.


Selesai sarapan Orlando mengantar Safa pulang, karena sampai saat ini Safa belum memiliki mobil sendiri, padahal Orlando sudah menawarkan untuk membelikannya mobil tapi Safa menolak.


"Makasih ya udah di masakin lagi pagi ini " ucap Orlando.


"Sama-sama, kan aku udah bilang kalau aku akan sering ke apartemen"


"Besok ajak Arnold ya ! aku mau main sama dia"


Safa membalas dengan anggukan.


******


Febri kesal karena hubungannya dengan Safa semakin merenggang, bahkan dengan Arnold juga. Safa benar-benar tak pernah mengizinkan dirinya bertemu dengan Arnold.


"Kalau gini caranya bagaimana aku bisa dekat dengan Arnold"


"Safa benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya dia mau memilki Arnold sendiri padahal aku ini Ayah kandungnya"


Febri mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi ia baru saja habis di rumah Safa, namun sekarang Rumah itu ada yang menjaga yaitu Mang Ucup yang di bawa Safa dari rumah lamanya. Safa berencana akan menjual rumah lama mereka.


"Sial..."


"Brengesek"


Umpatan demi umpatan kekesalan terus terlontar dari bibirnya, Febri kembali menambah kecepatan mobilnya, sampai ia tak sadar kalau di depannya ada sebuah truk yang melaju kearahnya.


Karena begitu ngebut Febri tak bisa menghindar hingga tabrakan terjadi.


Mobil Febri terpental begitu jauh.


"Safa.." gumam Febri sebelum memejamkan matanya.


****


....LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


...ADD FAVORIT...


__ADS_2