Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 91


__ADS_3

Kalimat yang Arnold katakan menjadi sebuah kebahagiaan untuk Orlando, karena mendengar semua itu ia yakin kalau dirinya begitu di terima jika masuk kedalam kehidupan Safa.


Hanya saja Safa belum menjawab, membuat Orlando begitu penasaran bagaimana jawaban Safa nantinya.


"Bagaimana Nak apa kamu mau menikah dengan Nak Ando ?" tanya Wina pada sang Putri.


Safa menghela nafas panjang "Bukan Safa tidak mau Bu, tapi apa ini terlalu cepat ? maksud Safa biarkan Safa dan Ando menjalin hubungan dulu dan lagi pula masalah Safa dan Mas Febri juga belum usai" jelas Safa kemudian.


"Masalah dengan Febri jangan kamu pikirkan Fa ! yang penting itu kebahagiaan kamu, dan Arnold" sahut Orlando.


"Aku tidak mau Ndo seperti itu, kita selesaikan masalah dengan Mas Febri dulu, dan aku juga ingin membuat Arnold dekat dengan Mas Febri"


Orlando menunduk ia tak lagi menjawab, memang semua keputusan ada di tangan Safa, dan dirinya tak bisa memaksakan kehendak. Jika memang ini adalah keinginan Safa mungkin Orlando hanya bisa mendukung.


"Ya sudah kalau itu mau kamu aku akan dukung semuanya, tapi ingat jangan pernah tinggalin aku Fa !"


"Tidak akan Ndo, aku tidak akan meninggalkan kamu karena hatiku sudah mantap untuk menjadikan kamu pelabuhan terakhirku"


Orlando tersenyum ia mencubit kedua pipi Safa dengan gemas "Uluh-uluh udah pinter ngegombal ya sekarang, gemes deh" ucap Orlando.


Safa terkekeh mendengarnya, begitupun dengan Wina yang merasa bahagia melihat Safa sekarang. Ia tidak setuju jika Safa kembali pada Febri apalagi saat mengingat bagaimana Febri dulu memperlakukan Safa.


Walaupun Wina tak pernah melihat dengan jelas bagaimana kehidupan Safa dulu, tapi mendengar ceritanya saja dirinya sudah bisa membayangkan betapa terpuruknya Safa dulu.


"Hmmmm.. Aku mau pamit dulu, ada kerjaan sebentar" tiba-tiba Orlando berdiri membuat Wina mengalihkan tatapan nya pada pria tampan itu.


"Gak makan siang dulu nak ? Ibu sudah masak soalnya" tanya Wina


"Terima kasih sebelumnya Bu, tapi maaf sekarang tidak bisa, aku harus kerja dulu buat masa depan Safa dan Arnold" jawab Orlando membuat wajah Safa bersemu merah.


"Dasar...." ucap Safa yang hendak melayangkan cubitan lagi akan tetapi keburu Orlando menghindar.


"Ar, Papa pamit dulu ya, kamu di rumah sama Bunda dan nenek" Orlando mengacak rambut lembut Arnold.


"Baik Papa" jawab Arnold dengan mantap.


***********


DI RUMAH SAKIT.....


Febri sudah bersiap pulang, ia duduk di kursi roda dengan di dorong oleh Ardi sementara Yohan yang baru saja tiba membantu membawakan barang-barang Febri.

__ADS_1


Semenjak kepulangan Safa dan Orlando tadi, Febri lebih banyak diam, namun tatapan nya yang tajam membuat Ardi enggan bertanya karena ia yakin sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


Sedari tadi Yohan terus bertanya pada Ardi kenapa Febri selalu diam, namun Ardi belum bisa menjawab apa-apa.


"Aku gak akan terima Fa, aku akan melakukan segala cara untuk membuat kamu menjadi istriku lagi" batin Febri


Tak berapa lama ketiganya sudah tiba di depan rumah sakit, Yohan langsung mengambil mobilnya lalu kemudian membantu Ardi untuk mengangkat Febri ke dalam mobil.


Di perjalanan pulang Febri menatap keluar jendela.


"Lo mending pulang kerumah dulu aja Feb" usul Yohan yang duduk di depan karena ia yang membawa mobil.


"Iya gue setuju, soalnya kalau di apartemen Lo akan susah." sahut Ardi.


"Terserah kalian saja" jawab Febri


"Sudahlah Feb jangan terlalu di pikiran, lagian Safa sama laki-laki itu belum resmi menikah dan masih besar kemungkinan Lo bisa memiliki Safa lagi" ucap Ardi yang membuat Febri mengalihkan tatapan nya.


"Tunggu-tunggu memangnya Safa sudah mau menikah ?" tanya Yohan.


"Gak tau juga sih, tapi tadi Safa datang bersama laki-laki dan mengatakan pada Febri kalau mereka ada hubungan" jelas Ardi kemudian.


"Pokoknya gue akan membuat Safa kembali sama gue" Ardi menatap tajam kearah depan.


*************


Sementara itu Safa sedang menikmati makan siangnya bersama sang ibu dan juga Arnold. Walau pikirannya masih bercabang tapi Safa berusaha yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.


Di sisi lain ia sebenarnya sudah sangat ingin menjadi istri Orlando, hanya saja ia masih memikirkan masalahnya dengan Febri. Safa ingin menikah lagi akan tetapi ia tak ingin ada yang membenci pernikahannya.


Apalagi itu Febri yang notabenya adalah Ayah kandung dari Arnold. Sampai kapanpun Arnold akan membutuhkan Febri, mungkin sekarang Arnold belum bisa menerima kehadiran Febri akan tetapi cepat atau lambat Arnold pasti akan menerima siapa ayah kandungnya.


"Mobil siapa ya Nak ?" tanya Wina saat mendengar ada suara mobil yang berhenti di depan rumahnya.


"Gak tau Bu, coba Safa lihat dulu" jawab Safa yang langsung berdiri.


Wina mengngguk, pikirannya mungkin itu adalah Orlando yang datang kembali.


"Sebentar ya sayang Bunda kedepan dulu" ucap Safa pada Arnold.


"Iya Bunda" jawab Arnold dengan mulut penuh.

__ADS_1


Safa berjalan meninggalkan meja makan, ia penasaran siapa yang datang kerumahnya, Safa yakin kalau itu bukan Orlando karena jujur Safa sudah paham bagaimana suara mesin mobil Orlando.


"Mas Febri" ucap Safa terkejut saat melihat Febri sudah duduk di kursi roda di teras rumahnya.


Febri menoleh namun tak ada senyum di wajahnya, sementara Ardi dan Yohan menunggu di dalam mobil "Aku mau bicara sama kamu Fa"


"Mau bicara apa Mas ?"


"Banyak"


Safa menurut, ia duduk di kursi teras yang berdekatan dengan Febri. Safa merasa deg-degkan dengan semua ini.


"Bicaralah Mas !" pinta Safa kemudian.


"Sebelumnya aku mau tanya dulu sama kamu, sudah berapa kamu dan Baj*ngan itu menjalin hubungan ?" tanya Febri dengan nada dingin.


"Dia bukan bajingan Mas, dia pria baik-baik" ralat Safa kemudian, ia merasa tak terima jika Orlando di cap sebagai bajingan oleh Febri, bukankah yang lebih pantas di cap seperti itu adalah Febri sendiri.


Febri tersenyum mengejek "Laki-laki yang baik tidak akan pernah merebut istri orang"


"Aku bukan istri kamu lagi Mas, kita udah pisah"


"Sejak kapan aku menalak kamu Fa ? coba jelaskan sama aku, kapan aku menalak kamu ?"


Safa terdiam, Febri memang tak pernah mengatakan talak kepada Safa, tapi pernikahan mereka bukanlah pernikahan resmi secara negara.


"Gak bisa jawab kan kamu ?" ucap Febri lagi.


"Mas tolong ikhlaskan saja semuanya Mas, dan jika kamu mau menalak aku supaya kita resmi bercerai silahkan Mas, aku siap mendengarnya"


"Apa kamu mencintai laki-laki itu" Febri tak menjawab ucapan Safa ia justru bertanya lagi.


"I---ya Mas" sebuah jawaban yang begitu menyakitkan untuk Febri dengar.


"Aku akan mengizinkan kalau kamu mau menikah dengan pria itu, tapi dengan satu syarat"


"Apa syaratnya Mas ?"


"Serahkan Arnold padaku, dan hak asuh Arnold akan jatuh ketanganku, setelah itu kamu boleh menikah dengan pria itu akan tetapi kamu tidak boleh bertemu dengan Arnold lagi....."


******

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN ...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2