Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 85


__ADS_3

Safa keluar dari ruangan Febri setelah Ardi tiba, walaupun Febri terus memohon untuk di temani oleh Safa tapi tak membuat Safa mengabulkan permintaan nya.


Ia tetap memilih pulang, dan berjanji akan datang esok pagi.


Sesuai permintaan Safa di parkiran rumah sakit, Orlando sudah menunggu, laki-laki itu terlihat sedang menyenderkan tubuhnya di mobil, serta satu tangan yang ia letakkan di saku celana. Sementara yang satunya sibuk bermain ponsel hingga Orlando tak menyadari kalau Safa kini sudah berdiri di sampingnya.


"Ndo" panggil Safa.


Orlando menoleh, tak ada senyum yang ia tampilkan. "Udah ?" tanyanya dingin kemudian memasukan ponselnya kedalam saku celana.


"Udah apanya ?" tanya Safa tak mengerti.


"Ya kerjaan kamu, kan sekarang kamu jadi baby sister mantan suami kamu" balas Orlando.


Kening Safa mengkerut mendengar ucapan Orlando. "Kamu kenapa sih Ndo ? kok sewot gitu ngomongnya ?"


"Gak papa, ya sudah yuk katanya mau pulang"


"Udah aku mau naik taksi aja, kamu pulang aja sendiri"


"Kan tadi kamu minta jemput gimana sih, kalau kamu mau naik taksi kenapa minta jemput aku" Nada suara Orlando terdengar begitu menyebalkan.


Safa memalingkan wajahnya, perasaannya sakit saat mendengar semua ucapan Orlando, sebisa mungkin Safa menahan air matanya supaya tak lolos.


"Gimana mau pulang bareng aku gak ?" tanya Orlando kembali tapi tak di jawab oleh Safa.


"Ya sudah kalau kamu mau naik taksi aku pulang duluan ya !" Orlando hendak meninggalkan Safa, ia akan segera membuka pintu mobil tapi lengan nya langsung di tahan oleh Safa.


"Apa lagi ?" tanya Orlando tanpa menoleh.


"Aku ikut" balas Safa.


Senyum simpul Orlando tampilkan, tapi tak bisa di lihat oleh Safa.


"Ya sudah sana masuk" titah Orlando


Safa membuka pintu belakang mobil Orlando, jika dulu biasanya Orlando akan membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya duduk di sampingnya sekarang tidak lagi, bahkan Orlando tak bertanya kenapa Safa duduk di belakang.


Mobil berjalan dengan pelan, Safa menatap keluar jendela dengan pandangan kosong, sesekali terdengar helaan nafas panjang,.


Sementara Orlando terus fokus pada jalanan yang terlihat sangat padat, ia sebenarnya tak ingin bersikap dingin seperti ini pada Safa, tapi Orlando ingin menghapus nama wanita itu di hatinya, mungkin dengan begini nama Safa akan sedikit memudar.

__ADS_1


"Maafkan aku Fa, aku tau kamu marah karena sikap aku, tapi aku lakukan semua ini karena aku tidak ingin terlalu sakit nantinya"


Hingga beberapa saat kemudian, mobil Orlando telah tiba di depan rumah Safa. Dengan perasaan kesal Safa langsung membuka pintu lalu membantingnya dengan keras setelah ia keluar dari mobil.


Safa kira Orlando akan ikut turun, namun ternyata ia telah salah besar, Orlando justru langsung menjalankan kembali mobilnya tanpa bertanya apapun pada Safa.


"Kamu kenapa sih Ndo, kenapa sikap Kamu seperti ini ? apa salah ku Ndo"


"Apa kamu marah karena aku merawat mas Febri ?"


"Tapi bukankah kamu setuju kalau aku melakukan ini ?"


Safa kembali menghela nafas panjang, kemudian melangkah dengan lunglai memasuki rumahnya. Seperti biasa Arnold akan menyambutnya dengan sebuah pelukan.


"Bunda dari mana sih ? kenapa perginya lama sekali ?" tanya Arnold.


Safa mengelus pipi tembem Arnold "Tadi Bunda lihat orang sakit Nak, gak enak kan kalau Bunda cuman bentar kesana"


Wina menatap wajah putrinya, wanita paruh baya itu mengerti kalau putrinya sedang tak baik-baik saja, dapat di lihat dari raut wajah Safa yang terlihat lesu.


"Arnold kamu lanjut main lagi ya ! nenek mau bicara sebentar sama Bunda" ucap Wina.


Setelah Arnold pergi Wina langsung mendekati putrinya.


"Kamu sedanga ada masalah Nak ?" tanya Wina.


"Tidak Bu, memang nya kenapa ?"


"Jangan bohong sayang ! Ibu bisa lihat dari raut wajah kamu"


Safa menunduk, ia tak tau harus menjelaskan apa. Tapi sikap Orlando tadi begitu membuatnya terluka.


"Apa kamu bertengkar dengan Nak Ando ?" tanya Wina


"Tidak Bu. Lagian kenapa aku harus bertengkar kami kan hanya temenan" jawab Safa, memang kenyataannya begitu kan.


"Mantapkan hatimu Sayang ! Nak Ando itu suka sama kamu, dia begitu ingin kamu menjadi miliknya. Jika memang kamu tak mencintai nak Ando jangan kasih dia harapan ! dan jika kamu masih mencintai Febri kembalilah sama dia" jelas Wina.


lagi-lagi Safa menunduk, ia masih bingung dengan perasaannya. Ia masih mencintai Febri tapi tak ingin kalau Orlando jauh darinya. Katakan saja kalau dirinya egois bahkan sangat egois mana mungkin dia menginginkan dua laki-laki sekaligus.


"Sekarang ibu tanya bagaimana perasaan kamu sama Nak Ando ?"

__ADS_1


"Aku tidak punya rasa apa-apa Bu sama Ando, aku sayang sama dia sebagai seorang kakak"


"Ya sudah berarti mulai sekarang kamu izinkan Orlando mencari wanita lain, dia juga berhak bahagia dan doakan semoga dia mendapatkan wanita yang baik"


Ucapan Wina langsung membuat Safa mengangkat kepalanya, ia menatap sang Ibu dengan tatapan yang sulit di artikan.


Mengizinkan Orlando mencari wanita lain ??


Apa ia sanggup ?


Berbagai pertanyaan terus melintas di benaknya. Dan sayangnya Safa tak bisa mengungkap apa yang ia rasakan saat ini.


"Dan Ibu harap kamu jangan salah memilih pasangan" setelah mengatakan itu Wina berlalu dan menyusul cucunya bermain. Di hatinya Wina begitu berharap kalau Safa akan bersama dengan Orlando.


**********


Malam harinya disaat semua orang sudah terlelap, hanya Safa yang mungkin belum sama sekali menutup matanya. Langit sudah begitu gelap tak ada cahaya bintang yang menerangi..


Ucapan sang Ibu begitu membuat Safa tak bisa tidur, di tambah dengan sikap Orlando yang begitu dingin padanya. Dan bahkan sampai sekarang tak ada satupun pesan masuk yang biasa Safa baca dari Orlando.


Mendadaknya semuanya terasa sunyi, jika kemaren-kemaren ponselnya akan selalu bergetar karena ada pesan masuk sekarang hening.


"Ini pilihan yang sulit, di saat hatiku masih mencintai Mas Febri, tapi aku juga tidak ingin Orlando bersama wanita lain"


"Aku harus bagaimana ?"


Sebenarnya itu pilihan yang gampang sekali, hanya saja hati Safa belum bisa menentukan pilihannya.


"Dan Ibu harap kamu jangan salah pilih pasangan" kembali Safa mengingat ucapan sang Ibu.


Benar memang ia harus benar-benar waspada, ia tak ingin merasa sakit hati lagi. Masalalu nya sudah mengajarkan begitu banyak pelajaran.


---------


**Hai-hai maafkan aku yang baru nongol ya !!


Ayo kasih like dan komen !!


Pencet favorit biar dapat pemberitahuan kalau aku update !


Dan kalau ada yang banyak poin bolehlah kasih novel ini Hadia** !

__ADS_1


__ADS_2