
5 Tahun Kemudian------.
****
"Papa" Teriak bocah laki-laki tampan yang kini usianya sudah 5 tahun.
"Ar., Panggil dia Om jangan Papa !" ucap Safa melarang sang anak memanggil Orlando dengan sebutan Papa.
Arnold menggeleng, dia memang sudah terbiasa memanggil Orlando dengan sebutan Papa walaupun dari kecil Safa sudah mengajarkan Arnold untuk memanggil Orlando dengan sebutan Om.
"Biarkan saja Fa, lagian kamu ini panggilan saja harus di permasalahkan" Omel Orlando.
"Tapi Ndo, dia akan kebiasaan, sementara kamukan bukan---"
"Aku sudah bilang Fa jangan bahas itu, Arnold belum ngerti apa-apa, jika dia bertanya dimana Ayahnya kamu mau jawab apa ?"
Safa menunduk, ia memang tak bisa menjawab dimana keberadaan Ayah Kandung jika Arnold bertanya. Safa tidak ingin tiba-tiba Arnold menangis ingin bertemu ayahnya.
"Papa, kata Bunda. Kita akan pulang ? memangnya kita mau pulang kemana ?" tanya Arnold dengan gemas.
"Nanti Papa kasih tau !" jawab Orlando.
Safa hanya bisa menghela nafas panjang saat Orlando terus menjawab ucapan Arnold, ia bukannya tidak suka jika Arnold memanggil Orlando dengan sebutan Papa, hanya saja ia takut suatu hari nanti Febri akan salah paham. Karena memang status nya belum menemukan titik terang.
Sekarang sudah waktunya Safa akan kembali ke tanah air, Setelah lebih dari 5 tahun menghilang. Ia rindu dengan ibunya dan juga kota Solo. Apalagi Safa ingin sekali mengunjungi makam sang Ayah.
"Barang buat pulang besok sudah kamu siapkan semuanya Fa ?" tanya Orlando.
"Iya Ndo, sudah semuanya !"
"Terus kenapa kamu sedih ? bukanya ini yang paling kamu tunggu ?"
"Aku hanya bingung Ndo bagaimana nanti saat pertama kali aku bertemu dengan Mas Febri dan bagaimana caranya aku menjelaskan sama Arnold kalau Mas Febri adalah Ayah kandungnya"
Orlando menurunkan Arnold "Sayang, kamu main di dalam dulu ya sama Phuupu (Kakek) dan Yaaya (Nenek) didalam" ujar Orlando pada Arnold.
"Yes Pa" jawab Arnold, ia memang cukup pintar dalam berbahasa, Saat usianya 5 tahun sudah banyak bahasa yang Arnold kuasai. Akan tetapi ia lebih suka berbicara dengan bahasa indonesia karena memang Safa yang selalu mengajarkannya.
Setelah Arnold masuk kedalam rumah Orlando dan Safa duduk di teras.
__ADS_1
"Apalagi yang menjadi kebingung kamu Fa ?" tanya Orlando.
"Banyak Ndo, kalau di jelasin kamu gak akan ngerti"
"Kan selama ini kita udah bahas masalah ini, nanti kalau kamu sudah pulang ke Indonesia kamu tinggal datangin Febri dan jelaskan semua yang kamu alami selama ini. Masalah kamu kau berpisah atau enggak itu adalah urusan kamu Fa, ikuti kata hati kamu tapi aku berharapnya kamu gak akan masuk ke lubang yang sama" jelas Orlando.
"Iya sih Ndo semua rencana itu sudah tersusun rapih di pikiran ku, tapi kan kita gak tau apa yang terjadi kedepannya. Manusia hanya bisa berencana Ndo"
"Aku paham Fa, pokonya kamu rileks aja, kamu harus jadi wanita yang kuat pokoknya jangan mau di tindas terus ! besok kita pulang ke Indonesia dan itu adalah kehidupan baru kamu"
Safa mengangguk mengerti, sementara Orlando hanya bisa menahanan sesak di dadanya. Karena setelah Safa pulang ia sudah harus menjaga jarak. Rasanya waktu 5 tahun bersama Safa begitu singkat untuknya.
"Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu Fa !"
*********
Keesokan paginya Orlando, Safa dan Arnold sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara. Sedari tadi Gita terus menangis karena tidak mau berpisah dengan Safa maupun Arnold apalagi ia begitu dekat dengan Arnold selama ini.
"Yaaya jangan nangis terus ! Ar gak lama kok perginya" ucap Arnold.
Gita tersenyum kembali ia memeluk tubuh Arnold, wangi tubuh Arnold menjadi candu untuknya, ia pasti akan sangat merindukan semua ini.
"Baik Yaaya.."
Aroon pun memeluk Arnold dengan erat, mulai hari ini tidak akan ada yang mengganggunya saat makan, mulai hari ini tidak akan ada yang merengek minta es cream padanya.
"Phuupu bakalan kangen banget sama Ar"
"Ar juga bakal kangen sama Phuupu"
"Sekarang gak akan ada yang ganggu kita lagi ya Dad" sahut Gita sembari mengelap air matanya.
Safa mendekat, ia langsung memeluk Gita dengan erat "Makasih atas kebaikan Tante selama ini, terima kasih atas kasih sayang yang Tante berikan pada Safa dan Arnold ! maaf kalau Safa ada salah sama Tante" ucap Safa dengan isakan tangis.
"Sama-sama Nak, Tante sebenarnya sangat erat melepaskan kamu, tapi Tante paham kalau kamu punya keluarga disana. Tante hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu dan Arnold. Kelak datanglah kesini lagi !"
"Pasti itu Tan, Safa pasti akan kesini lagi"
Safa melepaskan pelukannya, begitupun dengan Arnold yang saat ini sudah berpindah di gandongan Orlando.
__ADS_1
"Ini yang paling aku tidak suka kenapa setiap pertemuan pasti ada perpisahan nya" ujar Aroon.
"Namanya juga hidup Dad" sahut Orlando.
******
Perlahan mobil yang Orlando bawa meninggalkan perkarangan rumah megah itu, Safa masih menatap ke kaca spion dimana Aroon dan Gita masih saja melambaikan tangannya.
"Kasian Tante sama Om" gumam Safa Tapi masih bisa di dengar oleh Orlando.
"Apa mau di batalkan pulangnya ?" sahut Orlando.
"Ya enggak dong Ndo, kalau di batalkan terus bagaimana aku bisa menyelesaikan masalah rumah tanggaku"
"Makanya jangan sedih lagi"
Sesampai di Bandara Orlando langsung membantu membawakan barang-barang Safa dan Arnold. Sementara Safa dan Arnold duluan naik kedalam pesawat. Arnold menggunakan kaca mata hitamnya sehingga ketampanan anak laki-laki itu benar-benar terpancar.
********
"Sudah lebih dari 5 tahun dan Safa belum juga kembali" desah Febri.
Ia sudah semakin tua sekarang umurnya sudah 45 tahun tapi ia masih setiap menanti Safa dan buah hatinya.
Febri masih yakin kalau Safa dan anaknya masih hidup, walau ia tak tahu dimana keberadaan mereka sekarang. Tapi Febri berharap tuhan cepat mengabulkan doanya supaya Safa lekas kembali.
"Jika nanti kamu kembali Mas rasanya akan minder bertemu dengan mu, karena kamu masih muda dan Mas akan semakin tua. Lihat saja uban Mas sudah mulai nampak" gumam Febri dengan menatap wajahnya di pantulan cermin.
Ia masih betah tinggal di apartemen walaupun sekarang hanya seorang diri karena Bi Rita sudah mengajukan risegn 2 tahun yang lalu, Febri sudah mencari pengganti Bi Rita namun belum menemukan yang pas.
1 Minggu yang lalu Febri mengunjungi rumah mantan mertuanya, yaitu ibunya Desi yang sudah berpulang tepat di saat Desi di nyatakan bebas. Entah dengan cara apa Desi bisa bebas secepat ini.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
SEBENTAR LAGI AKAN ADA PERTEMUAN FEBRI DAN SAFA.. AYO SIAPA YANG KEMAREN NUNGGUIN TERUS ??
__ADS_1