Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 16


__ADS_3

Klinik Kartika, itulah yang akan menjadi tujuan Safa sekarang, ia akan menemui seseorang yang sudah membuatnya berbadan dua seperti ini.


Langkahnya terlihat buru-buru saat menuju seorang tukang ojek pengkolan, setelah memakai Helm Safa langsung mengatakan tujuannya sekarang.


Tak cukup memakan waktu yang lama sebuah klinik yang lumayan besar sudah terlihat oleh mata Safa, rasanya sudah tak sabar bertemu dengan Febri.


"Kembaliannya ambil aja Pak !" ucap Safa sembari menyerahkan uang berwarna biru yang berjumlah 50.000.


"Makasih Neng" balas si bapak ojek, namun tak lagi di jawab oleh Safa karena wanita cantik itu sudah melenggang pergi menuju klinik.


Safa memasuki klinik tersebut, ia mendekati meja resepsionis.


"Ruangan dokter Febri dimana ?" tanya Safa, namun matanya terlihat menyapu sekeliling guna mencari laki-laki itu.


"Mau ada keperluan apa ? USG atau mau program kehamilan ?" tanya balik sang resepsionis.


"Jangan banyak tanya mbak, kasih tau aja dimana ruangannya !"


"Ruangannya ada di sebelah sana, tapi gak bisa sembarang masuk karena harus daftar dulu !"


Safa mengikuti kemana arah tangan resepsionis itu menunjuk, tanpa bertanya lagi Safa langsung berjalan hendak memasuki ruangan Febri, namun langsung di tahan oleh seorang wanita yang lain.


-----


Sementara di ruangan Febri, laki-laki itu sedang memeriksa pasien. Setelah memeriksa seperti biasa Febri akan menjelaskan dan menuliskan vitamin.


Hingga suara pintu yang di buka dengan paksa membuat Febri dan kedua orang di depan nya kaget.


"Maaf kak, orang ini memaksa masuk padahal sudah kami larang !" ucap Bidan Nia.


Febri menatap kearah Safa, lalu berdiri "Biarkan dia masuk, dia keponakan saya. Tadi saya lupa memberi tahu kalian" ucap Febri.


Rasanya Safa ingin tertawa mendengar kata keponakan yang Febri ucapkan "Setelah kau tau kalau di rahimku ada anakmu, apa kau masih akan mengakuiku sebagai keponakan di hadapan orang lain" batin Safa.


"Baiklah Kak" bidan Nia kembali keluar dari ruangan Febri, sementara Safa berjalan dan duduk di atas ranjang dimana tempat pasien hendak melakukan USG.


Safa memperhatikan Febri menjelaskan semuanya pada pasien.


Setelah melakukan pekerjaan nya Febri menghampiri Safa namun tak lupa ia mengatakan pada Asistennya kalau saat ini ia sedang tak bisa di ganggu.


"Kamu kenapa hemmm ? apa yang membuatmu sampai datang kesini ?" tanya Febri sambil menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Safa.


Safa mengeluarkan sebuah tespack dari dalam tasnya, lalu ia berikan pada Febri "Aku hamil Mas !" ucap Safa langsung.

__ADS_1


"Kamu serius ?"


"Mas lihat sendirikan disana ada dua garis merah, Mas kan dokter kandungan pasti tau kan apa arti garis itu"


Mata Febri begitu fokus menatap sebuah tespack dimana dua garis merah begitu jelas disana. Jantung Febri berdegup sangat kencang tangannya bergetar memegangi tespack itu


Sudah sekian tahun Febri menantikan semua ini, dan kini ia mendapatkan nya seorang anak yang akan hadir di tengah-tengah kehidupan nya.


Entah perasaan apa yang kini Febri rasakan, bahagia ?? atau sedih ?


"Aku gak mau hamil Mas, aku belum siap menjadi ibu" ucap Safa tiba-tiba.


"Kita USG dulu ya !! untuk memastikan semuanya" balas Febri.


"Apanya yang mau di pastikan Mas ! itukan udah jelas. Mending Mas cariin cara buat gugurin anak ini"


Mendengar hal itu Febri begitu terkejut, ia tak menyangka kalau Safa akan berpikiran seperti itu.


"Jangan pernah berpikiran seprti itu Fa, anak itu gak berdosa. Kamu tega membuangnya ? lagian Mas sangat menginginkan anak Fa jadi tolong rawat dia dengan baik"


"Aku enggak Mau Mas, kalau kamu mau anak kenapa gak minta sama istri kamu"


"Kalau dia bisa udah aku lakukan Fa" batin Febri.


"Pokoknya Mas tidak akan setuju Fa kalau kamu akan melakukan itu, mas juga berhak atas anak ini karena Mas Ayahnya"


"Coba kamu pikir ulang Mas, kita ini gak ada hubungan apa-apa, aku gak mau punya anak tanpa suami"


"Mas akan menikahimu"


Safa tercengang, Febri akan menikahinya ? itu berarti ia akan menjadi istri kedua dari pria itu. Cobaan apa lagi ini.


"Kita akan menikah Fa, tapi secara sirih dulu ya ! nanti Mas janji akan cepat menikahimu secara resmi" sambung Febri lagi.


Safa menggelengkan kepalanya dengan bendungan air mata yang siap meluncur dengan deras.


"Maaf Mas Fa, maaf" ucap Febri merasa bersalah.


"Maafmu tak akan membuat kehidupan ku berubah Mas" Balas Safa lirih.


"Mas tau itu, tapi Mas mohon tolong jaga dia dengan baik !" kali ini telapak tangan Febri mengelus perut Safa yang masih rata.


"Kita USG ya !! kita lihat dia di dalam sana"

__ADS_1


"Emang bisa ?"


"Ya bisalah ! makanya kamu tiduran biar Mas yang melakukan nya"


Karena penasaran Safa menurut, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang , sementara Febri menyiapkan alat USG. Saat Febri akan membuka baju Safa semua itu langsung di tahan oleh Safa.


"Kenapa ?" tanya Febri heran.


"Mas mau ngapain ? kenapa buka baju ? aku kan malu" tanya Safa.


Febri mengu lum senyumnya, "Mas kan hendak melakukan USG kalau baju kamu gak di buka bagaimana Mas akan melakukan nya, percayalah Mas tidak akan ngapa-ngapain kamu"


Safa mendelik kesal demi mendapati kata enggak akan ngapa-ngapain yang di ucapkan Febri.


Safa menurut ia membuka bajunya, setelah itu ia merasakan ada rasa dingin di perutnya, entah apa itu. Kemudian ia merasakan ada alat yang di tekan Febri keperutnya.


Febri menatap kelayar monitor dengan seksama, sesaat kemudian Febri langsung tertegun saat melihat sebuah titik dimana akan menjadi calon anaknya dan Safa kelak.


Memang belum berbentuk janin karena saat ini menurut pemeriksaan Febri kandungan Safa baru saja 4 minggu. Namun ia sudah sangat bahagia karena semua itu sudah membuktikan kalau Safa benar-benar hamil.


"Alhamdulillah sehat, Mas akan resepin vitamin ya buat kamu" ucap Febri.


"Katanya bisa lihat bayinya, mana perasaan tadi aku perhatiin enggak ada apa-apa. Cuman layar dengan warna hitam putih saja" balas Safa yang masih menatap layar monitor besar di hadapannya.


"Cuman Mas yang tau" jawab Febri terkekeh. "Nanti bakalan jelas terlihat kalau udah besar kandungannya" sambung Febri lagi.


"Tau ah, aku mau pulang" Safa bangkit dan hendak pergi namun langkahnya langsung di tahan oleh Febri.


"Pulangnya sama Mas, dan nanti malam kita akan menikah !" ucap Febri.


"Terserah ! tapi aku mau pulang sendiri"


"Pulang sama Mas Fa, ingat ada anakku disana !" tunjuk Febri pada perut Safa..


...


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...


AYO DONG KASIH SEMANGAT AUTHORNYA, DI FAVORITIN NOVEL INI, SOALNYA AKU LIHAT YANG MENCET FAVORIT BARU SEDIKIT..

__ADS_1


__ADS_2