
Selama bekerja entah kenapa Orlando merasa tak tenang, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, entah apa itu ia sendiripun tak paham.
Akan tetapi pikirannya terus tertuju pada Safa, padahal ia baru saja bertemu dengan Safa. Sekarang dengat amat terpaksa Orlando harus meninggalkan rapat penting ini.
"Sial, kenapa aku selalu memikirkan Safa ?" runtuk Orlando kesal. Bukan tak bahagia hanya saja Orlando ingin fokus dengan pekerjaan nya dulu.
Segera Orlando menghubungi nomor Safa akan tetapi yang menjawab hanya lah suara seorang wanita, tapi jelas itu bukanlah suara Safa melainkan suara operator yang mengatakan kalau nomor Safa diluar jangkauan atau tidak aktif.
"Safa kemana ya ? kok nomor nya gak aktif"
"Apa karena ini aku gak bisa konsen bekerja, sebaiknya aku pulang dan cek keadaan Safa dulu"
Akhirnya Orlando memutuskan untuk pulang dulu, dan akan kembali ke kantor setelah mengecek keadaan Safa.
Selama dalam perjalanan pulang, Orlando melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entah kenapa Orlando merasa perjalanan nya kali ini sangat lah lama padahal biasanya hanya di tempuh dengan waktu kurang lebih 20 menit.
Beberapa saat kemudian Orlando telah tiba di rumah minimalis yang ia belikan untuk Safa. Tanpa menunggu lama Orlando langsung masuk kedalam rumah sembari mengucapkan salam.
"Assalamualaikum" teriak Orlando.
"Waalaikumsalam" jawab Wina yang kebetulan berada di dapur.
"Oh nak Ando, ada apa nak ?" tanya Wina heran karena sepertinya ia melihat wajah Orlando penuh dengan kekhawatiran.
"Safa mana bu ?"
"Apa Safa sudah menceritakan kejadian tadi ya sama Ando ?" batin Wina penuh tanda tanya.
"Bu, Safa mana ? soalnya ponselnya gak aktif" kembali Orlando bertanya.
"Safa ada di kamar nak, dia sedang istirahat."
"Boleh saya masuk kesana Bu ?"
Wina tampak berpikir sebentar, ia seharusnya tak mengizinkan Orlando masuk kedalam kamar putrinya, karena walau bagaimanapun Orlando dan Safa belum Sah menjadi suami istri, akan tetapi mengingat kesedihan putrinya tadi mau tak mau Wina menyetujui, mungkin saja Orlando bisa memberikan solusi yang sedang di alami putrinya.
"Silahkan nak, tapi jangan macam-macam ya" ucap Wina memperingati.
"Haha, gak mungkin lah bu saya macam-macam. Saya cuma mau memastikan keadaan Safa saja bu" balas Orlando meyakinkan.
"Iya ibu percaya sama kamu, ibu hanya memperingati saja nak"..
Orlando mengangguk, setelah mendapatkan izin ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar Safa. Saat pintu terbuka yang Orlando lihat adalah Safa yang sedang berbaring membelakangi posisinya saat ini.
"Dia sedang tidur ternyata" gumam Orlando yang berjalan pelan mendekati Safa.
Orlando menatap wajah Safa, hingga akhirnya Orlando melihat bekas lelehan air mata di mata Safa.
__ADS_1
"Dia habis menangis ? karena apa ya ?"
Merasakan ranjang yang di tempati bergerak Safa akhirnya membuka matanya, ia terkejut melihat kehadiran Orlando yang kini sedang duduk di ranjang miliknya.
"Ando"..
"Iya"..
"Sedang apa kamu disini ?"
"Kangen sama kamu" jawab Orlando terkekeh.
Safa bangun ia mendudukan diri di bibir ranjang "Aku beneran nanya serius Ndo, kamu ngapain kesini ?"
"Memangnya aku gak boleh ya nemuin pacar aku sendiri ?"
Safa terkekeh pelan "Udah ah becanda nya !"
"Kenapa menangis ?" kali ini pertanyaan Orlando terlihat serius membuat Safa langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
"Siapa yang nangis, enggak kok" jawab Safa berbohong.
"Aku paling gak suka di bohongi Fa, ayo pilih kamu lebih baik jujur atau aku cari sendiri"
Safa langsung terdiam, haruskan ia menceritakan semuanya pada Orlando, tentang bagaimana Febri menyuruhnya memilih..
"Tadi Mas Febri datang kesini Ndo"
"Ngapain ?" tanya Orlando heran.
"Dia akan mengizinkan aku menikah dengan kamu Ndo, dengan satu syarat" Safa terpaksa menggantung ucapannya.
"Apa syaratnya ?"
"Aku harus menyerahkan Arnold untuk di rawat oleh Mas Febri, dan aku tidak boleh bertemu dengan Arnold lagi"
Mendengar hal itu Orlando kaget, sekarang ia mengerti kenapa Safa menangis, tentu saja wanita cantik itu tertekan dengan syarat yang Febri katakan.
Bagaimana bisa Safa rela berpisah dengan Arnold, seseroang yang sangat Safa perjuangkan selama ini, banyak rintangan yang Safa lalui demi melahirkan Arnold kedunia ini.
"Brengsek" umpat Orlando kesal.
"Aku gak mau Ndo menyerahkan Arnold sama mas Febri, tapi aku juga gak mau pisah sama kamu Ndo" Safa mulai terisak membuat Orlando menariknya kedalam pelukan.
"Aku janji akan menyelesaikan semua ini Fa, kamu tenang aja"
***********
__ADS_1
Malam harinya Febri sedang menunggu pesanan makanannya datang, kini ia tinggal sendiri karena kedua sahabatnya sudah pulang sejak tadi. Febri juga tak tega jika harus merepotkan Ardi ataupun Yohan lagi karena baginya pertolongan yang di berikan oleh dua sahabatnya itu sudah lebih dari cukup.
Tiba-tiba suara bel berbunyi, Febri mendorong kursi roda menggunakan kedua tangan, ia yakin itu adalah kurir yang mengantarkan pesanannya.
Ceklekk.
Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Febri saat melihat kehadiran Orlando.
"Mau ngapain anda kesini ?" tanya Febri.
"Saya mau bicara dengan anda" jawab Orlando mantap.
"Kita gak punya urusan, jadi untuk apa kita bicara"
"Tentu saja kita ada urusan, anda lupa kalau Safa adalah kekasih saya"
Febri kembali kesal mendengar ucapan Orlando yang mengatakan kalau Safa adalah kekasihnya walau itu adalah sebuah kenyataan, tapi Febri berusaha menepis semua ini, baginya sampai kapanpun Safa akan tetap menjadi miliknya.
"Bicarlah ! waktu saya tidak banyak" ucap Febri akhirnya mengala.
Tanpa di persilahkan Orlando langsung menarik kursi, dan duduk di dekat Febri.
"Saya mau nanya, kenapa anda memberikan syarat pada Safa, yang anda sendiri tau kalau Safa tak akan mampu memenuhinya" tanya Orlando masih dengan nada santai, ia ingat dengan pesan Wina untuk jangan emosi.
"Karena dengan cara itu Safa akan kembali padaku" jawab Febri enteng.
"Anda tau kan kalau Safa sudah tidak mencintai kamu lagi, jadi tolong biarkan dia memilih yang terbaik untuknya, selama menikah dengan kamu sudah banyak rasa sakit yang dia rasakan, bahkan hampir kehilangan nyawanya"
"Makanya saya ingin menebus semua kesalahan saya dulu"
"Bukan dengan cara ini anda menebusnya"
"Terserah saya dong mau pakai cara apa" bentak Febri kemudian.
Orlando menghelas nafas panjang, ia masih berusaha sabar menghadapi sikap Febri.
"Apa dengan cara kamu memaksa Safa kembali seperti ini akan membuat Safa bahagia ?"
"Iya, dia pasti akan bahagia, apalagi ada Arnold sebagai pelengkap kehidupan kami" jawab Febri sembari tersenyum.
Orlando mengeraskan otot-otot tangannya, rasanya ia ingin sekali memukul Febri untuk membalaskan rasa sakit Safa tadi...
"Seharusnya anda mundur saja dan ikhlaskan Safa kembali padaku" ucap Febri membuat Orlando naik pitam.
----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...