
Keesokan paginya Safa kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan Febri, ia juga akan mengatakan pada Febri kalau hari ini adalah hari terakhirnya merawat Febri. Semalam Safa sudah memantapkan pilihannya kalau perasaannya pada Febri sudah berubah..
Ada satu nama yang begitu besar yang kini bertakhta di hatinya, bodohnya Safa baru menyadari semua itu setelah sikap Orlando berubah padanya.
Ceklekkkk.
Pintu ruangan Febri perlahan namun pasti terbuka, Safa baru safa muncul dari balik pintu membuat senyum di wajah Febri mengembang sempurna. Begitupun dengan Ardi dan Yohan yang langsung menarik nafas legah karena akhirnya mereka bisa pulang setelah semalaman menjaga Febri.
"Assalamualaikum" ucap Safa sembari tersenyum.
"Waalaikumsalam" jawab, Febri, Yohan dan Ardi serempak.
Safa berjalan lalu meletakkan tas jinjingnya di atas meja nakas, di lihatnya makanan Febri masih utuh belum berkurang sedikitpun.
"Mas sengaja belum makan soalnya nungguin kamu" ucap Febri membuat Safa menoleh kearahnya.
"Ya sudah makanlah Mas, aku kan sudah disini" jawab Safa.
Ardi dan Yohan saling melirik kemudian keduanya mengangguk secara serempak.
"Kita pulang dulu ya Fa, tolong di jaga bayi tua ini" Ardi terkekeh pelan sembari menunjuk Febri.
"Iya Fa, kalau ada apa-apa jangan sungkan ngabarin kita berdua.. Kita udah biasa kok di repotkan oleh Febri" Yohan pun ikut menggoda.
"Brengs*k kalian berdua" Febri memberi tatapan tajam kepada kedua sahabatnya itu akan tetapi di balas dengan tawa meledak.
Safa hanya menampilkan senyum tipis.
"Hati-hati ya Mas Ardi dan Mas Yohan, terima kasih sudah menjaga Mas Febri semalam"
"Sama-sama Fa, kita pamit ya"
Safa menjawab dengan anggukan, hingga tak berapa lama ruangan Febri menjadi sunyi setelah Ardi dan Yohan pulang kerumah masing-masing.
"Gimana keadaan Arnold ? dia gak nangis kan saat kamu tinggal tadi ?" tanya Febri.
"Enggak kok Mas, dia baik-baik saja kan ada Ibu yang jagain"
Febri mengangguk "Kata dokter besok aku udah di bolehkan pulang Fa" jelas Febri,ia menatap lekat wajah Safa demi melihat reaksi dari wanita itu saat ia mengatakan kalau besok sudah di perbolehkan pulang.
"Syukurlah Mas" jawab Safa tanpa ekspresi membuat Febri merasa kan keanehan.
"Kamu punya masalah Fa ?"
"Tidak"
"Lalu kenapa kamu murung terus ? apa ada pikiran yang mengganggu mu ?"
__ADS_1
"Tidak ada Mas, ayo buka mulutmu ! ini makanan nya sudah dingin"
Saat tangan Safa hendak menyendokan makanan kemulut Febri, dengan sigap Febri menahan nya.
"Katakan Fa ! jangan bohong seperti ini !"
Safa menghela nafas panjang, memang banyak sekali yang mengganggu pikirannya saat ini, namun entah kenapa satupun tak bisa ia ungkapkan pada Febri. Padahal dari rumah tadi ia sudah memantapkan hati.
Kasihan..
Itulah yang membuat Safa merasa tak tega, keadaan Febri belum membaik jika ia memutuskan untuk tak merawat Febri lagi lalu siapa yang akan menggantikan nya.
"Ayo makan Mas biar kamu cepat sembuh !" Safa berkata dengan lembut membuat hati Febri bergetar.
Akhirnya Febri melepakaskan tangan Safa, lalu membuka mulutnya supaya Safa bisa memasukan makanan itu. Dengan gerakan pelan Febri mengunyah makanan yang tak ada rasa nikmat sama sekali.
"Fa"
"Hmmmmm"
"Setelah Mas sembuh nanti, maukan kamu menikah lagi sama Mas ? kita mulai semuanya dari awal Fa, kita besarkan Arnold sama-sama"
Dengan tatapan yang lekat Safa menatap manik mata Febri, terdapat keseriusan yang Safa temukan.
"Sembuhlah dulu Mas, nanti saja bahas masalah ini"
***********
Dengan sigap Orlando menggendong Arnold, memutarnya hingga Arnold tertawa dengan nyaring.
"Bagaimana kabarmu jagoan ?"
"Aku baik Pa"
Dari kejauhan Wina menatap kedekatan Orlando dan Arnold, ia merasa kasihan pada Orlando yang terus memberikan perhatian lebih pada Arnold padahal Arnold bukanlah darah dagingnya di tambah sikap Safa yang selalu membuat Orlando sakit hati.
"Mari masuk dulu Nak Ando !" ucap Wina saat Orlando menatap kearahnya.
"Terima kasih atas tawarannya Bu, tapi saya disini saja soalnya gak lama juga saya mampir"
Wina menganggukan kepalanya "Safa sedang pergi tapi katanya siang dia akan pulang" jelas Wina walaupun Orlando tak bertanya apa-apa tentang Safa.
Orlando hanya tersenyum tanpa bertanya pun ia sudah mengerti dimana Safa saat ini.
"Kamu pasti sedang merawat mantan suami kamu Fa, semangat ya ! semoga kamu sehat-sehat terus" batin Orlando..
Setelah kurang lebih 1 jam menemani Arnold bermain, Orlando akhirnya pamit pulang, selama 1 jam disana tak sedikitpun Orlando masuk kedalam rumah, padahal rumah itu adalah pemberian dirinya sendiri.
__ADS_1
"Papa mau pamit ya Ar, nanti Papa datang lagi dan main sama Ar lagi"
"Iya Pa, tapi Papa jangan lama-lama ya ninggalin Ar, soalnya Ar kangen sama Papa"
"Siap Nak. Oh ya jangan kasih tau Bunda kalau Papa kesini !"
Wina mengkerutkan keningnya mendengar ucapan Orlando.
"Maaf nak Ando, kenapa ya Safa gak boleh tau kalau Nak Ando kesini ?" tanya Wina penasaran.
"Tidak apa-apa Bu, aku hanya ingin Safa fokus sama kesembuhan Ayahnya Arnold dulu"
Entah kenapa rasanya tidak enak mendengar ucapan itu, Wina mengerti sekali bagaimana perasaan Orlando saat ini, jika saja ia bisa memaksakan kehendak Wina akan segera menikahan Orlando dan Safa.
"Baiklah Bu saya pamit. Assalamualaikum" Orlando mencium punggung tangan Wina kemudian beralih mencium kening Arnold dengan penuh kasih sayang.
*********
Hari sudah semakin siang, disana Febri baru saja terlelap setelah tadi meminum obat yang di berikan dokter, mungkin karena efek obat itu ia sudah tertidur.
Sementara Safa duduk di atas Sofa dengan memainkan ponselnya, ia mengecek aplikasi WhatsApp untuk melihat apakah ada pesan dari Orlando, namun nyatanya nihil.
"Assalamualaikum Ndo"
Pesan singkat itu di kirimkan kenomor Orlando, senyum kebahagiaan Safa tampilkan karena Orlando sedang online bahkan pesan Safa sudah berubah berwarna biru yang menandakan kalau pesan Safa sudah terbaca.
Akan tetapi beberapa menit kemudian tak ada balasan dari Orlando, bahkan tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan mengetik sesuatu.
"Kok gak di balas sih ?"
"Orlando kenapa ya ?"
Akhirnya Safa memutuskan untuk menghubungi nomor Orlando, dan hal yang menyakitkan kembali ia rasakan saat Orlando tak menjawab panggilan darinya.
Hingga tak terasa lelehan air mata mengalir di pipinya, ada rasa sakit yang begitu besar yang Safa rasakan.
"Aku kangen sama kamu Ndo" gumam Safa.
"Kamu menangis Fa ??" tiba-tiba suara Febri menggema membuat Safa langsung menghapus air matanya lalu mendekati Febri.
"Kenapa kamu sudah bangun Mas, apa kamu membutuhkan sesuatu ?" Safa balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaan ku, kamu menangis karena apa ? apa yang sedang kamu pikirkan ?"
----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...
...RATE BINTANG LIMA...