Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 92


__ADS_3

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, begitulah yang Safa rasakan sekarang, mendengar ucapan Febri yang menurutnya tak masuk akal.


"Aku gak akan mau menyerahkan Arnold, kita bisa merawat nya bersama Mas" bantah Safa.


"Itu adalah syarat Fa, kalau kamu mau merawat Arnold jadi kamu harus kembali sama aku dan menikah dengan ku, akan tetapi kalau kamu tetap dengan pilihanmu untuk menikah dengan bajingan itu, berarti kamu harus meyerahkan hak asuh Arnold padaku" balas Febri dengan entengnya.


Ini pilihan yang sangat sulit untuk Safa, bagaimana mungkin ia akan memilih salah satu di antara kedua laki-laki yang begitu berarti dalam hidupnya. Arnold dan Orlando adalah hidupnya.


"Aku gak bisa memilih itu Mas, kamu jangan egois dong !"


"Kamu yang egois Safa bukan aku" bentak Febri kemudian


Air mata Safa sudah menetes dengan deras, membanjiri pipi putih dan mulusnya, Febri melirik sebentar ia membiarkan air mata itu menetes tanpa berniat untuk menghapusnya.


"Aku kasih kamu waktu seminggu untuk berpikir, dan pastikan pilihan kamu adalah yang tepat. Aku gak akan memaksa kamu untuk menikah dengan ku, jika memang kamu mau menikah dengan pria itu berarti waktumu bersama Arnold tinggal seminggu lagi" ucap Febri dengan enteng.


"Tolong mas jangan beri aku pilihan yang sulit seperti ini" Safa memohon dengan sangat dalam pada Febri.


"Itu hanya bagimu yang sulit Fa, menurutku itu pilihan yang gampang sekali"


Safa menggelengkan kepalanya, ia benar-benar heran dengan sikap Febri, tidak ingatkah oleh Febri bagaimana dulu ia harus memilih antara Safa dan Desi. Febri begitu sulit melakukannya dan sekarang kenapa Febri malah menyuruh Safa untuk memilih.


"Aku pamit dulu dan setiap hari aku akan kesini untuk bertemu dengan Arnold" setelah mengatakan itu Febri melambaikan tangannya hingga tak berapa lama Ardi dan Yohan turun dari mobil untuk kemudian membantu Febri naik.


Safa masih diam di tempat, ia menatap nanar mobil yang membawa Febri pergi sampai akhirnya mobil itu sudah tak terlihat oleh matanya.


Di dalam rumah karena tak kunjung melihat Safa masuk, Wina akhirnya memutuskan untuk menyusul.


"Fa" panggil Wina dengan lembut.


Safa menoleh dengan air mata yang masih deras membasahi pipinya.


"Kamu kenapa Nak ? Siapa yang datang tadi ?" Tanya Wina beruntun, ia teramat kaget melihat putri semata wayangnya sedang menangis seperti ini.


"Ibu.....hiks-hiks-hiks" Dengan erat Safa memeluk tubuh Wina. Ia menangis sejadi-jadinya disana.


"Iya ini Ibu Nak, ada apa sayang ? Siapa yang telah membuatmu menangis ?"

__ADS_1


"Tadii, mas Febri datang kesini Bu, dan dia memberikan pilihan yang sulit pada Safa"


"Pilihan ? Pilihan apa sayang ?"


"Mas Febri mengizinkan jika aku mau menikah dengan Ando, tapi dengan syarat aku harus melepaskan Arnold supaya hak asuh Arnold jatuh pada Mas Febri, dan Mas Febri tidak mengizinkan aku untuk bertemu Arnold lagi jika aku menikah dengan Ando" Safa menjelaskan semuanya pada sang Ibu.


Wina mengelus punggung Safa dengan lembut, ia merasa geram dengan sikap Febri yang memberikan pilihan yang sangat sulit pada putrinya


Wina berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menemui Febri untuk membicarakan semuanya, mungkin saja jika dirinya yang turun tangan Febri akan mengerti dan mengikhlaskan Safa bersama dengan Orlando tanpa harus mengorbankan Arnold..


"Sudah jangan menangis lagi, sana kamu masuk terus istirahat dulu ! Tenangkan pikiran kamu" pinta Wina..


Safa melepaskan pelukannya, ia menurut dirinya memang lelah menghadapi rintangan hidupnya seperti ini. Semenjak bertemu dengan Febri ia merasa di penuhi dengan banyak masalah.


"Aku istirahat dulu ya bu !"


"Iya nak, jangan banyak pikiran ! Lihat tubuh kamu udah kurus seperti ini"


Safa hanya mengangguk, ia melangkah dengan gontai masuk kedalam rumah.


***********


"Belum ada hasil apa-apa Ar, entahlah apa rencana ini akan berhasil ?"


"Gue yakin berhasil Feb"


Rencana ini adalah usul Ardi, dia juga tak setuju jika Safa menikah dengan laki-laki lain, makanya ia memberi rencana pada Febri dan Yohan juga ikut mendukung.


"Kita lihat saja seminggu kemudian, apa Safa akan tetap menikah dengan laki-laki itu atau memilih kembali pada Lo" sahut Yohan kemudian.


"Kalau rencana ini gagal, baru kita susun rencana kedua, Lo tenang aja sahabat Lo ini punya segudang rencana" ucap Ardi di iringi dengan tawa menyebalkan.


Febri menganggukan kepalanya, ia harus yakin kalau rencana ini akan berhasil, lagian tidak mungkin Safa akan merelakan Arnold hanya untuk menikah dengan Orlando, begitu pikir Febri.


Tidak berapa lama mobil yang di bawa Yohan sudah tiba di rumah lama Febri, memang tadi sebelum kesini Febri meminta bertemu dengan Safa untuk menjalankan rencananya.


"Mending Lo cari pembantu Feb, biar ada yang masak dan bersih-bersih" usul Ardi setelah membuka pintu rumah.

__ADS_1


"Iya betul, apalagi keadaan Lo yang seperti ini" Sahut Yohan ikut membenarkan.


Febri berpikir sejenak, ia memang membutuhkan seorang pembantu, apalagi dengan keadaan dirinya yang masih di atas kursi roda seperti ini.


"Gue bisa kok bantuin cari pembatu kalau Lo mau" ucap Ardi lagi.


"Ya sudah tolong cariin gue pembantu kalau gitu, 3 kalau bisa dua cewek dan satu cowok. Dan Lo tau kan kriteria seperti apa yang gue inginkan" akhir nya Febri menyetujui usul kedua sahabatnya itu.


"Siap, gue akan secepatnya bawa pembantu kesini"


"Terima kasih sebelumnya"


"Sama-sama"


Rumah ini begitu banyak kenang-kenangan Febri dan Desi, di rumah inilah dulu sering terjadi adanya tawa dan tangis, juga pertengkaran antara Febri dan Desi. Namun sekarang semuanya berubah, semenjak Febri memutuskan berpisah dengan Desi keadaan rumah ini seperti tak terurus.


Di dinding sebuah foto berukuran besar dimana adalah foto pernikahan Febri dan Desi masih menggantung, mungkin lupa di turunkan atau memang Febri tak berniat melepasnya,pasalnya tinggal foto itu yang tertinggal sementara yang lain sudah tidak ada.


"Gak di lepas ?" tanya Yohan yang melirik kearah foto tersebut.


"Belum sempat" jawab Febri enteng.


"Gak nyangkah ya pernikahan kalian yang sudah terjalin sekian tahun harus kandas seperti ini" Yohan ikut menyesalkan berakhirnya pernikahan Febri dan Desi.


"Mau gimana lagi, takdirnya begini kok"


Ardi memeriksa setiap sudut ruangan sebelum pamit pulang, ia memeriksa setiap kamar mandi.


"Air nya ngalir semua Feb, jadi aman semuanya" ucap Ardi setelah selesai memeriksa semuanya.


"Iyalah kan walau gak gue tempati setiap hari ada orang yang gue bayar untuk membersihkan rumah ini" jelas Febri.


"Lah kalau gitu kenapa gak dia aja yang jadi pembantu Lo ?" tanya Yohan dengan melirik ke arah Febri.


"Gue gak suka, dia janda soalnya dan orangnya kegatelan, gue nyuruh dia karena memang gak ada yang lain aja" jawab Febri.


-----

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2