
"Bundaaaa..." tiba-tiba Arnold muncul membuat Safa melepaskan pelukannya, ia menoleh lalu tersenyum kearah Arnold.
"Loh kok kamu bangun nak ? kenapa ?" tanya Safa dengan lembut.
"Ar haus Bun, makanya bangun"
"Siapa dia Fa ?" tanya Wina yang terus menatap kearah Arnold yang terlihat begitu tampan dan menggemaskan.
"Dia Arnold bu, cucu Ibu, anak Safa"
Wina tersenyum kearah Arnold namun tak di balas sedikitpun oleh laki-laki itu. Arnold terlihat sangat cuek bahkan Febri yang dari tadi menatapnya saja tak di gubris sedikitpun.
"Ayo masuk Bu, aku mau ambilin Ar minum dulu" ajak Safa.
Wina dan Febri masuk kedalam rumah milik Safa, hal utama yang mereka lihat adalah tataan yang sangat rapih, bersih dan wangi membuat siapa saja betah di rumah ini.
Bahkan Febri menutup matanya sembari menghirup udara di sekitar dengan sangat nyaman. Ia rindu dengan suasana di rumah seperti ini karena semenjak ia dan Desi resmi bercerai Febri tak pernah kembali ke rumahnya.
"Silahkan di minum Bu Tehnya !" Safa meletakkan dua gelas teh hangat kehadapan Febri dan Wina yang saat ini duduk di ruang tamu.
"Arnold kemana Fa ?" tanya Febri yang tak melihat Arnold bersama Safa lagi.
"Dia langsung lanjut tidur lagi Mas"
"Oh" Febri mengangguk padahal di dalam hatinya yang paling dalam ia masih ingin melihat Arnold.
"Jadi Arnold adalah anak kamu dan Febri Nak ?" tanya Wina pada Safa.
Safa melirik kearah Febri sekilas "Iya Bu, Arnold adalah anakku dan Mas Febri"
"Bagaimana dengan hubungan kalian Nak ? maaf kalau Ibu bertanya seperti ini"
"Aku sudah menjelaskan semuanya sama Mas Febri, jadi Mas Febri sudah tau apa yang harus dia lakukan" jawab Safa.
"Tapi aku gak mau pisah sama kamu Fa, tolong berikan kesempatan sekali lagi untuk Mas, kita sudah punya anak Fa, jadi dia butuh kedua orang tuanya" sahut Febri yang mengerti kemana arah pembicaraan Safa.
"Selama ini aku bisa membesarkan Arnold sendiri Mas, bahkan aku sama sekali tidak menghubungiku, aku berjuang sendiri saat melahirkan dia, jadi aku sudah terbiasa sendiri dan Arnold pun akan mengerti"
"Dia butuh Ayah Fa,.kamu jangan egois" Febri menatap Safa dengan seksama.
"Aku tidak akan melarang kamu jika mau bertemu dengan Arnold"
Wina sedikit memahami perdebatan antara Safa dan Febri, ia tahu putrinya itu mungkin masih merasakan sakit hati dengan Febri, tapi tatapan mata Safa tak bisa membohongi kalau ia masih menaruh rasa terhadap Febri.
Sebagai seorang ibu Wina tak ingin ikut campur, tapi ia juga tak akan membiarkan Safa terlalu muda mengambil keputusan.
__ADS_1
"Safa butuh waktu Febri untuk menerima semua ini, apalagi dengan masalalu nya, kamu tau sendiri kan apa yang kamu lakukan terhadap Safa di masalalu" sahut Wina membuat Febru langsung terdiam.
"Aku ngerti Bu, makanya aku mau menebus semua kesalahan ku"
"Sudah malam Mas, silahkan pulang. Ibu biar tidur disini" Safa berdiri di mengusir Febri dari rumahnya.
Febri paham, ia lantas berdiri dan pamit untuk pulang. Tak lupa Febri mencium punggung tangan Wina dengan sopan.
Setelah kepergian Febri. Safa kembali mendudukan diri dengan tarikan nafas yang panjang, sepertinya permasalahannya dengan Febri belum berakhir.
"Kamu ikuti kata hati kamu Nak ! jangan terlalu muda mengambil keputusan" ucap Wina menasehati.
Safa mengangguk "Mana suami baru Ibu ?" tanya Safa yang baru mengingat Endri ayah tirinya.
"Ibu sudah lama bercerai dengannya semenjak Sara masuk penjara"
"Apa Kak Sara masuk penjara Bu ?"
"Iya Nak, dia masuk penjara karena di jebloskan oleh Febri bahkan Desi juga"
"Mas Febri juga menjebloskan Mbak Desi kepenjara ?"
Wina mengangguk mantap karena memang itulah kenyataannya.
********
Orlando bangkit, kepalanya terasa pusing karena menghabiskan begitu banyak minuman.
"Mau kemana sayang ?" tanya Ranti dengan nada sensual.
"Minggir aku mau pulang" Orlando mendorong tubuh Ranti dengan sisah tenaganya.
"Kenapa mau pulang ? mari kita saling puaskan malam ini" Ranti kembali menggoda Orlando.
"Aku bilang minggir ya minggir, mana mungkin saya mau menghabiskan malam ini dengan mu. Kau bukan level saya dan saya sudah ada wanita yang saya cintai" Orlando berjalan sempoyongan meninggalkan Ranti dengan seluruh kekesalannya.
Ranti menghentakan kedua kakinya di lantai, bisa-bisanya dia di tolak malam ini, biasanya tak perlu banyak usaha akan ada yang akan menariknya kedalam kamar untuk saling memuaskan.
Padahal tadi Ranti sudah yakin kalau Orlando akan takluk padanya, apalagi saat melihat Orlando begitu mabuk namun ternyata ia salah.
Dengan penuh perjuanagn akhirnya Orlando berhasil masuk kedalam mobilnya, ia sudah banyak salah mobil. Disana Orlando tak langsung menjalankan mobilnya ia justru langsung tertidur dengan lelap. Beruntung ia masih sempat mengunci pintu mobil.
**********
Keesokan paginya Orlando terbangun akibat sinar matahari yang menembus kaca mobilnya, matanya menyipit akibat rasa silau yang ia rasanya.
__ADS_1
Orlando memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia sedikit merintih.
"Dimana aku ?" tanyanya pada diri sendiri.
Orlando menatap sekitar "Astaga ternyata aku tertidur disini"
"Aku harus pulang ke apartemen sekarang"
Ia terlihat mencari sesuatu namun tak kunjung di temukan, hingga akhirnya ia sadar kalau Ponsel yang ia cari sudah hancur karena ulahnya sendiri.
"Safa pasti menghubungi aku kemaren"
"Aaaiiiisss, bisa-bisanya karena cemburu aku seperti ini"
Tanpa menunggu lama Orlando langsung menjalankan mobilnya menuju apartemen, begtitu pelan ia lakukan karena kepalanya masih terasa sangat pusing.
Sesampai di apartemen miliknya Orlando langsung masuk.
"Kamu dari mana ?" suara seseorang tiba-tiba membuat Orlando terperanjat kaget.
"Safa ? kok kamu ada disini ?" tanya Orlando heran dengan kehadiran Safa di apartemennya.
"Kamu mabuk ya ?" Safa tak menghiraukan pertanyaan Orlando ia justru mendekat lalu mencium aroma menyengat yang ada di tubuh Orlando.
"Kamu kenapa sih Ndo ? ponsel kamu hancurkan ? apartemen berantakan seperti kapal pecah dan kamu pulang-pulang bau alkohol seperti ini ?"
Orlando terdiam, bukan karena takut menjawab pertanyaan Safa melainkan ia takut mengatakan sebenarnya kalau ia marah karena cemburu.
"Kenapa diam terus Ndo ? kamu kenapa ? kamu ada masalah ?"
"Tidak Fa, aku hanya butuh hiburan saja" jawab Orlando.
"Bohong ! mana ada cari hiburan dengan cara memecahkan ponsel, berantakin apartemen dan mabukan seperti ini"
"Namanya juga laki-laki Fa" Orlando kembali berjalan menuju dapur, ia melempar jaketnya keatas kursi lalu meraih botol Aqua.
"Aku tuh khawatir tau gak sama kamu Ndo, dari kemaren kamu gak bisa di hubungi, makanya aku datang kesini" ucap Safa dengan lirih, ada rasa bahagia di hati Orlando saat mendengar kalau Safa mengkhawatirkan dirinya.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan aku Fa ? aku kan bukan siapa-siapa kamu"
"Kamu udah aku anggap seperti kakak sendiri Ndo, aku banyak berhutang budi padamu"
-----
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...