
Negara Thailand adalah negara tujuan Orlando membawa kabur Safa, pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna di Bandar Udara Internasional Don Muaeng kota Bangkok, Thailand.
Disana sudah menunggu kedua orang tua Orlando dan beberapa perawat serta dokter dari rumah sakit ternama di negara itu.
"Mom"
"Dad"
Seperti biasa Orlando akan mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
"Sudah berani nakal kau ya sampai membawa kabur istri orang seperti ini" ucap Aroon. Daddy Orlando.
Orlando terkekeh pelan "Bagaimana Dad, aku terpaksa melakukan nya soalnya ceweknya cantik"
Aroon ikut tertawa mendengar candaan dari putranya itu, sementara Gita hanya menggelengkan kepalanya.
"Ayo cepat kita harus bawa wanita itu kerumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan yang baik" ucap Gita.
"Iya Mom, sekali lagi makasih ya Mom karena sudah mengizinkan aku untuk membawa kabur Safa"
"Sama-sama, walau awalnya Momy agak takut kamu membawanya kabur, apalagi status dia adalah istri orang, Momy hanya takut kamu celaka Nak" Gita menepuk bahu Orlando dengan pelan
"Momy tenang saja, aku janji akan menjaga diri dengan baik, lagian Safa itu hanya istri sirih suaminya Mom"
Gita menghela nafas pelan lalu kemudian mengangguk, sebelum Orlando ikut masuk kedalam mobil dimana Safa berada, ia mendekati Dokter Wulan dan mengeluarkan sebuah cek yang isinya begitu pantastis.
"Terima kasih dok, karena sudah bersedia ikut dengan kami kesini" ucap Orlando.
"Sama-sama Pak saya melakukan ini hanya untuk memastikan keadaan istri bapak"
Orlando terkekeh ternyata dokter Wulan masih beranggapan kalau dirinya adalah suami dari Safa, tapi tidak apa karena Orlando menyukai itu semua dan berharap suatu hari nanti ia dan Safa akan benar-benar menjadi pasangan suami istri.
Tanpa berlama-lama Orlando memberikan sebuah cek pada Dokter Wulan, dan membuat wanita itu mengernyit bingung.
"Untuk apa ini Pak ?"
"Itu bonos buat dokter sebagai ucapan terima kasih saya karena dokter bersedia menjaga Safa dan memastikan keadaan nya baik-baik saja"
"Tapi itu memang tugas saya Pak, tidak perlu berlebihan seperti ini, lagian saya juga pasti akan dapat bonus dari pihak rumah sakit"
__ADS_1
"Tolong di terima dok ! karena saya tidak suka penolakan"
Setelah mengatakan itu Orlando pergi meninggalkan dokter Wulan, tak peduli kalau dokter Wulan berteriak memanggil namanya.
Dokter Wulan tak bisa ikut kerumah sakit karena detik itu juga ia akan kembali ke indonesia, ia tersenyum menatap nominal cek yang ia terima, bersyukur karena bisa di pertemukan dengan orang sebaik Orlando padahal dirinya tak mengharapkan semua itu, Dokter Wulan bersedia ikut karena kasihan dengan keadaan Safa.
Mobil yang membawa Safa dan yang lain nya sedang melaju dengan cepat, Orlando menatap sekeliling ia merindukan negara ini..
Tidak berapa lama mereka semua tiba di rumah sakit, keluarga Orlando sudah menyiapkan satu ruangan khusus untuk Safa. Ruangan dengan segala kemewahan tentunya.
"Bagaimana apa ruangan ini sudah pas seperti yang kamu inginkan ?" tanya Aroon pada Orlando.
"Iya Dad terima kasih semuanya"
Orlando memang meminta pada Aroon untuk menyiapkan ruangan termewa untuk perawatan Safa, ia ingin Safa merasa nyaman walaupun berada di rumah sakit, Orlando ingat saat Safa di rawat semalam di rumah sakit dulu dimana waktu itu Safa selalu merasa bosan dan gak betah di rumah sakit.
Seorang dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Safa beserta bayi di kandungannya, Orlando tersenyum senang saat dokter mengatakan kalau bayi Safa sehat dan keadaan Safa juga semakin membaik, hanya saja masih ada pembekuan darah di otaknya.
********
Hari sudah berganti pagi, semalaman Febri tak bisa tidur karena memikirkan keadaan Safa, khawatir, cemas dan marah menjadi satu di diri Febri.
"Coba lihat lagi Mas siapa tau sekarang Safa sudah pulang" titah Desi
"Iya Des, aku memang akan datang ke apartemen pagi ini"
"Mau seribu kali kamu mendatangi apartemen Safa tak akan kamu temukan Mas, karena mungkin wanita itu sudah masuk kedalam tanah" ucap Desi dalam hati.
"Ya sudah yuk sarapan dulu, baru kamu berangkat ke apartemen Safa"
Febri mengangguk, ia mengikuti langka kaki istrinya. Di meja makan walaupun tak ada na*su sama sekali tapi Febri tetap memaksakan untuk sarapan. Karena jika pagi ini Safa belum juga kembali Febri akan memutuskan untuk mencari keberadaan Safa dan semua itu tentu akan menguras tenaga.
"Dikit banget Mas sarapan nya ? entar sakit lo kalau makan dikit seperti itu" ucap Desi.
"Aku masih kenyang Des" Febri berdiri dan merapihkan kemejanya. Desi pun ikut berdiri
"Aku pergi dulu ya, semoga saja Safa sudah kembali ke apartemen"
"Aamiin, semoga saja Mas, entar kalau Safa sudah kembali jangan lupa sampaikan salamku"
__ADS_1
Febri mengangguk, setelah Desi mencium punggung tangannya Febri pun langsung melangka pergi.
"Kasihan sekali kamu Mas mencari seorang yang tidak akan kamu temukan" gumam Desi.
"Tapi aku tetap gak boleh tenang dulu, aku harus mencari kemana laki-laki itu membawa Safa pergi, aku cuman ingin memastikan kalau Safa benar-benar sudah lenyap"
Desi segera menghubungi Sara untuk membantunya mencari Safa kesetiap rumah sakit. Ia hanya ingin tau seperti apa keadaan wanita yang telah ia siksa kemaren
*****
Sesampai di apartemen satu yang Febri temukan yaitu kekosongan dan kesunyian, karena sampai detik ini juga Safa belum pulang dan itu membuat Febri menggeram kesal.
"Kamu kemana Safa ? kenapa sampai sekarang belum pulang ?"
"Pergi kemana kamu Fa ? apa kamu lupa kalau kamu sedang mengandung anak ku"
"Awas aja kalau sampai terjadi sesuatu pada anak di kandungan mu aku tak akan memaafkan kamu Fa"
Febri kembali mengecek kamar dan semuanya masih tampak sama seperti kemaren, selimut yang masih berantakan karena belum di lipat, bantal-bantal yang berserakan.
Febri mendudukan diri disana, entah kenapa terbit rasa rindu di hati Febri, bayangan wajah Safa yang menyambutnya dengan senyum mereka terlintas di pikirannnya.
"Safa, kamu dimana Sayang ? Mas merindukan kamu, kenapa kamu pergi tanpa pamit sama Mas ?"
"Apa segitu besarnya kesalahan Mas sampai kamu pergi seperti ini ?"
Febri terus bergumam tak jelas, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dimana Safa sering tidur disana, wangi tubuh Safa masih menempel di seprai itu dan membuat Febri menjadi tenang.
Ia bahkan memeluk erat guling seolah itu adalah Safa.
"Mas kangen Fa, tolong kamu katakan kamu dimana biar Mas jemput"
"Mas janji akan lebih mengutamakan kamu dari pada Desi, Mas janji akan memperbanyak waktu berdua sama kamu Fa, ayo kembali Sayang"
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1