
Ardi yang kebetulan lewat dari lokasi kecelakaan langsung mengenali mobil Febri, ia langsung turun dan mendekat untuk memastikan kalau yang kecelakaan bukanlah Febri.
Semakin dekat Ardi semakin jelas kalau yang kecelakaan adalah sahabatnya, ia mengenali kemeja yang di kenakan oleh Febri.
Sementara sebuah mobil ambulance sudah ada disana, beberapa perawat langsung menolong Febri yang saat sini sudah tak berdaya.
"Febri" Ucap Ardi mendekat.
"Apa anda mengenalnya Pak ?" tanya salah seorang polisi yang memang sudah di tugaskan untuk memantau terjadinya kecelakaan.
"Dia teman saya Pak, dan saya sangat mengenalnya"
"Oh begitu, kondisi teman Bapak cukup parah. Dia akan segera di larikan ke rumah sakit terdekat"
"Saya akan ikut dengan mereka"
Ardi kembali menuju mobilnya, karena situasi sekarang macet parah, akhirnya Ardi meninggalkan mobilnya kemudian menghubungi sopir rumahnya untuk menjemput mobilnya disana..Sementara Ardi kembali kelokasi dan langsung masuk ke dalam mobil ambulance.
"Biar saya yang periksa, saya ini dokter, dia adalah teman dekat saya" ucap Ardi pada seorang perawat yang akan memeriksa keadaan Febri.
"Silahkan !" perawat itu memberikan alat pemeriksaan.
Dengan telaten Ardi langsung memeriksa kondisi Febri, benar saja detak jantungnya begitu lemah membuat Ardi khawatir akan kondisi sahabatnya itu.
"Lo harus bertahan Feb ! jangan kek gini" gumam Ardi
Mobil sudah melaju dengan cepat, Ardi ingin sekali membawa Febri ke rumah sakit tempatnya bekerja tapi ia tak bisa karena pihak polisi sudah memesan mobil ambulance dari rumah sakit terdekat.
Tidak berapa lama mobil sudah berhenti tepat di sebuah rumah sakit, Ardi turun lalu membantu para perawat mengangkat brankar Febri lalu mendorongnya masuk kedalam rumah sakit.
Didepan ruangan IGD Ardi begitu panik, ia menghubungi Yohan untuk menemaninya di sana.
"Halo Ar ada apa ?" tanya Yohan di seberang sana.
"Lo kerumah sakit sekarang ! Febri kecelakaan dan kondisinya kritis, gue sendiri di sini"
"Kok bisa ? gimana ceritanya ? dan Lo di rumah sakit mana ?"
"Lo jangan banyak tanya dulu, gue panik nih sumpah. Gue share lokasi"
"Siap gue meluncur kesana"
Setelah panggilan terputus Ardi langsung mengirimkan lokasi rumah sakit dimana Febri dirawat. Ia bingung karena Febri tinggal sendiri sementara keluarga nya yang lain banyak yang tinggal di Jakarta dan tak ada satupun yang Ardi kenal.
Rasanya Ardi ingin menghubungi Desi tapi menurut informasi yang ia tahu kalau Desi akan segera menikah, Ardi tidak ingin terjadi salah paham antara Desi dan calon suaminya.
Sementara untuk menghubungi Safa, Ardi tak punya nomor wanita itu dan alamat rumahnya ia juga tak tahu.
"Feb, semoga Lo baik-baik saja !"
**********
__ADS_1
"Papa" teriak Arnold melihat kedatangan Orlando kerumahnya.
"Hei" Orlando meregangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan hangat dari Arnold.
"Papa dari mana ?" tanya Arnold.
"Dari apartemen"
"Kok sama Bunda ? bukankah kata Bunda dia mau kepasar"
Orlando melirik kearah Safa, dan membuat Safa langsung menunduk malu karena ketahuan berbohong. Orlando tak suka Safa sering berkata bohong pada Arnold walaupun Safa melakukan itu karena ada alasan.
"Jangan ajarkan dia berbohong Fa" bisik Orlando di telinga Safa
Safa meringis, ia merinding dengan kata-kata Orlando padahal itu hanya kata biasa, tapi entah kenapa bagi Safa itu sebuah ancaman untuknya.
Saat Orlando dan Arnold masuk kedalam. Mang Ucup mendekat.
"Non tadi ada Mas Febri datang kesini"
"Terus Mang ? dia masuk gak ?"
"Enggak Non, kan kata Non Safa dia gak boleh masuk"
"Bagus deh, pokoknya jangan biarkan dia masuk ya Mang !"
"Siap Non"
Mang Ucup tersenyum, kemudian Safa menyusul Orlando dan Arnold masuk kedalam rumah.
Di ruang tamu ia melihat Arnold tertawa bahagia jika dekat dengan Orlando, dan itu membuat Safa semakin yakin kalau ia harus membalas cinta pria itu.
"Sikap kamu ke Arnold juga yang membuat aku yakin untuk berusaha mencintai kamu Ndo, tunggu ya sampai waktunya tiba dan aku akan menerima kamu apa adanya" batin Safa.
"Bunda" panggil Arnold.
Safa tersenyum ia mendekat lalu duduk berhadapan dengan Orlando.
"Ada apa Nak ?" tanya Safa dengan lembut.
"Kata Papa besok aku mau di ajak kekebun binatang, boleh kan Bun ?"
"Boleh kok, tapi Bunda gak ikut ya"
"Lah kan memang Ar gak ngajakin Bunda" jawab Arnold membuat Orlando terkekeh.
Sementara Safa menunduk karena malu, bisa-bisanya Arnold menjawab seperti itu. Apalagi mendengar Orlando yang tertawa membuat Safa semakin malu saja.
"Ar, Bunda kedalam dulu ya !" ucap Safa.
"Iya" jawah Arnold singkat
__ADS_1
Safa pergi kekamarnya, ia menggigit kuku jarinya karena menahan malu yang luar biasa.
"Arnold bisa banget ya bikin Bunda nya malu" gerutu Safa.
*********
Yohan baru saja tiba di rumah sakit, langkahnya yang panjang dan tergesa-gesa berhasil membawanya berada depan IGD.
"Gimana keadaan Febri ?" tanya Yohan.
"Belum tau gue, dia masih didalam masih di periksa sama dokter"
"Astaga, semoga dia baik-baik saja"
Ardi mengangguk, itu adalah harapan terbesarnya, walaupun ia dan Febri hanya sebatas sahabat tapi Ardi begitu khawatir dengan keadaan Febri.
"Lo hubungin Desi deh suruh kesini" pinta Yohan.
"Lo udah gila ? Desi kan udah mau nikah mana mau dia ngurusin Febri dia pasti akan menjaga perasaan calon suaminya"
"Terus kita hubungin siapa Ar ? masa iya kita berdua yang ngerawat dia ?"
"Gue sih gak masalah, soalnya gak ada keluarga yang bisa di hubungi"
"Kalau Safa gimana ? kata Febri kan dia udah balik" tanya Yohan.
"Gue gak ada nomornya dan alamatnya juga gue gak tahu"
Yohan mengusap wajahnya dengan gusar, mereka berdua sama-sama bingung dengan keadaan Febri apalagi tak ada satupun keluarga Febri yang ia kenal.
Tiba-tiba pintu ruangan di buka, seorang dokter keluar.
"Bagaaimana keadaan teman saya dok ?" tanya Ardi khawatir.
"Luka cukup serius, tapi ia berhasil melewati masa kritisnya, sebentar lagi dia akan di pindahkan keruang rawat. Karena pasien butuh perawatan intensif"
"Lakukan yang terbaik untuk teman saya dok" pinta Yohan.
"Akan kami lakukan sebisa kami, mohon doanya"
Sembari menunggu Febri di pindahkan keruang rawat, Ardi dan Yohan mengurus administrasi dan memesan kamar yang pas untuk perawatan Febri.
Saat ini keduanya melakukan sokongan karena baik Ardi dan Yohan tidak ada yang tau pin Atm Febri, mereka akan meminta ganti saat Febri sudah sadarkan diri nanti.
"Ini nih yang harus Febri pertimbangkan, dulu ia punya dua istri tapi apa saat dia sekarat sekarang mereka gak ada yang menemani, itu semua karena keegoisan dia sendiri, coba kalau dia dulu tetap setia sama Desi mungkin sekarang ada yang mengurusnya" ucap Yohan.
----
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1
AYO DONG DI KLIK FAVORITNYA ! BIAR AKU SEMANGAT. SOALNYA BULAN INI AKU TERAKHIR NULIS NOVEL, ENTAH SAMPAI KAPAN AKU BAKAL NULIS LAGI...