
Keesokan paginya Febri benar-benar mengajak Safa untuk pergi ke Mall, ia ingin membahagiakan istrinya kali ini, selama ini Febri belum pernah mengajak istrinya jalan-jalan, makanya hari ini Febri ingin membahagiakan Safa.
"Sudah siap ?" tanya Febri kepada sang istri.
"Udah, yuk kalau mau berangkat"
Febri mengangguk, mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari Apartemen. Saat di dalam lif mereka bertemu dengan Orlando, tapi sikap Safa dan Orlando terlihat biasa saja.
"Mau jalan-jalan ya Fa ?" tanya Orlando basa-basi.
"Iya, sekali-kali nyenangin istri" jawab Febri padahal yang di tanya adalah Safa.
Orlando mengangguk, setelah itu ia tak lagi bertanya apa-apa. Orlando diam sambil menunggu lif terbuka lagi, sesekali ia melirik Safa yang selalu memberikan senyum kearah sang suami.
"Safa sepertinya sangat mencintai suaminya, huuu, kenapa rasanya sakit sekali melihat pemandangan ini" ucap Orlando dalam hati.
Pintu Lif terbuka lebar, Safa kembali menggandeng tangan suaminya dan lagi lagi Orlando memperhatikan semua itu.
Ada rasa sakit yang sulit untuk di jelaskan, tapi ini mungkin sudah konsekuinsinya karena mencintai istri orang.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Setiba di Mall, Febri membiarkan Safa memborong pakaian mana saja yang ia suka, dan ini membuat Safa bingung, karena memang dari dulu Safa tak terlalu suka berbelanja. Ia hanya akan membeli pakaian jika benar-benar membutuhkan.
Tatapan mata Safa tertuju pada sebuah dress berwarna putih, saat ia akan mengambil dress itu sebuah tangan lain juga hendak mengambil dress itu. Safa menatap siapa seseorang yang hendak mengambil pakiaan yang sama dengannya. Dan betapa terkejutnya Safa saat orang itu adalah kakak tirinya yaitu Sara.
Begitupun dengan Sara yang kaget melihat keberadaan Safa disana, namun bukan hanya itu tapi perut Safa yang sudah membuncit yang membuat Sara di buat terbelalak.
"Safa"
"Kak Sara..."
Mata Sara kembali meneliti setiap inci tubuh Safa, kemudian wanita itu tertawa sementara Safa langsung menutup bagian perutnya, karena ia yakin yang sedang di tertawakan oleh kakak tirinya itu adalah bentuk perutnya
"Kamu jual diri dimana Fa, sampai hamil seperti ini ?" tanya Sara penuh dengan penghinaan.
"Segitu miskinnya ya kamu, sampai melakukan itu. Bagaimana ya kalau ibu sampai tau jika saat ini kau sedang hamil ?"
"Aku gak jual diri kak Sara, aku sudah menikah dan tolong jangan kasih tau ibu, aku belum sempat memberi tahu kalian tentang pernikahan ku, tapi aku janji akan memberi tahu semuanya" balas Safa dengan wajah memelas.
__ADS_1
Sara kembali di buat kaget saat mendengar kalau adik tirinya itu sudah menikah, ia sedikit tak percaya akan hal itu.
"Lalu dimana suamimu ? kenapa dia tak menemanimu ?" tanya Sara.
"Itu suamiku disa----" Safa menunjuk sebuah kursi dimana tadi Febri menunggu, namun ternyata Febri tak ada disana.
"Mana ? gak ada siapa-siapa kok ? udah deh kamu gak usah bohong, jujur aja kalau anak kamu itu adalah anak haram"
"Dia bukan anak haram kak, aku benar-benar punya suami" bantah Safa.
"Lalu dimana suami kamu ?" Sara kembali bertanya.
"Mas Febri kemana ya ? tadi kan dia bilang nunggu disana" ucap Safa dalam hati, ia terus melirik sekitar guna mencari dimana suaminya berada.
"Gak ada kan ?" sambung Sara lagi.
"Tadi dia disana kak, aku benar-benar gak bohong" balas Safa dengan nada bergetar.
Tapi Sara tetap saja tak percaya walaupun Safa menjelaskan sampai menangis, ia tetap mengira kalau Safa menjual diri demi menghidupi kehidupan nya selama ini.
Ucapan Sara begitu menyayat hati, air mata Safa tumpah begitu saja, apalagi sang suami tak kunjung ketemu disaat keadaan genting seperti ini. Mungkin jika Febri tak menghilang Sara tak akan menghinanya seperti ini.
Selepas kepergian Sara, niat belanja Safa menjadi hilang, ia mendudukan diri di kursi dimana tadi suaminya berada. Air matanya masih terus menetes.
Tak berapa lama Febri kembali, entah dari mana laki-laki itu, dia pergi sudah sangat lama karena Safa sudah menunggu hampir satu jam.
"Sayang sudah belanja nya ?" tanya Febri.
Safa menggelengkan kepalanya masih dengan kepala menunduk. Membuat Febri heran.
"Kamu kenapa Fa ?" tanya Febri ia mengangkat wajah Safa sehingga Febri tau kalau Safa sedang menangis.
"Kamu menangis ? kamu kenapa Fa ?" tanya ulang Febri.
"Harusnya aku yang nanya Mas, kamu dari mana ? kenapa meninggalkan aku sendiri ?" Safa balik bertanya.
"Maaf tadi Mas ngumpet, soalnya ada teman satu klinik sama Desi, Mas takut dia melihat Mas dan mengadukan semuanya sama Desi. Maaf ya !"ucap Febri tak berperasaan.
"Lagi dan lagi karena takut ketahuan sama Mbak Desi kamu menyakiti aku Mas". ucap Safa dalam hati.
__ADS_1
"Kamu tau gak Mas tadi ada kakak tiriku disini, dan dia menghina aku karena aku hamil, dia mengatakan aku jual diri. Aku ingin memperkenalkan kamu supaya dia tak menghina aku terus, tapi satu jam aku mencari kamu juga tak di temukan" jelas Safa menggebu.
"Maaf Fa, tapi kamu gak usah dengarkan semuanya, yang penting kan kamu gak seperti yang dia pikirkan"
Safa menggelengkan kepalanya dengan jawaban Febri, ia pikir Febri akan benar-benar merasa bersalah lalu marah dengan tindakan Sara. Tapi nyatanya jawaban Febri hanya seperti itu.
"Aku mau pulang Mas"
"Gak jadi belanjanya ?"
"Enggak, aku mau cape mau istirahat"
"Ya sudah kalau gitu, ayo kita pulang"
Lagi dan lagi Safa harus menelan kenyataan pahit, Febri benar-benar bukan suami yang peka.
Safa berjalan duluan, langkah nya begitu cepat sehingga Febri sedikit khawatir.
"Fa, kalau jalan pelan-pelan dong ! ingat kamu sedang hamil sekarang" bentak Febri
"Kamu tu kenapa sih, marah-marah gak jelas seperti ini ? kalau Mas ada salah di jelasin jangan diam terus seperti ini. Kamu gak peduli ya sama anak di kandungan kamu ?" kembali Febri membentak.
"Aku tanya sama kamu Mas, apa kamu peduli dengan ku ? apa kamu peduli dengan perasaan ku ? enggak Mas, yang kamu utamakan selalu istri pertama kamu, sedangkan aku ?" Safa tersenyum mengejek.
"Aku gak pernah kamu perdulikan, kalau memang kamu takut sama istri pertama kamu, kenapa kamu nikahin aku dan melarang aku menggugurkan anak ini ? bukankah kamu sudah bahagia bersama istri pertama kamu ?" Safa mengeluarkan semua kekecewaan nya selama ini, ia berharap dengan cara ini Febri akan mengerti dan sedikit lebih adil kepadanya.
Febri bungkam, ia tak tau menjawab apa ? ia tak pernah menyangka kalau Safa begitu terluka dengan sikapnya selama ini.
"Aku kecewa sama kamu Mas" ucap Safa lagi.
"Maafkan Mas Fa"..
"Capek aku dengar kata maaf kamu Mas, dalam sehari kata itu beribu kali kamu katakan, namun kamu terus nyakitin aku"
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
__ADS_1
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...