Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 54


__ADS_3

Febri pulang dengan penuh tanda tanya, ucapan kedua sahabatnya yang mengatakan kalau Safa di culik kembali terlintas di pikiran nya.


"Apa mungkin Safa di culik ?"


"Tapi siapa yang melakukan nya ?"


Febri terus memikirkan siapa yang membawa sang istri kabur, hingga tak berapa lama terlintas satu nama di pikiran Febri. Nama Orlando lah yang ada di pikiran laki-laki itu.


"Apa jangan-jangan Safa di bawa sama laki-laki itu ya ? kan dia yang dekat dengan Safa ?"


"Ya ya, sepertinya dia yang membawa istriku, soalnya semenjak Safa hilang, aku juga gak pernah bertemu dengan nya lagi"


"Kurang ajar laki-laki itu membawa istri orang" Febri memukul stir mobil dengan kuat.


"Aku harus mencari kemana dia membawa Safa"


Tidak berapa lama Febri tiba di rumah, seperti biasa ia di sambut oleh sang istri. Febri hanya menatap Desi tanpa ekspresi karena semenjak mengetahui kalau Desi pernah mendatangi rumah ibunya Safa membuat Febri kesal dan marah pada Desi. Hanya saja ia enggan untuk meluapkan kemarahan nya.


"Bagaimana kerjaan nya hari ini Mas ?" tanya Desi yang langsung bergelayut manja di lengan sang suami.


"Biasa aja" jawab Febri singkat.


Desi memanyunkan bibirnya, ia merasa kesal dengan sikap Febri yang dingin seperti ini, tapi Desi tak boleh marah ia harus memanfaatkan kesempatan untuk mengambil hati suaminya lagi dan melupakan Safa.


"Kamu mau mandi dulu atau langsung makan Mas ?"


"Mandi, habis itu aku mau pergi lagi. Malam ini aku mau nginap di apartemen"


"Ngapain ?" tanya Desi tak suka


"Nungguin Safa pulang, siapa tau kan dia pulang malam ini"


Desi menghentakkan kakinya, ia semakin kesal saja dengan sikap sang suami. "Safa tu gak bakalan pulang Mas ngapain kamu tungguin sih"


Ucapan Desi langsung membuat Febri menoleh dan menatap sang istri dengan tajam.


"Kok kamu yakin kalau Safa gak bakalan pulang ? jangan-jangan kamu tau ya kemana perginya Safa ?" Febri mendekat membuat Desi gugup.


"Aduh salah ngomong lagi ! gimana nih kalau Mas Febri sampai curiga" ucap Desi dalam hati.


"Jawab Des ! kamu tau kemana perginya Safa ?"

__ADS_1


"En--ggak lah, kalau aku tau ngapain aku ikut nyariin Safa selama ini, buang-buang tenaga tau gak" Jawab Desi mengelah, ia langsung pergi supaya sang suami tak lagi bertanya apa-apa tentang Safa.


Desi menyibukan diri di meja makan, ia membersihkan meja makan yang sudah sangat bersih, tangan nya bergetar karena keceplosan bicara.


"Jangan sampai kamu terlibat dalam hilangnya Safa, kalau sampai itu terjadi aku gak bakalan maafin kamu Des" bisik Febri terdengar menakutkan. Bahkan Desi sampai bergidik ngeri mendengarnya.


Febri masuk kedalam kamarnya meninggalkan sang istri, setelah kepergian Febri barulah Desi bisa bernafas dengan tenang.


"Huuu--huuuu, jangan sampai Mas Febri tau semua ini, kalau sampai Mas Febri tau dia pasti bakalan menceraikan aku" gumam Desi


*********


Malam harinya Desi sengaja menambahkan obat tidur pada minuman Febri supaya sang suami tak jadi pergi dan menginap di apartemen. Ia tak rela jika suaminya itu tidur di ranjang bekas Safa. Ternyata walaupun Safa sudah tak ada di dekat mereka rasa cemburu Desi masih begitu besar.


Febri sudah tertidur dengan nyenyak di atas tempat tidur, sementara Desi sedang teleponan dengan Sara.


"Kamu janji ya untuk menjaga rahasia ini dengan baik, jangan sampai suami saya tau" ucap Desi.


"Iya Tante, lagian ngapain sih aku bongkar semuanya karena gak penting buat ku, yang penting sekarang kita sudah berhasil melenyapkan Safa"


"Bagus deh kalau gitu, aku cuman takut suami ku tau kalau kita yang bikin Safa menghilang"


"Iya itu ada di tante lah, Tante jangan sampai keceplosan kalau bicara"


"Maaf ya Mas kalau aku bikin kamu ngantuk seperti ini, soalnya aku gak relah sih kalau kamu tidur di kasur bekas Pelakor itu" Desi mengelus pipi Febri, namun Febri tak terganggu sedikitpun karena laki-laki itu sudah tertidur dengan sangat pulas.


Desi ikut membaringkan tubuhnya, hingga tak lama kemudian Desi tertidur dengan sangat pulas.


********


Keesokan paginya Febri bangun lebih dulu dari pada Desi, ia memengangi kepalanya karena terasa pusing.


"Loh kok aku tidur disini, bukannya aku mau tidur di apartemen ?" gumam Febri penuh tanda tanya.


Febri berusaha mengingat apa yang hendak ia lakukan semalam, terakhir ia minum kopi buatan Desi dan setelah itu Febri sudah tak ingat apa-apa lagi.


"Kurang ajar kau Des, kenapa kamu kasih aku obat tidur padahal kamu tau kalau aku mau keapartemen" Febri terlihat marah dengan kelakuan istrinya.


Tanpa membangunkan sang istri Febri langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Suara gemericik air membuat Desi terbangun, ia merabah kasur di sebelahnya dan ternyata sudah kosong.

__ADS_1


"Mas Febri" Desi langsung membuka matanya dan mencari keberadaan sang suami dengan ekor matanya.


"Mandi ternyata" gumam Desi saat telinganya kembali mendengar suara gemericik air.


Desi meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal, ia bangun dan langsung keluar kamar, Desi akan mencuci muka di kamar mandi lain saja karena ia juga sudah kebelet.


Saat akan kekamar mandi yang terletak di samping dapur, Bi Ritah memanggil.


"Bu" panggil Bi Ritah.


"Iya Bi, ada apa ?" tanya Desi.


"Ada paket untuk Ibu" Bi Rita memberikan sebuah paket kepada Desi.


Kening Desi mengkerut saat melihat sebuah paket berukuran besar, karena ia merasa tak memesan apa-apa.


"*Paket apa ya ? perasaan aku gak pesan apa-apa"


"Apa jangan-jangan Mas Febri pesenin aku sesuatu ya* ?". Desi tersenyum dan langsung mengambil paket itu.


"Kapan datangnya Bi ?"


"Kayanya semalam Bu, soalnya pagi tadi saat saya nyapu di depan paketnya sudah ada"


"Oh, ya sudah makasih Bi"


Karena penasaran Desi sampai melupakan kalau ia ingin buang air kencing. Desi menarik kursi dan mendudukan diri disana. Dengan semangat Desi membuka paket itu. Ia yakin kalau sang suami memesan kan suatu berharga untuknya.


"Mas Febri begitu sosweet, makasih ya suamiku sayang" kembali Desi bergumam.


Namun saat Desi membuka paket itu, ia langsung terperanjat kaget bahkan berteriak dengan keras hingga membuat Bi Rita yang kembali menyapu teras lari terbirit-birit kearah Desi.


"Ada apa Bu ? kenapa ibu berteriak" tanya Bi Rita.


Tubuh Desi menegang, ia ketakutan luar biasa karena isi paketnya adalah sebuah foto bayi dengan lumuran darah yang banyak.


"Siapa yang ngirim ini ?"


------


...LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


...ADD FAVORIT...


__ADS_2