Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 83


__ADS_3

Safa menuruni anak tangga, pandangan nya fokus pada laki-laki yang kini duduk di sofa ruang tamu bersama sang Ibu. Sementara Orlando berjalan di belakang Safa.


Saat tiba di ruang tamu, Safa langsung mengenali siapa tamunya yang tak lain adalah Ardi teman Febri.


"Mas Ardi" ucap Safa.


"Iya Fa, maaf kalau kedatangan ku mengganggu mu" balas Ardi, ia memperhatikan sosok pria di belakang Safa dengan seksama. Membuat Ardi berpikiran hal lain.


"Apa Safa sudah menikah lagi ya ?" batin Ardi penuh tanda tanya.


"Mas Ardi ada apa ya ? kata Ibu tadi ada hal penting" kini Safa sudah duduk begitupun dengan Orlando, sementara Wina pamit undur diri karena ingin menemani Arnold bermain.


"Begini Fa, Mas kesini mau menyampaikan kalau Febri kecelakaan dia sudah 2 hari tidak sadarkan diri, dan tidak ada yang menjaganya" jelas Ardi


Orlando langsung menatap kearah Safa, apalagi melihat keterkejutan di wajah Safa juga kekhawatiran pada Wanita cantik itu.


"Kecelakaan Mas ?" tanya Safa ulang.


"Iya Fa, kondisinya sih sudah agak membaik karena Febri sudah melewati masa kritisnya. Tapi iya itu tadi aku sama Yohan kasihan sama dia karena gak ada yang urus"


Safa paham apa yang di jelaskan oleh Ardi, karena dulu Febri pernah mengatakan padanya kalau ia adalah anak tunggal di keluarga. Kedua orang tua Febri juga sudah tiada. Safa menjadi kasihan pada Febri walau bagaimanapun laki-laki itu adalah ayah Kandung Arnold.


"Kamu mau gak Fa merawat Febri ? soalnya aku sama Yohan gak bisa kalau ke rumah sakit terus, kami juga ada keluarga dan harus kerja" Tanya Ardi lagi.


Safa melirik kearah Orlando sebentar, kemudian memutuskan hal yang membuat perasaan Orlando menjadi sakit.


"Aku mau Mas, tolong antarkan aku kesana" ucap Safa, ia terpaksa melakukan ini karena kasihan pada Febri, mungkin Orlando bisa mengerti bagaimana kondisi Safa.


"Baik Fa, terima kasih sebelumnya"


Safa menganggukan kepalanya.


"Kalau begitu aku pamit ya Fa, ada kerjaan yang harus aku urus" tiba-tiba Orlando berdiri tanpa menatap Safa ia langsung melangkahkan kakinya keluar.


"Ndo" panggil Safa tapi tak di gubris oleh pria itu.


"Sebentar ya Mas" ucap Safa pada Ardi, ia menyusul Orlando keluar.


"Orlando tunggu !!" teriak Safa.


Orlando menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia bertanya "Ada apa Fa ?"


"Kenapa kamu buru-buru sekali Ndo ? kamu gak mau nganterin aku kerumah sakit ?"

__ADS_1


"Kan aku udah bilang kalau aku banyak kerjaan Fa, lagian kamu bisa berangkat bersama dengan laki-laki itu" jawab Orlando.


"Kamu gak marah kan Ndo kalau aku merawat Mas Febri ?" entah pertanyaan apa yang sedang Safa ajukan.


Orlando terkekeh pelan "Untuk apa aku marah, kita kan tidak ada hubungan apa-apa. Jadi tenang aja kali Fa, kamu bebas kok mau merawat Febri sampai sembuh"


"Makasih Ndo kamu udah ngertiin aku"


Sudut bibir Orlando mengangkat, ia sedang menertawakan dirinya sendiri. "Ya sudah aku pamit ya ! kamu jaga diri baik-baik, ingat kamu masih sakit"


"Iya Ndo, hati-hati di jalan !"


Orlando mengangguk, ia sama sekali tak membalikan tubuhnya, dengan langkah yang panjang Orlando langsung meninggalkan rumah Safa.


Entah bagaimana ia harus menggambarkan perasaan nya sekarang. Sakit dan Kecewa. Mungkin dua kata itu belum cukup tapi Orlando sudah tak bisa mengungkapkan semuanya.


*********


Di rumah sakit Yohan gelisa karena Ardi belum juga datang, padahal ia sudah berpesan kalau jangan lama-lama. Istrinya sudah menelpon sejak tadi untuk menyuruhnya pulang.


Memang semenjak kejadian beberapa tahun silam, istri Yohan tak lagi senang saat bertemu dengan Febri, bukan benci hanya saja istri Yohan kecewa terhadap sikap Febri. Apalagi saat itu Febri memukul Yohan tepat di hadapan anak-anaknya.


"Mana lagi Ardi, gue udah mau balik nih. Kalau enggak perang dunia bakalan terjadi !" gumam Yohan.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka dengan pelan. Ardi masuk membuat Yohan bisa bernafas legah.


"Iya gimana Han, gue harus nungguin Safa dulu soalnya dia harus membujuk anaknya supaya mau di tinggal"


"Jadi Safa mau kesini ?"


"Iya" jawab Ardi singkat lalu berjalan kearah ranjang Febri, ia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga Febri.


"Cepatlah sadar bro, gue udah bawa wanita yang Lo cinta kesini. Dan gue tunggu ucapan terima kasih dari Lo" bisik Ardi.


Yohan mengernyit bingung dengan kelakuan Ardi, namun sebelum berhasil bertanya tiba-tiba Safa muncul membuat Yohan mengurungkan niatnya.


"Assalamualaikum" ucap Safa.


"Waalaikumsalam" balas Ardi dan Yohan serempak.


"Hai Fa, gimana kabarnya ? udah lama gak ketemu" tanya Yohan.


"Alhamdulillah baik Mas Yohan, kalau Mas Yohan sendiri gimana kabarnya ? hehe iya nih udah lama gak ketemu"

__ADS_1


"Ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja"


Safa tersenyum kemudian matanya beralih pada sosok yang kini sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


Febri.


Laki-laki yang dulu pernah menorehkan luka di hatinya, kini sudah tak berdaya membuat Safa begitu merasa kasihan. Perlahan kaki Safa berjalan dan mendekati Febri. Membuat Ardi bergeser sedikit agar memberikan ruang yang cukup untuk Safa.


Baik Ardi maupun Yohan bisa tau kalau Safa masih mencintai Febri, terlihat sekali dari tatapan matanya.


"Hai Mas, ini aku Safa"


"Kamu kapan bangun ? kata Mas Ardi sudah dua hari kamu tidur, kamu gak capek tidur terus ?"


"Ayo buka matanya ! aku nungguin nih"


Ucapan Safa membuat Ardi menatap Yohan.


"Duduk sini Fa !" Ardi memberikan sebuah kursi supaya Safa bisa duduk.


"Makasih Mas Ardi"


"Emmm Fa, aku mau pamit pulang soalnya hari ini jadwal nemenin anak jalan-jalan" sahut Yohan


"Iya Mas Yohan, tidak apa-apa. Mas Febri biar sama aku"


"Aku juga mau pamit dulu ya Fa, entar sore aku kesini lagi" Ardi pun ikut menimpali.


"Silahkan Mas Ardi"


Setelah Ardi dan Yohan meninggalkan ruangan Febri, kini hanya tinggal Safa seorang. Ia membersihkan tubuh Febri menggunakan handuk basa.


Mulai dari telapak tangan, kaki hingga bagian dada. Safa melakukan ini penuh dengan kehati-hatian ia tidak ingin Febri akan merasakan sakit.


"Bangunlah Mas ! katanya kamu mau main sama Arnold" gumam Safa sembari mengelap bagian dada Febri.


Tanpa Safa ketahui diluar ruangan ada seseorang yang kini sedang memperhatikan dirinya, Air mata Orlando mengalir padahal ia sudah berulang kali menahannya.


"Kamu memang masih mencintai dia Fa" .gumam Orlando.


Ia memang mengikuti Safa pergi, bahkan sampai Safa masuk keruangan Febri. Orlando tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Safa. Walau akhirnya sebuah penampakan harus ia lihat.


----

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2