Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 36


__ADS_3

Di kamar Desi kembali menangis, dari tadi ia hanya menahan diri untuk tak menangis sejadi-jadinya seperti ini, walau bagaimanapun Desi punya perasaan dan dia hanyalah wanita lemah.


Mengetahui sang suami sudah menikah lagi begitu menyakitkan untuk Desi, apalagi wanita itu sedang mengandung anak suaminya.


"Kamu jahat mas, kamu tega duain aku" ucap Desi lirih.


Tak berapa lama pintu kamar kembali terbuka, Febri baru saja masuk. Ia menyusul sang istri yang kini duduk di bibir ranjang dengan tangisan memilukan.


"Sekali lagi maafkan Mas, tapi Mas mohon jangan salahkan Safa dalam hal ini karena Safa gak salah."


"Terus saja bela dia Mas. Menurutku apapun yang terjadi dia tetaplah salah"


Febri terdiam, dalam hal ini ia begitu merasa bersalah pada Desi karena telah mengkhianati pernikahan mereka. Tapi jika di suruh untuk meninggalkan Safa, Febri sungguh tak bisa melakukannya.


"Kamu udah gak sayang sama aku Mas ?" tanya Desi.


"Iya masih lah Des, Mas sayang banget sama kamu"


"Terus kenapa kamu lakukan ini padaku Mas, kalau kamu sayang sama aku. Kenapa ?"


"Kan mas udah bilang malam itu Mas mabuk, dan Mas gak sengaja melakukan hubungan itu sama Safa"


"Itu berarti anak yang di kandungan pelakor itu juga tidak kamu inginkan Mas ?"


"Maksud kamu ?" tanya Febri tak mengerti.


"Kamu kan tadi bilang kalau kamu gak sengaja nidurin dia, itu berarti anak di kandungannya juga tak kamu inginkan. Jadi untuk apa kamu pertahankan"


Febri menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti perkataaan sang istri.


"Kamu mau kan gugurin anak itu ?".


"Ya enggak dong, anak itu sangat Mas inginkan. jadi sampai kapanpun Mas akan menjaga dan merawatnya dengan baik" bentak Febri yang terkejut dengan ucapan istrinya.


Karena bagaimana bisa Desi berpikiran seperti itu, dia juga seorang wanita. Sama seperti Safa.


"Kalau Mas Febri tidak mau menggugurkan anak itu, aku yang akan melakukan nya" batin Desi.


**********


Malam telah datang, di luar cuacanya sedang tak bersahabat. Gerimis terus membasahi bumi padahal Safa ingin keluar untuk menenangkan diri.


Sedari tadi perutnya terasa keram, mungkin karena ia belum makan apapun atau karena ia terlalu stres.


Yang sangat Safa butuhkan saat ini adalah seorang teman, tapi siapa ? ataukah Orlando yang akan mendengarkan semua isi hatinya.


Ting Nong--Ting Nong


Suara bel berbunyi, Safa beranjak untuk membukakan pintu, ia yakin itu suaminya karena seingat Safa tadi Febri mengatakan kalau akan kembali malam ini.


Namun ternyata dugaan Safa salah, yang datang bukanlah Febri melainkan Orlando.


"Safa kamu kenapa ? wajahmu pucat sekali ?" pekik Orlando yang terkejut melihat keadaan Safa.

__ADS_1


"Aku gak papa Ndo, kamu ngapain datang kesini ?" tanya Safa.


"Nih" Orlando mengangkat satu buah plastik yang entah isinya apa "Aku ingat beberapa hari yang lalu kamu ingin makan kebab dan burger tadi gak sengaja lewat tempat jualan makanya aku beliin" jelas Orlando lagi.


Safa begitu terharu dengan kelakuan Orlando, laki-laki itu sudah sangat baik padanya.


"Makasih Ndo, tapi lain kali gak usah, aku udah sering ngerepotin kamu"


"Sudah ku katakan, aku tuh nganggap kamu kek adik sendiri tau gak, jadi gak usah sungkan sama aku"


Sudut bibir Safa tertarik ke atas, ia berusaha tersenyum di kala hatinya terluka seperti ini.


"Masuk dulu Ndo ! kita makan ini bareng" ajak Safa.


"Mending makan di samping apartemenku, disana ada tempat yang indah"


Safa menurut, ia mengikuti langkah Orlando. Disana mata Safa di buat takjub selama berbulan-bulan tinggal di apartemen ini Safa tidak tau kalau ada tempat yang bagus seperti ini. Kemerlap lampu dari gedung-gedung pencakar langit menambah keindahan malam itu.


Sebelum duduk Orlando melingkarkan jaket yang ia kenakan ke tubuh Safa.


"Disini kalau malam dingin, jadi pakai jaket dulu" ucap Orlando sebelum Safa bertanya


"Makasih"


Orlando hanya mengangkat ibu jarinya, ia duduk terlebih dahulu di bangku disana, dan setelahnya di susul oleh Safa.


"Ayo makan, sebelum aku habiskan" pinta Orlando.


"Baiklah".


"Kenapa tertawa ?" tanya Safa dengan mulut penuh.


"Kamu lucu kalau makan udah kek orang gak makan seminggu"


"Ya kan ada orang juga yang makan di perut aku Ndo, gimana sih, entar kalau dia udah lahir porsi makan ku pasti akan berkurang"


"Masa sih ? kok aku gak yakin ya ?" Orlando terus menggoda Safa


"Iiihhhh, kamu mah jahat ! " Safa memukul lengan Orlando dengan gerakan pelan.


"Ok-Ok..Enggak lagi. Dan sekarang aku tanya sama kamu, kenapa matamu sembab ? siapa yang membuatmu menangis ?" tanya Orlando dengan mimik wajah serius.


Safa langsung terdiam, entah harus bagaimana dia sekarang. Bercerita atau tidak ? atau memang sudah saat nya Orlando tau kalau ia hanya sebagai istri simpanan Febri.


"Kenapa ?" Orlando kembali bertanya.


"Sebenarnya aku ini hanya istri sirih suamiku, dan tadi istri pertama Mas Febri datang dan marah-marah. Dia begitu membenci aku dan mengatakan kalau aku ini Pelakor" jelas Safa dengan kepala menunduk.


Namun anehnya Orlando tak terkejut sama sekali, sebenarnya laki-laki itu sudah tau semuanya, selama ini ia mencari tau semua tentang Safa. Dulu saat pertama tau memang Orlando kaget karena tak menyangka kalau Safa adalah orang ketiga di rumah tangga orang lain.


Akan tetapi saat melihat karakter dan sifat Safa, Orlando bisa menebak kalau Safa juga tak mau berada di situasi seperti ini. Pasti ada sebuah kesalahan yang membuat Safa harus menjadi istri simpanan.


"Itu adalah konsekuinsi yang harus kamu terima Fa, kamu harusnya sudah tau dari awal kalau menjadi orang ketiga itu pasti akan selalu di salahkan dan tak pernah di anggap benar sekalipun tindakan kita benar"

__ADS_1


"Iya Ndo, aku tau semua itu. Tapi tetap saja aku sakit Ndo"


"Sabar ya Fa, kalau memang kamu sudah tak kuat bertahan lepaskan semuanya Fa ! di luar sana masih banyak yang sayang sama kamu, apalagi umur kamu masih muda. Ada beribu jalan untuk kebahagiaan kamu" ucap Orlando lagi.


Namun Safa menggeleng "Sampai kapanpun aku gak akan pergi Ndo, karena aku mencintai suamiku, aku yakin suatu hari nanti Mas Febri akan berubah dan bisa memilih antara aku atau mbak Desi"


Orlando paham dengan situasi Safa, walau di hatinya begitu ingin Safa mengakhiri semua ini, karena Orlando tak ingin melihat Safa terus menangis seperti ini.


**********


Malam semakin larut, sementara Desi belum juga memejamkan matanya. Pikirannya masih kacau balau dan tak bisa membuat matanya tertutup.


Sementara Febri sudah tertidur dengan pulas, seperti tak ada apa-apa dalam hidupnya.


"Mending aku cek ponsel Mas Febri deh" gumam Desi


Dengan sangat hati-hati Desi mengambil ponsel suaminya. Beruntung Febri tak mengganti kata sandi HPnya. Galeri adalah aplikasi pertama yang Desi buka.


Matanya kembali berair saat melihat foto pernikahan Febri dan Safa, walau disana hanya ada senyum kebahagiaan di wajah Febri, sementara Safa hanya menatap kamera tanpa ekspresi.


Akan tetapi Desi tetap membenci wanita itu.


"Kecil-kecil kok udah jadi pelakor"


"Entah bagaimana ibunya mendidik dia"


"Kamu tu gak pantas jadi istri Mas Febri, kamu lebih pantas jadi anak mas Febri"


Rintitan kata demi kata terus meluncur di mulut Desi, dadanya semakin sesak saat menggeser foto yang lain. Apalagi saat foto hasil USG yang begitu banyak Febri abadikan.


Ia tau suaminya itu sangat menginginkan anak, tapi bukan dengan cara ini.


"Sampai kapanpun aku gak akan mau menerima anak itu, aku juga gak akan rela ada anak orang lain yang memanggil suamiku dengan sebutan Ayah"


*********


Pagi-pagi sekali Febri sudah berada di rumah Yohan, laki-laki sudah tak sabar ingin bertemu dengan Yohan dan menanyakan kenapa Yohan memberi tahu semuanya pada Desi.


Setelah Yohan keluar Febri langsung menghantam wajah Yohan dengan pukulan yang kuat. Sehingga membuat Yohan dan sang istri kaget.


"Apa-apaan ini Feb ? kenapa kau main pukul aja ?"


"Brengsek kau Yohan, selama ini kau sudah berjanji untuk merahasiakan semua ini sama Desi, tapi kenapa kamu ingkari semuanya ? kenapa kamu kasih tau Desi tentang aku dan Safa" teriak Febri menggema.


Anak-anak Yohan ketakutan dan bersembunyi di belakang sang ibu.


"Desi yang terus mendesak aku Feb, aku tak bisa berkutik lagi. Desi terus memaksa aku makanya aku bilang kalau kamu ada di apartemen. Tapi aku gak pernah bilang tentang Safa Feb"


"Kau kira aku akan percaya Hah ? "


Melihat anak-anaknya ketakutan Yohan pun tak terima ia menarik Febri menjauh dan kembali lagi di antara mereka baku hantam.


---

__ADS_1


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...


__ADS_2