Cinta Istri Simpanan

Cinta Istri Simpanan
Episode 53


__ADS_3

"Tapi aku gak mau terlalu bergantung sama Tante dan yang lain, kalian sudah begitu baik sama aku."


Gita tak lagi menjawab ia malah menarik kepala Safa untuk bersandar di pundaknya, ia elus kepala Safa dengan lembut. Sehingga membuat Safa tenang dan sangat nyaman.


"Dari dulu Tante begitu menginginkan anak perempuan, tapi setelah kelahiran Orlando. Suami Tante melarang Tante hamil lagi katanya trauma lihat Tante kesakitan saat lahiran" Gita mulai bercerita tentang kehidupannya.


"Dulu Tante lahiran Normal ya ?"


"He.em, walau awalnya Om kamu nyuruh Caesar saja supaya gak sakit, tapi Tante nekat untuk normal... Oh ya Safa nanti mau lahiran normal apa operasi ?" tanya Gita.


"Pengen normal aja Tan, biar aku ngerasain perjuangan menjadi seorang ibu"


"Tante akan doakan yang terbaik untuk kamu. Semoga di lancarkan ya !"


Obrolan kedunya mengalir dengan hangat, Safa masih saja bersandar pada pundak Gita. Ia enggan melepaskan semua itu.


Hingga tak berapa lama mobil berhenti di depan rumah dengan pagar menjulang tinggi. Safa langsung menganga saat pagar terbuka secata otomatis sehingga menampakan bangunan megah dan mewah disana.


"Rumahnya bagus banget" gumam Safa memperhatikan rumah megah itu.


Ini baru dari luar bagaimana dalamnya, pasti akan lebih indah dari ini. Safa tak menyangka bahwa ia akan tinggal di rumah ini.


"Masuk yuk !" ajak Gita.


"Iya Tante"


Setelah pintu utama terbuka, beberapa pelayan datang menyambut dengan hormat, gerakan mereka begitu kompak bahkan saat mereka semua menegakan kepalanya semuanya sama.


"Perhatikan sini sebentar" Gita mulai membuka pembicaraan "Perkenalkan ini Safa, dia adalah anak perempuan saya, jadi saya harap kalian bisa melayaninya dengan baik, dan jangan banyak tanya !" ucap Gita dengan tegas.


"Baik Nyonya" salah satu dari mereka menjawab.


"Syukurlah kalau mereka bisa bahasa indonesia, jadi aku gak terlalu panik saat di tinggal sendiri" batin Safa merasa legah.


"Safa, ini kepala pelayan di rumah ini, kamu bisa bertanya apapun tentang dia. Mereka semua asli indonesi karena walaupun kita tinggal di thailand tapi Dady nya Ando tetap ingin lingkungan rumah di huni semua asli indonesia" jelas Gita.


Safa mengangguk, hingga tak berapa lama Gita menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan Safa ke kamarnya.


**********


"Dimulai dari mana ya permainan nya ? gemes sekali aku lihat wajah mereka" gumam Orlando sambil menatap foto Sara dan Desi.

__ADS_1


Orlando sudah mulai merencanakan untuk membalaskan rasa sakit yang Safa alami, ia ingin Desi dan Sara mendapatkan rasa sakit yang lebih dari yang Safa rasakan.


"Kalau aku langsung jebloskan kalian ke penjara itu terlalu indah untuk kalian. Karena bisa saja keluarga kalian akan menebusi kalian dan aku tak suka itu"


"Kita akan memulai permainan seru saja" tawa Orlando menggelegar memenuhi ruangan nya. Kemudian laki-laki itu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, tugas akan kalian jalankan mulai malam ini, bersiaplah untuk itu" ucap Orlando dingin di sambungan telepon. Entah siapa yang sedang ia hubungi.


"Saya ingin kalian melakukannya dengan baik, jangan sampai ada yang curiga dan tau semua ini"


"Saya tidak suka yang namanya kegagalan, ingat itu !"


Sambungan telepon pun terputus. Orlando menatap lurus kedepan dengan tangan mencengkram ponselnya dengan kuat..


"Bersiaplah menerima kesengsaraan wanita kejam" ucap Orlando dengan geram.


**********


Febri baru saja akan meninggalkan rumah sakit, namun saat di pintu depan ia berpapasan dengan Ardi dan Yohan.


"Sudah mau pulang Feb ? kumpul dulu yuk udah lama kita bertiga gak kumpul" ucap Ardi.


Ardi tak suka melihat persahabatan mereka hancur, makanya ia ingin menyatukan Febri dan Yohan lagi.


"Sorry Di, gue gak bisa" ucap Yohan


"Udah ah jangan banyak alasan, yuk kumpul di kafe depan, gue pingin curhat sama kalian berdua" Tanpa aba-aba Ardi langsung menarik lengan Yohan dan juga Febri. Membuat banyak pasang mata yang menatap ketiganya dengan heran karena berjalan seperti bergandengan.


"Lepas b*go, malu gue di liatin banyak orang, mereka kira kita lagi gandengan" Febri melepaskan lengan nya yang di cengkram oleh Ardi.


"Iya malu gue" Yohan pun ikut melepaskan.


Ardi tersenyum, karena setidaknya Yohan dan Febri sudah saling menyahuti dalam omongan. Hingga akhirnya ketiganya memasuki kafe, seperti biasa ketiganya duduk di bangku paling belakang supaya tak terlalu berisik.


"Mau pesan apa kalian ?" tanya Ardi.


"Biasa"


"Biasa"


Jawab Yohan dan Febri serempak membuat keduanya menatap satu sama lain, kemudian kembali membuang pandangan ke arah lain.

__ADS_1


"Ok siap, tungguin ya gue pesenin bentar"


Saat Ardi pergi memesan makanan dan minuman, Yohan dan Febri hanya larut dalam diam, tak ada yang membuka pembicaraan. Sebenarny Febri tak lagi memikirkan masalah nya dengan Yohan karena semenjak Safa menghilang dalam hidupnya, pikiran Febri selalu tentang Safa.


Telinga Yohan selalu mendengar helaan nafas panjang dari Febri, membuat Yohan penasaran tentang masalah Febri.


"Bagaimana kondisi istri sirih dan calon anak Lo" Akhirnya Yohan membuka pembicaraan.


Febri melirik kearah Yohan kemudian kembali menghela nafas panjang "Mereka menghilang" jawab Febri.


"Hah, kok bisa ?" Yohan kaget mendengarnya.


"Gue juga gak tau, sudah seminggu lebih gue cari Safa dimana dan sampai sekarang dia gak di temukan, pulang ke apartemen juga enggak."


"Memangnya kalian ada masalah apa ?"


Febri menggelengkan kepalanya "Entahlah, tapi sebelum itu aku memang sempat berantem sama Safa, tapi kami sudah baikan"


Tidak berapa lama Ardi kembali "Lagi ngomongin apa sih, serius amat ?" tanya Ardi.


"Safa menghilang Ar, dan sudah seminggu lebih dia gak pulang" jelas Yohan mewakili Febri.


"Astaga kok bisa, Lo udah cari kemana aja Feb ?"


"Gue udah cari dia kemana pun Ar, bahka kerumah nya aja gue datengin tapi Safa seperti hilang di telan bumi, bahkan ponselnya saja gak dia bawa, gue temuin ponselnya di bawa selimut di dalam kamar apartemen" jelas Febri .


Ardi dan Yohan saling pandang "Apa jangan-jangan bini Lo di culik ?" tanya Ardi


"Nah pikiran gue sama kek Lo Ar, bisa jadi Safa di culik soalnya kalau dia mau pergi gak mungkin ponselnya dia tinggal secarakan ponsel itu benda paling berharga"


"Di culik" gumam Febri "Tapi siapa ? dan untuk apa dia menculik Safa ?" sambung Febri lagi.


Secara serempak Ardi dan Yohan mengangkat kedua pundak mereka.


"Kita hanya menebak Feb, bukan berarti itu semua benar" jelas Ardi.


---


...LIKE DAN KOMEN...


...ADD FAVORIT...

__ADS_1


__ADS_2