
Jam 08 pagi Orlando datang kerumah Safa dengan perasaan yang begitu bahagia, bahkan senyum di wajahnya tak pernah pudar sehingga membuat Safa yang sedang membuatkan teh untuk Orlando menjadi heran.
"Kamu kenapa sih kok senyum terus dari tadi ?" tanya Safa heran.
Lagi lagi Orlando tersenyum, ia menatap Safa sembari mengedipkan sebelah matanya, membuat Safa bergidik ngeri dengan kelakuan kekasihnya itu.
"Beneran sakit kayaknya" gumam Safa tapi masih bisa di dengar oleh Orlando.
"Aku sehat Sayang, sangat sehat" balas Orlando.
"Terus kenapa kamu terus tersenyum ?"
Orlando tak menjawab, tak berapa lama segelas teh hangat sudah terhidang di depan nya.
"Fa"
"Hmmmm"
"Nikah yuk"
"Hah ??"
Bagaimana tak tercengang Safa mendengarnya saat Orlando mengatakan kata nikah dengan enteng, Apalagi di tengah permasalahan nya dengan Febri yang tak kunjung usai.
Safa meletakkan telapak tangannya di kening Orlando, membuat Orlando langsung tergelak karena ulah Safa.
"Kamu beneran menganggap aku sakit" ucap Orlando
"Habis kamu ngomongin nikah enteng banget, gak ingat kemaren masalah sama Mas Febri"
"Sih Febri jangan kamu pikiran sayang, mending kita mikirin rencanan nikah saja"
"Kok gitu"
Orlando langsung menarik tubuh Safa sehingga membuat Safa terduduk di pangkuan Orlando. Safa menoleh kekiri dan ke kanan karena takut ada ibu dan juga Arnold yang melihat.
"Turunin ih, entar di lihat sama ibu dan Ar" pinta Safa.
"Diam sayang, mereka gak akan lihat kok, disini cuman ada kita berdua"
"Tapi aku tetap minta di turunin Ndo, udah ah lepasin" ucap Safa yang ingin melepaskan kedua tangan Orlando yang melingkar di perut Safa, namun yang terjadi adalah Orlando mala semakin mengeratkan pelukannya.
Wangi tubuh Safa membuat Orlando begitu nyaman, dan membuat adik kecil Orlando berdiri di bawah sana.
__ADS_1
"Sial, kenapa dia berdiri di saat yang tidak tepat" gerutu Orlando dalam hati dengan penuh kekesalan.
"Diam sayang !! jangan gerak terus, kamu gak kerasa kalau dia sudah bangun" bisik Orlando dengan suara sensual.
Safa menjadi merinding di buatnya, ia sudah tak nyaman berada di posisi seperti ini.
"Makanya aku mau turun Ndo"
Akhirnya Orlando menurunkan Safa, ia juga tak tahan lagi karena adik kecilnya yang sudah menge ras karena ulah Safa yang terus menggesek-gesek pahanya.
"Aku mau bicara serius sayang"
"Ya bicaralah Ndo"
"Ayok kita nikah secepatnya ! aku akan melindungi kamu, Arnold dan ibu"
"Jangan mengada-ngada deh, kamu ingatkan permasalahan dengan Mas Febri"
"Iya aku ingat, makanya aku ngajakin kamu nikah secepatny, supaya Febri tak bisa mengganggu kalian lagi"
Safa masih heran dan bingung dengan ucapan Orlando, kalau dia menikah dengan Orlando secepat ini itu berarti ia harus merelahkan Arnold di bawah sama Febri ?
Tidak !!
"Aku gak bisa Ndo" ucap Safa dengan kepala menunduk.
"Kenapa gak bisa ? apa kamu tidak mencintaiku ?"
"Bukan seperti itu Ndo, kalau aku menikah dengan mu secepat ini, itu berarti aku harus merelahkan Arnold di bawah sama Mas Febri, aku gak mau seperti itu Ndo"
"Itu tidak akan pernah terjadi sayang, Arnold akan tetap bersama kamu walaupun kita menikah"
Kening Safa menampakan lipatan kecil-kecil menandakan kalau dirinya sedang bingung. Akan tetapi sebelum Safa sempat bertanya kehadiran seseorang yang membuat Safa maupun Orlando menjadi sangat kesal.
Bagaimana tidak, ada Febri yang barusan datang dan langsung bergabung dengan Orlando dan Safa.
"Bisa gak kalau duduk jangan deketan gini, kalian itu bukan mukhrim" ucap Febri
Orlando mengangkat sudut bibirnya "Sebentar lagi kami akan segera halal" balas Orlando sengit.
Febri terkejut mendengarnya, akan tetapi ia bersikap biasa saja, ancamannya pada Safa masih sangat ia ingat, apalagi saat ia menatap Safa akan tetapi wanita itu hanya bisa menunduk.
"Oh jadi kalian mau menikah, ya selamat aku ucapkan ! itu berarti Arnold akan segera aku bawa" Ucap Febri dengan tenang.
__ADS_1
"Hahahaha" Orlando tergelak dengan keras, membuat Safa dan Febri kebingungan "Anda tidak akan bisa membawa Arnold, karena anda tidak punya bukti kalau Arnold adalaha anak anda"
Mendengar hal itu Safa langsung menatap Orlando dengan tajam, ia pun mulai berpikir dan ingatannya tertuju pada surat kelahiran Arnold di rumah sakit dulu, disana tertera nama Orlando sebagai Ayah kandung Arnold.
"Kamu masih menyimpan kan surat keterangan lahir Arnold ?" tanya Orlando pada Safa
"Iya"
"Tolong ambilkan, dan perlihatkan sama pak tua ini nama siapa yang tertulis sebagai Ayah nya Arnold"
Safa mengangguk, ia langsung berdiri dan melangkah kekamarnya untuk mengambil surat keterangan lahir Arnold.
Sembari menunggu Safa kembali, Orlando terus tersenyum kearah Febri, membuat Febri kesal karena ia tahu senyum itu adalah sebuah tanda ejekan untuk dirinya.
Tak berapa lama Safa kembali dengan membawa sebuah map, ia memberikan map itu kepada Orlando, dimana isinya adalah surat keterangan lahir Arnold.
"Lihat ini dokter Febri yang terhormat, nama saya yang tertulis disini bukan nama anda, jadi walaupun anda mau membawa kasus ini ke pengadilan anda akan tetap kalah, lagian anda juga tak punya bukti pernikahan dengan Safa" ucap Orlando sembari memperlihatkan kertas tersebut kepada Febri.
"Brengsek, kalian memalsukan data anakku" balas Febri yang begitu marah.
"Kalian akan saya tuntun karena memalsukan data, Adnold adalah anak kandungku, dan kenapa bisa nama anda yang tertulis disini"
"Saya bisa melakukan apa saja dokter Febri, anda tak tau kalau saya punya segalanya, bahkan kekayaan anda tak sebanding dengan saya" Orlando berucap dengan sangat sombong.
Febri terdiam, ia memang tak memegang bukti pernikahan nya dengan Safa walaupun hanya menikah sirih, seandainya dulu ia punya selembar kertas pernikahan sirihnya dengan Safa mungkin semua itu bisa menjadi bukti untuk merebut Arnold.
Namun Febri tetap tenang, walau hatinya bergemuruh tak karuan tapi Febri berusaha terlihat biasa saja, ia harus memikirkan cara lain untuk merebut Safa dan juga Arnold.
Karena bagi Febri, Safa dan Arnold adalah haknya, dan apapun akan ia lakukan untuk merebut kedua orang itu.
"Anda mengala saja, kita berdamai dan saya janji akan merawat Arnold dengan baik" ucap Orlando.
"Cuiiiihhh, jangan mimpi saya akan mengala"
"Lalu apa lagi yang akan anda lakukan, semua bukti kami yang pegang"
"Kau kira saya juga tak punya bukti tentang pernikahan saya dengan Safa ?" Febri tersenyum kearah Orlando.
Safa hanya bisa diam mendengar perdebatan antara Orlando dan Febri.
---
...LIKE DAN KOMEN...
__ADS_1
...ADD FAVORIT...