Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
nasehat ayah


__ADS_3

"berhenti di persimpangan depan ya, do" Bobi mengingatkan sopir yang sudah tahu dimana Aira turun, Aldo kan temannya kakak nya. "makasih jaketnya ya, kak Bobi!" ucapnya sopan mengembalikan. "pakai aja dulu!" menolaknya, mengingat cuacanya gerimis.


Klakson bus berbunyi sopirnya melambaikan tangan ke kak Iyan. Aira berjalan keluar bus sambil mengucapkan terimakasih pada Bobi dan Aldo. Aira menuju ke motor Vixion yang sudah diduduki kakaknya yang sudah siap cap cus.


Begitulah Aira yang tidak pandai mengendarai motor sendiri, kesana-kemari dia akan di jemput antar oleh kakak atau adiknya. jika mereka tidak bersedia maka harus naik ojek deh.


Terkadang hatinya sedih sendiri mengingat kakak dan adik perempuannya yang masih SMP sudah memiliki motor sendiri sedangkan dia belajar saja dilarang apalagi dibelikan. *jangan mimpi*. "Mental kamu nggak kan kuat, nanti jatuh" berkali-kali ayah dan ibunya mengucapkan kata yang sama.


Dulu Pernah sih, Haris dan Dede berkali-kali mengajarinya di lapangan dekat kostnya. kayaknya sudah bisa ,lho. tapi di suatu sore Haris melepasnya sendiri dijalan, Aira yang yang merasa gugup melihat kendaraan di depannya tak dapat mengendalikan kemudi hingga dia terjatuh ke pinggir jalan. sisa kejadian itu masih berbekas di lutut Aira. sejak saat itu Aira semakin trauma dan menghapus semua keinginannya untuk itu lagi. lagi-lagi dia harus ikhlas dengan kelemahannya.


Bagi Iyan hanya butuh waktu sepuluh menit untuk menempuh jarak tiga kiloan kerumahnya. "makasih, kak" tangannya bertumpu pada bahu Iyan untuk turun dari motor yang sedikit lebih tinggi. Aira segera masuk rumah sambil berlari-lari kecil tak lupa dibacanya salam sebelum masuk. tanpa basa-basi Aira menyapa penghuni rumah yang sudah bersiap untuk magrib berjemah. dengan sopan berjalan menuju kamarnya yang disebelah kiri dari ruang tengah.


Meski udara desa lebih dingin daripada kota, Aira tetap mandi di senja ini. ia merasa tak nyaman mengingat tubuhnya terkena kuman orang yang dekatnya tadi. hehe sok bersih lho. Aira membukanya jaket yang di pinjamkan Bobi dan menaruh di gantungan belakang pintu kamar. Diambilnya handuk dan pakaian penggantinya segera menuju kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya.

__ADS_1


Rumah Aira termasuk rumah yang besar menurut standar yang ada di desa, dimana terdapat lima kamar yang masing-masing mempunyai kamar mandi sendiri. halamannya pun luas. penghuninya cuma lima orang. Aira bertiga saudara dan kedua orang tuanya.


tuik... Sifa membuka pintu kamar pelan sekali diintip nya Aira yang mengakhiri shalatnya dengan berdoa. dia duduk di sudut tempat tidur menunggu kakaknya. "ada apa sih, dek?" sapa Aira sambil membuka mukenah nya. "itu ayah dan ibu nungguin kakak makan, ayah dan ibu jadi sedih sejak ditinggal pergi kakak'' menyampaikan sedikit informasi.


Aira memasang hijab sorong nya dan berjalan bersamaan dengan Sifa. kalau di kota tradisinya sarapan bersama tapi kalau di tempat Aira makan malam yang bersama dan tak boleh ada yang absen. hanya dimalam hari mereka bisa berkumpul, sedangkan di pagi hari mereka sibuk di kebun atau di sawah sampai sore baru kembali ke rumah.


"ayo duduklah.." ajak ayahnya. Aira menggigit bibir bawahnya takut akan dimarahi. Aira mengambil piring, mengisinya dengan nasi dan lauk. dilihatnya ke depan kemudian kiri-kanan semua sudah mulai memasukkan makanan ke mulutnya masing-masing dan mengunyahnya. semua fokus pada makanan tanpa ada suara. ayah Aira sangat tegas dalam mendidik ketiga anaknya, mereka takut melanggar aturannya.


setelah makan, tiga wanita yang ada di rumah itu membereskan meja makan, mengangkat piring kotor ke bak cuci, menyimpan makanan yang tersisa dll. sementara ayah menghisap rokok Suryanya bersama Iyan di ruang tengah tanpa menghidupkan tv.


"ya, ayah" ketiga perempuan itu segera menuju ayah meski kerjanya belum selesai.


"tak usah takut, ayah takkan marah kok. kamu kan sudah dewasa" ayah bicara dengan tenang menasehati anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa.

__ADS_1


"kalian sekarang sudah besar, jadi kami harap kalian mengerti, bahwa kami sangat menyayangi kalian bertiga, bagi kami kalian sama sebagai orang tua buat apa kami susah payah banting tulang dari pagi hingga sore ke sawah semua demi kalian,"


ketiga anaknya menundukkan kepala mendengar nasehat ayah. Aira paling cengeng diantara mereka, dia menangis meminta maaf kepada ayah, ibu dan kedua saudaranya sambil bersimpuh salam berjalan mengelilingi semua anggota keluarganya. kemudian kembali'ketempat duduk semula.


"Aira, waktu kamu pergi ke kota, ada orang-orang dari sekolah tinggi UT datang ke desa kita, mereka membuat sejenis kelompok belajar untuk kuliah. belajarnya disini sambil bekerja di sekolah, nanti ujiannya ke kota. atau yang jelasnya kamu tanya saja nanti sama pamanmu yang mengurusnya. kamu sudah didaftarkan, mereka juga sudah mulai belajar" kata ayahnya.


"ya sudah, besok kamu temui buk Wati guru sd45. atau Rita tetangga sebelah" tambah ibunya.


hah... aku bisa kuliah, bisa sarjana, juga bisa kerja *kata hati* rasanya tak percaya. dia mulai memperlihatkan senyum manisnya pada semua. setelah jam sembilan malam mereka mengakhiri obrolan, masuk ke kamar masing-masing untuk sholat isya sebelum tidur.


Malam semakin larut, badan Aira begitu letih sekali. matanya langsung terlelap disaat menempel ke bantal. ini awal perubahan perasaannya, dia mulai lega. hingga lupa mengabari kekasih yang menunggu kabar di sana.


_._._._.._._._._.._._._._.._._.__..__.._.__.._.__.._._.__.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2