
"assalamu'alaikum...." sapa Aira dengan air mata yang tak bisa dibendung lagi.
"alikumsalam....Aira kemana saja sejak lulus kok tak pernah datang!" ibu kost ku langsung memelukku dan mendekatkan pipinya "ada yang nanyain tuh..." tu kan ibu pasti menceritakan anak tetangga nya yang dulu menjadi pacarku. UPS.... sekarang pun masih jadian lho kan belum diputusin...
masih ingin pura-pura bahagia di depan keluarga kedua ini, Aira menyibukkan diri dengan membantu pekerjaan ibu kost nya meski sudah ada pembantu yang mengerjakan tapi Aira tak ingin melihat saja, Aira belajar memasak dan mengajak main herlin anak pemilik kost yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri. karena kali ini Aira tidak menyewa tempat dan menghuni kamar Dede anaknya yang sebaya dengannya yang melanjutkan pendidikan di sekolah tingginya kepolisian. ah...sekolah lagi kapan move on nya dong...
Sore hari Aira menyiram bunga di taman depan rumah, Aira selalu mengerjakan pekerjaan dirumah ini tanpa ada yang mengingatkannya "hai cewek..." Aira terkejut mendengar suara yang sangat khas itu, meski dari depannya ia tak melihatnya tadi karena ia sedang membungkuk melihat tanamannya.
segera ia menegakkan tubuhnya, eh ternyata si pendek sudah berada didekatnya "ada apaan sih..." celetuk Aira yang mulai tak ada rasa padanya sejak keluar dari kost waktu itu.
"kok tidak mengabariku datang cewek...." godanya
"lupa" jawab Aira singkat sambil mematikan kran airnya, pekerjaan sudah selesai.
"ehh...duduk dulu donk" Haris memegang tangannya untuk mengajak duduk di sebuah kursi panjang dimana mereka dulu sering berduaan disana.
"Kemana saja sih ai, aku kangen tau..."masih memegang tangan kanan Aira.
__ADS_1
Aira masih menundukkan kepala dan menjawab "malu..."
Haris berusaha menggenggam erat tangan Aira agar ia mengangkat wajahnya "mengapa harus malu? Bu tata sudah menceritakan semua, mengapa tak mengatakan semua padaku"
jangan sok kamu, kalau kamu tahu aku tidak melanjutkan pendidikan yang ada aku di cemoohin sama kamu anak pak RT.
Aira hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan pacarnya, karena selama satu tahun pacaran Aira tak pernah menceritakan masalahnya pada Haris yang ugal-ugalan itu, ia menjalani pacaran hanya untuk ngajak makan, belanja dan jalan-jalan saja.
"Ai..." Haris memegang dagunya dan memandang lembut wajah Aira yang sepertinya ada serpihan kaca di pelupuk matanya, Haris menghapus pelan dengan telunjuknya yang membuat dada Aira berdegup kencang. tangan kiri Aira memegang pergelangan tangan Haris.
"a..aku malu padamu, bagaimana orang disekitarku akan mengejeku...." Aira tak tahan lagi ingin mengadukan semua perasaannya itu. Haris mendengarkan keluhannya sambil mendekapkan kepala Aira kebahunya sambil mengusap rambutnya dengan lembut.
dasar cowok sinting, kalau diajak bicara serius mulai nggak nyambung, kalau diajak makan atau nonton langsung yes..
"kak Haris, gendong...." Herlin datang mengejutkan mereka Aira bergegas bangun dari sandaran bahu Haris dan menyeka lengan bajunya yang lembab oleh air mata.
"Herlin...sabar ya... Abang mau obatin sakit kepalanya kak Ai nih, lihat mukanya merah karena sakit kepala" Haris mengelak karena masih ingin pacaran setelah beberapa bulan tak bertemu Aira.
__ADS_1
"AbangHaris sih... kalau tak ada kakak tak mampir ke rumah, herlin kangen tau.." sambil berusaha duduk diatas paha Haris "makanya sering main ke sini," Kalau sudah ada herlin tak bisa curhat lagi yang ada mereka hanya menggoda dan menggelitik Herlin sambil menertawainya seperti biasa waktu masih jadi anak kost di rumah ini.
Tak terasa hari mulai magrib, Aira meminta Haris untuk pulang kerumahnya yang hanya berjarak empat rumah dari kost nya itu. Aira bersiap pergi ke mesjid bersama ibu tata dan Herlin sesuai janjinya. usai Aira wudhu "ibu tak bisa ikut ke mesjid karena papamu baru pulang, ajak aja Herlin ya Aira..!
"ya Bu" sambil mengajak Herlin yang usianya mulai 5 tahun. Aira sangat menikmati saat-saat indah bersama keluarga keduanya ini, Karena dirumahnya ia tak pernah merasakan hal sedamai ini, bahkan untuk berbicarapun harus mikir dulu.
Saat tiba di depan rumah sang pacar, langkah Aira terasa canggung, pelan tapi pasti ia melirik rumah Haris yang disebelahnya terdapat toko serba ada, tempat ibu RT jualan eh... ternyata masih duduk di pelanta depan toko, matanya melirik manja. tak lama kemudian pamitan sambil berlari kecil mengiringi langkah Aira, tapi pura-pura manggil Herlin...
"Lin... samaan dong..."
"nggak boleh! kata kakak Ai kalau udah wudhu nggak boleh dekat laki laki tau" Herlin memang mendapatkan dasar agama sejak dekat dengan Aira jadi wajar dong kalau ia patuh sama Aira.
"kak Ai bilang Kalau sentuh bukan dekat Lin, itu yang diajarkan sama Abang.." Aira hanya diam sambil senyum dalam hati mendengar debat anak-anak dengan seorang pemuda yang mulai menginjak mesjid juga karena Aira. dulu aja Haris itu pemabuk, kalau sekolah suka cabut sampai nasehat orang tuanya pun tak didengar. tapi akhir-akhir ini ia mulai mengukirkan tinta kebaikan pada dirinya.
setelah berjalan selama sepuluh menit mereka bertiga sampai di persimpangan depan mesjid, di gerbang itu mereka berpisah karena pintu masuk pria dan wanita berbeda.
gerbang mesjid menjadi saksi cinta dua sejoli ini. Haris selalu menunggu Aira di gerbang depan, Aira sangat dekat sama ibu-ibu jemaah mesjid kompleks jadi salam-salamannya agak lama.
__ADS_1
"gendong..."rengek Herlin yang merasa nyaman dengan dada bidang dan tangan yang besarnya Haris. sekalian bisa jadi alasan bergandeng tangan, dibalik mukenah Herlin dan tak ada yang curiga kan... dengan ini kan si doi semangat ibadanya.