
***Anwar
Anehnya aku punya istri. sama lelaki lain dia bisa tertawa bersenang-senang seperti itu, tapi padaku senyum kecilnya saja begitu mahal dan harus bersusah payah aku dapatkan.
Aku kira dia sakit beneran karena dokter bilang harus bed rest... eh ternyata aku sudah berusaha cepat pulang hanya untuk menontonnya tertawa bersama laki laki brengsek itu.
Ingin rasanya aku mendamprat mulutnya yang berani tertawa bersama Aira, tapi aku tahan demi harga diriku dan takut Aira kepikiran nanti down lagi dia.
_.._.__._
Setelah Tomi pergi Aira langsung menyusul Anwar masuk ke dalam rumah dan membuatkan segelas kopi hangat untuk mengobati lelah suaminya sepulang kerja. apalagi dengan suasana hatinya yang saat ini tidak mungkin tenang meski dengan sepuluh gelas kopipun.
*Dasar lelaki maunya menang sendiri, ini itu nggak boleh selalu wanita yang disalahin padahal kalau nggak penting nggak mungkin juga orang bertamu.
"* Mas, di minum dulu kopinya" Aira menawarkan tanpa menatap wajah Anwar karena Aira tahu Anwar sekarang pasti lagi marah, wajahnya memerah terbakar api cemburu.
"Katanya lagi sakit, kok tertawanya semangat gitu sama dia???" wajah Aira berubah menjadi pucat dibuatnya.
"Mas,,,, dia cuma melakukan tugasnya sebagai ketua kelompok dan dia hanya ingin membantu aku agar tidak ketinggalan semester. dan itu tadi dia kesini minta tanda tangan absen karena hanya aku saja yang belum menyelesaikan..." Aira menjelaskan tujuan kedatangan Tomi dengan kesal namun jujur.
__ADS_1
Anwar menatap tajam kearah Aira, tatapan yang sulit diartikan bagi Aira. "tapi entah mengapa hatiku belum yakin padamu, Ai..." ancamnya.
"Kalau memang diriku begitu, mungkin sejak dulu aku tidak akan pernah menerimamu mas, apalagi sampai aku hamil begini.... hiks...hiks..." Aira sesegukan menahan tangis yang sebenarnya tidak ingin ia tunjukkan.
"Bisakah kamu untuk tidak menangis dan tidak murung saat dekatku??" Anwar bicara seperti memarahi adiknya saja. Aira yang ketakutan hanya diam dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Aku berusaha cepat pulang ke rumah demi kamu Ai, aku kepikiran kamu terus..." emosi Anwar menurun setelah meneguk kopinya.
Sementara Aira menyembunyikan wajahnya yang masih sedih dibalik bantal, tidak ingin menanggapi perkataan Anwar. sejenak mereka terdiam dalam pemikiran masing-masing.
drrrrttt... ada sesuatu yang bergetar dari saku celana Anwar, dikeluarkan benda pipih itu dan melihat nama pemanggilnya sebelum menekan tombol dial.
"So pasti dong, jam dua sudah standbay depan rumah ya.." Anwar memerintahkan sopir travel yang disewanya.
"Sekarang juga bisa, bro. bawa orang hamil kan harus slow. takut telat nanti..." sopir mengingatkan Anwar supaya tidak kesorean sampai di klinik.
"Oke deh, 20 menit lagi otw..." Anwar menutup panggilan secara satu pihak. meski ia seorang pedagang tapi dia tidak suka membuang waktu untuk melakukan tawar menawar apapun.
Anwar mendekati Aira yang sedang tidur, mengusap lembut bahunya dari belakang dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang kepala Aira yang berjilbab. dia takut Aira terkejut.
__ADS_1
"Aira,, jangan sedih lagi ya, aku janji tidak akan marah lagi sama kamu..." Anwar mencium bahu Aira dan tangannya turun kebawah mengelus perut Aira yang semakin hari semakin berisi.
"bangun Ai,,, kita periksa ke dokter kandungan ya... aku sudah hubungi kliniknya untuk jadwal jam 4 sore..." sampai ada jawaban dari Aira Anwar tidak mengubah posisinya.
"Mengapa dadakan begini sih, mas. kan kita belum minta izin ayah dan ibu..."Aira mengubah posisinya hingga terlentang.
"Kan sudah seminggu yang lalu di omongin, toh mereka pasti juga tidak akan melarang kamu pergi dengan suamimu, kok...." Aira mengembangkan bibirnya tanda setuju.
"ayok, mandi dulu biar mas bantuin bersiap..." Anwar memapah Aira bangun dari tidurnya dan mengambilkan handuk. Aira mengikuti instruksi seperti adik kecil yang patuh pada kakaknya saja.
_
_
_
_
happy reading guys
__ADS_1