Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Malu berdua


__ADS_3

Setelah dua hari libur, akhirnya Aira dapat melakukan kegiatan rutinitas di sekolah kembali. wajahnya masih sedikit pucat.


Setiap orang yang bertemu dengannya, menyapa dengan senyum yang menggoda. Aira yang tidak ingin menanggapi hanya senyum kecil dan menundukkan wajahnya.


Liburnya Aira mendatangkan tanda tanya besar bagi para guru di sekolahnya. ingin bertanya langsung, tapi diurungkan karena takut membuat Aira sedih.


nanti juga bakal di kasih tahu Tia.


Mereka semua sebenarnya sudah tahu bahwa Aira tidak bahagianya dengan pernikahannya. Tia menceritakan secara terbuka kemaren saat Aira tidak masuk, mereka prihatin dengan Aira.


"hai, Ra,!" Tia menyadarkan Aira dari lamunannya. "kenapa sih, kamu?"


"Eh,,,,kak Tia, nggak apa-apa kok kak" Aira berusaha menyembunyikan kesedihannya.


"Siang bolong kayak gini masih aja melamun. Kalau masih sakit izin libur saja dulu!" ikut prihatin melihat Aira.


"udah agak baikan kok, kak. aku hanya merasa kurang nyaman saja..." Tia tahu bahwa Aira sebenarnya curhat.


Tia mempersilahkan Aira menceritakan apa yang dipikirkannya. tentang perasaan yang sebenarnya tidak mencintai suaminya, tapi dia telah mengambil mahkotanya.


"Jangan begitu Aira, mas Anwar itu kan suamimu. itu sudah menjadi haknya. kamu tidak boleh menyesalinya. kata ustazah, itu pahala buat seorang istri..." Tia sangat antusias sekali ingin menanggapi cerita Aira


"pada umumnya setiap pengantin ingin suasana yang romantis di malam pertama, kamu kok malah sembunyi di kolong tempat tidur sih... haha" Tia tertawa terpingkal2 menekan perut. "kamu sungguh aneh ya, Ra..."


"Ssst... jangan bilang bilang ya. cukup kakak saja yang tahu" Aira yang tidak yakin Tia akan menyembunyikan curhatnya.


"Ra, apa kamu sudah mengurus pembayaran semester dua. soalnya minggu depan kita mulai tatap muka, lho" Dona teman kuliah Aira menghampiri mereka.


"Sudah, Dona. modulnya juga sudah ku ambil. kamu gimana" Aira balik bertanya.


"Saya rencananya nanti pulang sekolah," Dona duduk di kursinya.

__ADS_1


"Terus, terus yang bayarin kuliah kamu sekarang masih ayahmu atau suamimu, Ra?" Tia mulai kepo lagi.


"Mas Anwar lah, kak." Aira menjawab dengan tenang.


"Senang nya kalau punya suami ya,Ra." Tia menggoda lagi.


"Makanya cari calon dulu, donk..!" gantian Aira yang memberi Tia semangat. kemudian mereka tertawa bersama.


Bel sekolah berbunyi tanda masuk kembali setelah istirahat. mereka menutup pembicaraan dan masuk ke kelas masing-masing.


_._._._._._._._._


Sepulang sekolah Anwar mengajak Aira ke tempat kerjanya yang baru di sebuah toko yang terdapat di pasar desa. dia membuka usaha memasok dan penjual pakaian pria.


Aira yang sejak sekolah di kota tidak pernah ke pasar desa menjadi kikuk berjalan di sepanjang pasar


"Hai, juragan. sudah lama nggak nongol. apa kabarnya.." itu lah caranya bersapaan ala pedagang pasar. yang kebetulan hari ini pasar ramai di desa.


Melihat Aira yang kikuk, Anwar mempercepat langkahnya untuk sampai di tokonya.


"Selamat datang, bos." karyawan Anwar menyapa bosnya dengan senang hati.


"hm.." Anwar menjawab singkat dan memperkenalkan Aira pada teman yang membantu pekerjaannya "Ai, ini Jaka, "


Aira menjabat tangan teman kerja suaminya dan menyebut namanya sendiri "saya Aira"


"Silahkan duduk mbak" Jaka meletakkan kursi di samping tempat duduk Anwar, kemudian dia melayani pembeli lagi.


"terimakasih" Aira duduk di samping suaminya yang sedang melihat faktur barang.


"Oh ya, Ai. apa kamu mau belanja kebutuhan rumah?" Anwar belum pernah melihat Aira berbelanja, karena selama ini hanya ibu yang ke pasar.

__ADS_1


"Tidak mas, kan ibu sudah membeli semua" Aira menatap suaminya.


*Sebenarnya tidak pandai belanja.


"* Barang kali ada sesuatu yang kamu inginkan" Anwar tidak mau Aira hanya duduk saja.


"Nggak ah, mas" Aira tetap di tempat duduknya.


Anwar menyimpan kertas kertas yang dipegangnya dalam laci meja kerjanya, dan memegang tangan Aira mengajak pergi keliling pasar.


Sambil berjalan di sepanjang pasar Anwar memperkenalkan istrinya pada teman teman pedagang lainnya. mereka semua ramah ramah.


"Ternyata Aira bahaya juga ya," terdengar beberapa pedagang kain berbicara di belakang Aira sambil tertawa "beruntung sekali Anwar, ya"


*Entah apa yang mereka maksud, acuhkan saja.


"* Anwar lain kali jangan pamer ya, pakai jaket kek, untuk menutupinya" Selfi penjual pakaian anak-anak menasehati Anwar ketika mampir di kios Selfi.


Anwar memegang lehernya. Aira yang melihat bekas gigitannya di leher kanan Anwar menjadi malu dan menundukkan wajah.


*pantesan mereka berbisik bisik tadi di belakang.


"* Lain kali perhatikan suamimu sebelum pergi, Aira" Selfi sebaya dengan Anwar sudah berpengalaman mengurus keluarga. anaknya saja sudah duduk di bangku smp. dia yang selalu nyinyir memberi saran agar Anwar cepat menikah.


"Ya, kak. makasih ya" Aira menerima sehelai baju sebagai hadiah untuk Aira.


Dengan menjinjing kresek berisi belanjaan dan beberapa baju yang dihadiahkan untuk Aira oleh pedagang, Anwar dan Aira keluar dari area pasar dan kembali ke rumah. Dalam hati sama sama menanggung malu, karena kelalaian berdua.


_._._ _._._._.


please di vote dan di like ya reader. jangan lupa komennya agar author lebih semangat lagi

__ADS_1


__ADS_2