Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Penolakan Paman


__ADS_3

"Paman..." Aira yang santun merundukkan badan, bersalaman dengan paman kemudian duduk berhadapan dengan paman yang dipisahkan oleh meja sofa.


Anwar pun mengikuti dan mengambil tempat duduk di samping istrinya. posisi duduk mereka membentuk formasi segitiga.


Untuk menghilangkan kecanggungan dan sekedar basa-basi sesama lelaki dewasa, maka Anwar mengeluarkan rokok dan korek api elektrik nya yang selalu di bawa kemana mana tapi tidak ke WC atau kamar mandi.


Sebagian laki laki memang memanfaatkan rokok sebagai penghilang jenuh, penenang pikiran bahkan ada yang berpendapat bahwa rokok adalah inspirasi. itu mah yang nggak liat gambar kemasan rokoknya.


"Hm..." sebelum bicara paman bergumam sejenak menunjukkan kewibawaannya.


"Sekira-kira kabar apakah yang telah membuat kalian datang di malam yang dingin ini..?" paman membuka pembicaraan setelah membuang puntung rokok nya dalam asbak keramik.


"Begini _ _"


"Aira sebagai seorang istri yang baik, tidak baik mendahului suami bicara atupun mengambil keputusan..."


"Mengapa aku gegabah, aku hanya ingin membantu harga diriku tuhan..." teriak Aira dalam hati dengan menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang panas dan memerah karena paman memotong perkataan Aira dengan kata menohoknya.

__ADS_1


"Dalam rumah tangga yang jadi imam suami, bukankah begitu Anwar..?" paman mensejajarkan dirinya di depan Anwar. Jika saja yang berada di hadapannya bukanlah paman mertuanya pasti sudah ditonjok nya sejak tadi.


"Benar paman." jawab Anwar singkat sesuai titah ayah mertua beberapa hari lalu bahwa ia harus bicara seperlunya saja.


Sebelum masuk pada inti pembicaraan yang dituju, paman minta izin pada Anwar untuk menasehati Aira sebagai keponakannya. Dengan berat hati Anwar membolehkan, karena baginya Aira tidak melakukan kesalahan apapun sebelumnya.


Dengan perasaan yang berkecamuk dan hati yang panas, Aira menganggukkan kepalanya setiap pertanyaan paman yang di akhiri dengan kata benar. Demi mendapatkan persetujuan paman nanti.


Anwar pun menyimak setiap kata yang didengarnya yang akan jadi pegangan nantinya untuk bertindak kedepannya. dari cara bicaranya jelaslah bahwa paman mertuanya tidak pantas dihormati untuk lain kali.


"Bicaralah sesukamu, nanti engkau akan tahu bahwa kesombongan itu akan membunuhmu" pikir Anwar kesal dengan amarah yang ditahan.


"Begini paman, sebenarnya kami datang ke sini seizin ayah dan ibu, ingin memberitahu sekalian minta persetujuan paman untuk mendirikan rumah untuk anak kami. dan kami ingin tempat yang bisa mendukung usaha kami ......"


Anwar menyampaikan maksud dan tujuannya dengan segenap keberaniannya. Paman Aira langsung saja menolak mentah-mentah keinginan Anwar dan Aira.


Satu setengah jam lebih Anwar melakukan negosiasi dengan paman Aira. sampai-sampai paman memukul meja sofa. ada tiga lokasi yang diajukan Anwar dan Aira yang menurutnya terletak dekat keramaian dan kegiatan sosial masyarakat namun hasil yang di dapat adalah nihil.

__ADS_1


Dengan muka yang berapi-api akhirnya paman menutup pembicaraan setelah jam menunjukkan pukul 10.25 "Sekarang pulanglah, biar aku yang akan bicara dengan orang tua Aira dan pamannya yang lain, bersabarlah menunggu keputusan kami.."


Kedua suami istri pun pulang, meski dalam hatinya kecewa pada paman Aira tetap bersalaman sebelum pulang, tapi tidak dengan Anwar.


Hampir tengah malam Aira tidak bisa memejamkan mata, ingatannya tidak bisa melupakan peristiwa di rumah pamannya tadi.


"Mas, maafkan aku ya mas... niat baik kamu membuat mu tersiksa..." Aira meletakkan kepalanya di atas dada bidang Anwar yang terlentang.


Sejak menikah ini pertama kalinya Aira mendekatkan diri pada Anwar. Aira memeluk Anwar dengan erat, berada di dekat Anwar adalah tempat ternyaman baginya untuk saat ini.


_


_


_


Happy reading guys...

__ADS_1


bantu saran dan komen ya readers 🙏🙏


__ADS_2