
Pak sopir membunyikan klakson dua kali memberikan kode pada penumpangnya agar memperbaiki duduk senyaman mungkin, berdoa semoga perjalanan lancar dan cepat sampai di tujuan. Susana bus menjadi berisik karena berdesakan, ada yang membawa anak tapi hanya memilih satu tempat duduk sehingga yang lain menjadi kesempitan, ada yang gemuk menyesakkan yang lain. Maklumlah namanya juga angkutan umum yah harus banyak sabar kalau ingin sesuka hati yang naik mobil pribadi ya.
Aira yang duduk dekat jendela di bangku urutan nomor dua dari depan memilih diam sambil melihat Haris yang masih berdiri di pinggir jalan ingin melepas kepergiannya. Meskipun masih kesal, Aira tetap menyunggingkan senyum semanis mungkin, berharap masih ada hari esok tuk bertemu kembali. Selang beberapa menit mobil meninggalkan persimpangan yang akan selalu dikenangnya. Haris tak terlihat lagi.
Di putar kembali tubuhnya empat puluh lima derajat mengamankan duduknya agar tak terlihat canggung dengan orang disebelahnya. Ia hanya ingin menenangkan dirinya.
Hatinya tak tenang, kejadian tadi selalu terlintas di bayangannya. "Astaghfirullah" dia selalu berusaha mengucap setiap mengingat sesuatu yang terjadi diluar keinginannya. Apakah mungkin Haris sungguh-sungguh mencintainya, atau hanya untuk nafsu sesaat saja? Mengapa ia mengambil yang belum menjadi haknya? Bla...bla..bla.
Kini beribu tanya timbul di benaknya. *Ah biarlah waktu yang menjawab* bisik nuraninya yang tak ingin hidup dalam beban masalah. Ia ingat kembali ceramahnya pada kekasihnya bahwa semua karena ketetapan-nya. Dirangkul tangannya, menyandarkan tubuhnya yang mulai lelah ingin tidur tapi mata tak mau terpejam.
"Yang tadi pacarnya, ya?" Pemuda disebelahnya ingin mengganggu lamunan panjangnya. Aira tak mendengar pertanyaan itu karena musik dalam bus cukup keras, penumpangnya juga berisik, hanya Aira dan pemuda di sebelahnya yang diam karena tidak kenal. "Hai..." Katanya sedikit berteriak dekat telinga Aira. "Heh.." Aira terkejut. refleks merubah posisi duduk sambil mengibaskan tangannya kesamping karena merasa terganggu. "Sombong bangat, sih" katanya menggeser menggeser paha kirinya menggunakan kesempatan kali.
Ya Tuhan...Aira merasa yang risih dengan pemuda itu, membuatnya teringat lagi namun sekarang ia tersadar dari lamunannya "Maaf... Bisa geser dikit" pinta Aira sambil meluruskan duduknya. "He eh" katanya merapatkan kembali pahanya yang terlihat besar dengan balutan celana Chino hitam panjang
"rasanya aku sering lihat kamu, deh" gayanya sksd. "kapan dan dimana?" tanyanya wajah nya kembali normal. "kamu kan adiknya Syafrial!" katanya yang mengenal kakak Aira yang lumayan terkenal di desa. semua warga desa pasti kenal jika menyebutkan nama orang tuanya, kakaknya ataupun adiknya. Aira kurang dikenal, karena sejak kecil sudah tinggal bersama kakek neneknya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
"hm..." jawab Aira singkat. "kamu sekolah di SMA unggul di kota x, kan?" sok tahu.
__ADS_1
"aku sudah lulus" jawabnya.
"melanjutkan kuliah dimana?" seperti mulai akrab.
"nggak ada" pelan.
"masa anak orang kaya nggak kuliah!" merasa tak yakin Kalau anak seperti Aira tak kuliah.
kadang pertanyaan dan pernyataan itulah yang membuat hati kecil Aira semakin tergores *sakit*. orang tak tahu apa-apa namun sok tahunya gede banget.
"bisa ganti judul?" Aira meniru gaya bicara Haris ketika tak ingin membahas sesuatu. percakapan mereka semakin hangat saja. "oh ya, kenalkan aku Bobi. nama kamu siapa?" mengulurkan tangan. "maaf, aku Aira" tak ingin berjabat tangan dengan sembarang lelaki.
Dalam suasana bisingnya penumpang dan paduan suara bus ditambah alunan tembang kenangan Tommy j Pissha ada sepasang remaja yang sedang asyik bercerita. lenyap sudah kesedihan dan lamunannya.
Hidup itu bukan untuk ditangisi tapi dijalani, hanya rasa syukur yang buatmu bahagia. *kata hati*. itulah kata kunci yang selalu di katakan Aira pada Haris disaat menenangkan nya dulu. itu juga yang menjadi prinsip hidupnya.
Hari sudah sore perjalanan tinggal satu jam lagi setelah perhentian kedua ini. setelah para penumpang turun untuk ishoma selama seperempat jam, semua duduk dengan teratur kembali.
__ADS_1
Tubuh Aira mulai merasa kedinginan efek hawa dingin alam pegunungan, danau vulkanik dan kebun teh yang membentang luas. Aira tak membawa jaket ataupun selimut kecil dalam tasnya.
Bobi yang memperhatikan Aira yang sedang berpangku tangan berusaha menghangatkan tubuh yang sedikit kurus dari biasanya. segera ia melepaskan jaket kulitnya. tanpa basa basi menyelimuti Aira meski tak diminta. "nggak usah" tolak Aira. "nggak apa-apa," jawabnya datar "makasih.." ucapnya
"kalau kamu lelah tidurlah! anggap saja aku tak ada" perintahnya yang melihat Aira sangat kelelahan.
Bobi diam-diam mengagumi sosok gadis yang malang itu, diperhatikan wajah Aira yang putih, cantik dengan mata yang sedikit sembab. selama ini ia hanya melihat sekali kali dari kejauhan. ternyata kamu cantik dan baik Aira. andai saja kita kenal sejak lama. lelaki manapun yang bersamamu pasti kan bahagia. berbagai pujian dan sanjungan timbul di benaknya Bobi melihat Aira yang sedang tidur pulas.
Bus mulai memasuki kawasan desa tempat tinggal Aira, sebentar-sebentar pak sopir menginjakkan kakinya menekan rem karena ada penumpang mulai turun satu persatu. hingga tersisa sekitar enam orang lagi.
"Aira... bangun. bangun Aira" Bobi memukul-mukul pelan pundaknya."hah..." Aira terbangun dan melihat kiri kanan, depan belakang "sudah sampai," bisik Bobi.
Aira mengucek matanya dengan punggung tangan, wajahnya terlihat lelah "turun dimana Aira?" tanya Bobi yang mulai mengatur jarak melihat Aira yang segera memberikan jaket dan merapikan hijabnya.
"Di persimpangan itu" sambil mengusap wajahnya, "di rumah nenekmu saja, nanti aku antar" ajaknya. Aira melakukan penolakan dengan halus, Aira tak suka. "makasih, jaketnya!" ucap Aira sambil turun dari bus. kakak nya sudah standbay di tempat untuk menjemputnya yang cuma sepuluh menit dengan motor menuju rumahnya.
_._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._._.._..
__ADS_1
BERSAMBUNG