
Akhirnya di waktu istirahat kerja dan pekerja juga sudah pulang kerumahnya masing-masing, ibu punya waktu bersantai dengan ayah. dengan strategi ibu yang bicara dengan lembut dan membenarkan pernyataan Aira dapat meluluhkan hati ayah.
"Tapi mereka belum sampai setahun apalagi Aira masih dalam kondisi hamil, sebaiknya kita minta Anwar fokus dengan kehamilan Aira dulu, paling tidak sampai Aira melahirkan bayinya dengan selamat..." ayah duduk di pelataran gubuknya sambil memandang sawah nya yang sangat luas.
"iya juga ya yah, kalau terjadi sesuatu, kita akan menyesal nanti. lihatlah dia semakin kurus, mungkin dia tidak bahagia dengan pernikahannya" nada bicara ibu pelan.
"Mentalnya tidak sekuat Sifa, Bu. itu lah yang membuatnya rapuh... jangan ibu bilang dulu sama pamannya, nanti biar ayah yang cari solusinya...." setelah bicara panjang lebar ayah mengajak ibu pulang karena hari sudah sore.
Ibu menyusun rantang bekal yang sudah kosong dan mengunci gubuknya sementara ayah sudah siap tancap di motornya menunggu ibu sebagai penumpang permanen.
Di rumah
Sifa dan Aira yang sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya sedang asyik ngobrol sambil menonton acara gosip selebriti yang digemarinya.
Semenjak Aira menikah, mereka lebih dekat dan sering curhatan berbagi cerita. seperti kali ini Shifa curhat masalah cowoknya Alex yang di incar sama kakak kelasnya.
Ketika mereka sedang asyik ngobrol terdengar suara salam khas ayah dan ibu dari ruang tamu "assalamu'alaikum..."
__ADS_1
"waalaikumsalam, yah.. Bu" balas Aira dan Sifa bersamaan. tanpa menynggu disuruh ibu Sifa langsung mengambil keranjang bawaan ibu dan mencuci peralatan kotor dari sawah, karena ibu orangnya suka bersih jika ada peralatan kotor yang menumpuk maka dia akan mengomel-ngomel pada kedua putrinya. terutama pada Sifa.
Ayah dan ibu duduk santai di sofa melepas lelah setelah seharian bekerja.
**Aira
Setelah ayah dan sampai di rumah pada sore hari, aku berinisiatif sendiri untuk membuatkan secangkir kopi panas untuk ayah.
Bukannya sebagai penjilat, tapi menjalani nasehat ibu bahwa "wanita yang telah menikah harus berpandai pandai pada orang disekitarnya'' itulah yang sedang aku usahakan supaya hubunganku dengan suamiku dihargai dan mereka tetap menyayangiku.
"Aira..." aku sedikit terkejut melihat ekspresi wajah ayah yang tak dapat aku artikan tatapannya. aku memperbaiki hijab ku agar lebih menutupi perutku yang tak seperti biasanya.
"Apa kamu sudah memikirkan keputusan suamimu dengan matang, lagian sekarang kamu sedang hamil lebih baik fokus terhadap kehamilan dan proses melahirkan dulu, karena itu bukan hal yang mudah..." ayah meneguk kopinya karena tenggorokannya kering kepanjangan ceramahnya sih.
"Kalau kalian ingin pindah dari rumah ini, nanti biarkan ayah yang menyiapkannya, ayah diam bukan berarti tidak peduli padamu, jangan biarkan dia memisahkanmu dari kami..." ayah menatapku dengan penuh kasih sayang, seakan memintaku untuk tetap menjadi anak perempuannya yang tetap patuh.
Tapi aku tidak bisa ayah, aku sekarang sudah istri orang, dengan ayah apapun yang terjadi ayah pasti akan menyayangiku. tidak dengan suamiku yang mungkin saja akan meninggalkan aku jika aku tidak melakukan kewajiban ku.
__ADS_1
"Ayah, mas Anwar hanya ingin menjaga aku dan bayiku seutuhnya ayah..." tiba tiba saja mulutku berani menyanggah ayah, padahal selama ini aku tidak berani menentang ayah. aku menunduk takut.
"Biarkan dia saja yang keluar dari rumah ini, jika dia mau..." tiba tiba kak Iyan datang berkata tanpa dosa.
Sifa mendekati Aira, kasihan melihat kakak perempuannya selalu disudutkan, ibu hanya mampu menatapnya kasihan..
_
_
_
_
Happy reading guys...
vote, like and comment ya readers..
__ADS_1