Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Mengerjai Aira


__ADS_3

Dear diary....


Mengapa aku punya kaki


namun tak bisa berdiri


aku yang punya diri


namun tak bisa merajai


jika cinta tak harus memiliki


biarlah namamu tetap dihati


akan kujalani waktu berlalu


diarak awan yang kelabu


meski Ini bukanlah inginku


ini bukan cintaku


namun ku percaya sebuah proses akan ada endingnya...


*******


Selepas subuh Anwar duduk dimeja rias Aira dan membaca diarynya yang ditulis kemaren. Aira selalu meletakkan diarynya di atas meja dan menyelipkan sebuah pena di tengahnya.


Anwar menulis dalam buku yang bukan miliknya itu. *jodoh bukanlah sebuah kesalahan*


Harapannya semoga Aira membaca dan mengerti maksudnya. zggzgzg... terdengar getaran hp dalam laci meja rias, Anwar mencoba membuka laci. ternyata hp Aira.


*Ai, angkat telpon ku tuk terakhir kali, please!*


bang Haris.


Anwar membaca pesan aira yang di layarnya terpampang foto seorang pria berbaju merah dengan wajah putih.

__ADS_1


Rona wajah Anwar langsung berubah, melihat foto itu di hp Aira yang sudah menjadi istrinya. kepalanya terasa panas memikirkan, ia merasa cemburu dengan orang yg di foto itu.


Untuk mengontrol emosi, Anwar pergi ke luar kamar membawa rokok dan korek apinya, mungkin dengan berbincang-bincang dengan ayah bisa membuatnya mengalihkan pemikiran buruk tentang Aira.


"Ra, ayo bawakan kopi untuk suamimu!" perintah ibu pada anaknya yang pagi-pagi sudah bangun dan membantunya.


"Iya, Bu" jawab Aira. mengambil gelas dan piring tadah, dimasukkan beberapa sendok gula dan kopi kedalam gelas kemudian dituangkan air panas dan diaduk rata.


"Ra, kalau pengantin baru minumnya kopi telur, bukan kopi biasa!" ibu mengingatkan Aira yang belum tahu.


"tapi ini sudah di buat Bu, nggak boleh mubazir" Aira segera meninggalkan ibu dengan membawa segelas kopi ditangannya.


"ini kopinya, mas" Anwar tersentak kaget melihat Aira yang semalam menghilang, kini membawakan kopi dengan wajah tersenyum padanya.


"terimakasih" Anwar menerima dengan mengulurkan tangannya. air mukanya berubah, kehilangan Aira semalam teringat lagi di benaknya.


"ehemm... dia itu istrimu, itu kewajibannya" ayah mendehem melihat tingkah anak dan menantunya seperti tidak kenal saja.


"oh ya, Ai. tolong ambilkan kunci motor dikamar, ya" Anwar memanfaatkan situasi, jika di depan ayah pasti Aira akan patuh padanya.


"maaf ayah, saya lihat Aira dulu. mungkin dia tidak menemukannya!" Anwar minta pamit ke kamar sebentar


"hmm" jawab ayah maklum.


_._._._..__.._._._._._


Anwar menemui Aira yang sedang kebingungan. setelah masuk dikuncinya pintu dari dalam. dia mendekati Aira yang memeriksa meja rias. ia tak tahu bahwa sedang dikerjai suaminya.


"Ai, mana kuncinya?" Anwar pura-pura bertanya.


"Belum ketemu" jawab Aira bingung


"Dimana kamu tidur semalaman?" tanya Anwar sambil mendudukkan Aira di sofa.


Aira hanya menundukkan wajahnya, tak menjawab.


"Aku tidak akan memaksamu. tapi tolong jangan membuat ku cemas juga!" Anwar memegang kedua tangan Aira sambil bersimpuh.

__ADS_1


"kamu tahu kan, resiko apa yang ada di depan kita sekarang, jika terjadi masalah antara kita, bisa jadi paman mu akan menuntut, atau ayahmu yang akan menghukum ku. aku tak punya apa-apa untuk melawan, Aira!" Anwar seperti sedang mengemis cinta pada Aira.


"air mata dan diam mu tidak akan memberikan keuntungan bagimu!" Anwar menambahkan dengan tegas, ia melepaskan emosi yang sejak kemarin malam ditahannya.


Aira masih membatu, tak mau melihatkan wajahnya. sementara Anwar kesabarannya mulai tak tertahankan. Dia pindah duduk ke sofa, sejajar dengan Aira. di pegangnya kepala Aira, di letakkan di bahunya diapit dengan telapak tangan.


"Aira, aku akan menjadi sandaran hidupmu, jika kamu inginkan sesuatu katakan padaku, bahkan jika kamu tidak menginginkan keberadaan ini" niat Anwar mulai tidak baik.


Sejenak mereka terdiam merenungkan, entah apa lagi yang akan terjadi. Anwar melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul delapan pagi, di luar matahari mulai terik. dia merenggangkan tubuhnya dari Aira yang sudah tidak menangis lagi.


"Sebentar aku akan memanaskan mesin motor dulu, ayo cepat bantu ibu" Anwar pergi ke luar kamar.


_._._.._.__.


Diluar ayah juga sudah bersiap pergi ke kebun. "jika kamu mau pakai mobil, kuncinya ada di gantungan belakang pintu!" kata ayah.


belum apa-apa sudah di percayakan saja. Anwar tentu tak berani lah.


"nggak ayah, kami tidak akan kemana-mana" Anwar memberi tahu ayah, ia tak mau dianggap bangga dengan harta mertuanya.


_._._._._.._._.._


Semua orang sudah pergi melakukan pekerjaan masingmasing. tinggallah Aira dan Anwar berdua di rumah. Anwar pergi ke dapur mencari Aira, ternyata tidak ada. diperiksa kamar mandi belakang, mungkin sedang mencuci, kosong.


Dilanjutkan pencarian ke kamar, juga tidak ada, apa mungkin mandi, kamar mandi juga kosong. Anwar duduk di samping tempat tidur sambil menggoyangkan kaki, eh kok ada sesuatu ya.


Di angkatnya kain rempel alas tidur, dilihatnya ke bawah kolong tempat tidur.


"hah..." teriaknya. Aira yg bersembunyi di kolong bergegas keluar.


"maaf," Aira merasa bersalah.


"kamu kekanak-kanakan" Anwar memegang kepalanya.


"aku mau keluar sebentar, ya" Anwar memberi tahu. ada urusan penting yang harus diselesaikan alasannya. Aira hanya manggut-manggut


_..__.._.___._.._.___._._._._.._

__ADS_1


__ADS_2