Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Dicuekin


__ADS_3

**Aira


Entah kenapa ya? meski sudah mengandung anak dari mas Anwar, tapi aku masih belum bisa mencintainya sepenuh hati. Rasa yang aku miliki pada mas Anwar tidak sama dengan perasaan waktu aku bersama mas Haris dulu.


Rasa ini tidak lebih dari tanggungjawab yang wajib dilakukan selayaknya seorang istri salehah demi menjaga hubungan yang bernama brumah tangga.


Bahkan terkadang konyolnya aku, disaat dia melakukan ***** padaku, aku membayangkan seakan itu adalah bang Haris. tapi jangan katakan aku wanita munafik dong... tapi aku masih sadar kok aku ini sekarang menjadi istri siapa. dan aku akan menjalankan kewajibanku dengan seikhlas ikhlasnya.


_._._.._._._._.


Kuliah keguruan jarak jauh yang dijalani Aira sekarang sudah semester 3, tinggal 6 kali pertemuan lagi atau satu bulan sudah siap semester ganjil ini.


Karena Aira tidak bisa keluar malam untuk berkumpul bersama teman-teman kelompok belajarnya, maka dia diberi keringanan untuk membuat resume dari modul saja. setiap ada tugas maka Tomi lah yang akan memberi tahu pada Aira.


Apalagi Sabtu kemaren Aira tidak ikut belajar akibat tekanan darahnya yang lemah, dokter memintanya untuk bed rest beberapa hari. Tomi datang ke rumah meminta absen yang harus di tanda tangani Aira karena administrasi harus di kirim ke Pokja provinsi.


"Maaf ya kak, di luar saja soalnya di rumah lagi nggak ada keluarga laki laki..." sapa Aira saat membuka pintu untuk Tomi. Aira jadi nggak enak sama Tomi


"gpp kok, Aira. kita di teras saja..." Tomi mengeluarkan beberapa lembar kertas yang disimpan dalam map kertas.


"tunggu sebentar ya, kak. Aira buat minum dulu.." sebelum duduk di kursi yang kosong Aira masuk ke dalam rumah kembali.

__ADS_1


"nggak usah Aira, tung_ _" kalimat Tomi terputus saat Aira telah menghilang di balik pintu.


Hanya beberapa menit Aira sudah kembali dengan nampan di tangannya, "nih, kak. minum dulu..."


"lagian ibu hamil nggak usah repot-repot..." Tomi memberikan pena tinta hitam pada Aira.


Aira menatap wajah Tomi saat menerima pena di tangannya "yakin nih, aku yang repot apa kakak??"


"ah, kalau aku nggak pernah merasa direpotkan kok sama kamu..." Tomi memancungkan mulutnya.


"terus, sekarang siapa sih incarannya?"


Aira masih fokus mencari bagian yang harus diberi tanda tangan.


"Ciee... muhasabah... hehe_ _" Aira dan Tomi tidak jadi melanjutkan tertawa karena klakson motor yang memasuki gerbang rumahnya. seketika ekspresi wajah ceria mereka berubah jadi canggung.


hah mati aku, si manusia kutub utara sudah pulang aja jam segini. bisik Aira dalam hati.


"Tunggu sebentar ya, ketua" Aira langsung berdiri menuju ke suaminya. "eh mas sudah pulang," Aira mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Anwar.


Yang disalami hanya cuek "Aku, ada urusan tugas kuliah dulu sebentar ya mas, cuma 2 tanda tangan lagi..." Aira memberi tahu supaya Anwar tidak salah sangka. namun hasilnya nihil.

__ADS_1


Kasihan kamu jadi istrinya Aira, coba aku yang jadi suamimu, aku pasrti akan membanggakan mu. Tomi sekilas memperhatikan sikap suami Aira.


Tanpa memberikan jawaban apapun Anwar berlalu masuk rumah, sementara Aira yang merasa tak enak hati sama Tomi segera minta maaf dan menyelesaikan tugasnya segera.


"Maaf, ya kak. aku sudah bikin kak Tomi jadi repot dan tak enak hati..." sepertinya dia sedang membaca pikiran Tomi yang tidak nyaman sama suaminya.


"Santai saja lah Aira, jangan banyak pikiran biar kamu kuat..." Tomi menyusun kembali semua berkas yang sudah ditandatangani Aira.


"Makasih banyak ya, kak...." Tomi bergegas keluar dari halaman rumah. Aira pun segera menyusul Anwar ke dalam rumah untuk menyuguhkan secangkir minuman kopi panas.


_


_


_


_


_


Happy reading guys...

__ADS_1


author lagi butuh motivasi dan dukungan dari para readers... komen donk...


__ADS_2