
Diary ku...
Aku sahabatmu ingin bercerita indah dengan mu tentang sebuah mimpi si buta yang dapat melihat masa depannya.
tahukah kamu si buta itu adalah diriku yang nyaris kehilangan asa untuk melihat dan menggunakan waktu.
aku ingin menghias waktuku dengan ilmu.
dear...
Hari ini Tuhan menjawab doa doaku untuk memulai langkah baru...
Mulai besok statusku akan menjadi seorang guru. aku akan berdiri di depan anak-anak yang masih polos dan lugu.
Terimakasih diary ku ..
12 Januari 2005
_._._._._._._._._._._._._.__.._._._._._._. _._._..__.__._.
Aira tidak punya teman berbagi cerita selain diary kesayangannya. setelah sibuk seharian melakukan tugasnya mencari informasi tentang tentang pendidikan di universitas terbuka yang akan dijalani nya.
__ADS_1
Hari ini Aira pergi ke sekolah dimana dia akan menjalani honor untuk mendapatkan pengalaman selama belajar yaitu untuk empat tahun kedepannya. dia akan datang ke sekolah dari hari Senin sampai dengan Kamis sedangkan Jumat Sabtu digunakan untuk kuliah di kelompok belajar yang terdiri dari empat puluh orang. mereka honor di sekolah yang berbeda diantara dua puluh tiga sekolah dasar yang ada di desanya.
Itu adalah syarat yang diberikan oleh kampusnya. Jadi untuk kedepannya tak perlu lagi dirisaukan bagaimana waktunya. Ia selalu berdoa semoga semua berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. MOVE ON.
"Aira, apakah kamu benar-benar bersedia?" tanya kepala sekolah
"iya, pak" jawabnya
"Tapi gaji nya tidak seberapa" sambungnya.
"hitung-hitung cari pengalaman ya, Aira!" ibu Wati menguatkan nya.
"lagian Aira juga tidak ada kegiatan di rumah, ke sawah dan kebun pun tak bisa" ibu Wati sambil menulis.
Selama ini Aira memang tak pernah membantu orang tuanya bekerja di sawah atau kebun. Jangan kan bekerja, melihat dan mengantar makanan untuk orang yang bekerja saja belum pernah dilakukannya. ayah ibunya menganggap Aira tak sekuat adiknya Sifa.
Sifa jika libur sekolah selalu ikut bekerja bersama orang tua, kakaknya, dan beberapa orang lainnya yang di beri upah oleh ayahnya. sementara Aira hanya di rumah saja, jika pekerjaan nya membersihkan perlengkapan dapur, mencuci pakaian sudah selesai ia akan merasa suntuk sendiri dengan waktunya. kadang ia memilih untuk menonton sinetron kesukaannya, curhat ke diary, dan bla bla bla.
"oh ya, di sini ada empat guru PNS dan tiga teman honorer sama seperti kamu, Aira. Kalau kamu sudah siap besok atau lusa sudah boleh masuk sekolah" pak kepala sekolah mempersilahkan.
"baiklah, pak" Aira menganggukkan kepala.
__ADS_1
Kepala sekolah sudah pergi, hanya tinggal Aira dan beberapa orang guru yang kebetulan semua warga desa yang sudah di kenal namanya oleh Aira. Tapi sungguh pun demikian Aira belum terlalu dekat dengan mereka karena Aira tak suka nongkrong sejak ia sekolah di kota. dengan teman SMP nya saja sebagian ia tak ingat lagi. ketemu di jalan di sapa teman di mesti bertanya dulu " siapa, ya?" tanyanya bingung. disebutkan namanya dulu baru Aira ingat. "ho..oh, aku tahu" jawabnya senyum-senyum kecil.
Bu Wati guru yang sudah menjadi pegawai belasan tahun di sekolah ini, berbagi cerita untuk memotivasi Aira Karen ia sangat mengenal Aira. suami Bu Wati adalah pamannya.
"Ayahmu datang ke rumah bibi, kamu ingin kuliah katanya. karena itu bibi daftarkan saja, di hubungi handphone mu nggak aktif-aktif.
karena itu bibi telpon ke kost mu" Bu Wati membuka pembicaraan
"Makasih ya, bi. kalau tidak ada ini entah akan bagaimana aku" Aira jadi sedih lagi mengingat kejadiannya saat minta izin kuliah dulu.
"tidak apa-apa yang penting kamu jalani dulu, pasang niat mana tahu nanti kamu sukses melalui ini, banyak orang yang sukses menjadi pegawai negeri melalui honor seperti ini" Bu Wati memotivasinya.
"sekarang kamu jemput, modul dan buku untuk kamu pelajari di kantor pengurus Pokjar, tugas dan kehadiran mu sudah di tanggulangi. soal pembayaran juga sudah di selesaikan semua." makasih ya, bi" balas Aira dan segera meninggalkan sekolah yang akan menjadi tempat kerjanya.
Sepulang dari Sekolah Aira ke rumah dulu buat makan dan sholat Zuhur kemudian pergi ke kantor koordinasi kecamatan bagian pengurusan pendidikan dengan di antar kak Iyan.
Dari pagi hingga sore begitu letih sekali badannya kesana-kemari. selepas isya baru bisa dia menenangkan tubuhnya. ALHAMDULILLAH... ia bersyukur dengan hari ini dan membayangkan dirinya nanti.
jangan menghayal tingkat tinggi! hihi. Aira mulai menutup semua dalam mimpinya
BERSAMBUNG
__ADS_1