
pukul 11.10 mobil Dimas berhenti di depan rumah Aira, tapi pengemudi tidak membunyikan klaksonnya takut mengganggu penghuni rumah ataupun tetangganya.
"Thanks bro, gue duluan..?" Anwar turun dari mobil melambaikan tangan pada kedua temannya. sedang semangatnya menuju teras rumah di panggil lagi.
"hey... ada yang ketinggalan nih oleh-oleh nya..." Riko mengeluarkan paper bag milik Anwar.
"Pikirannya sudah ke guling manis kalee..." Dimas geleng-geleng kepala kelamaan nginjak rem mobilnya.
"Besok kita bongkar jam tujuh pagi ya.. jangan kesiangan lagi lo..." Riko mengingatkan.
"Aman bro.." Anwar mempercepat jalannya setelah mobil Dimas pergi. "huh... ternyata pintunya sudah dikunci..." Anwar bergumam sendiri saat memegang gagang pintu.
Dirogohnya sebuah benda pipih dari saku celana, tap si jempol keluar nama KESAYANGAN di layarnya... yang terdengar hanya NSP lagu dengarlah bintang hatiku. Aira tidak mengangkat panggilan nya,
Tidak lama terdengar suara pintu berderit, ternyata yang membuka pintu bukan Aira.
"Assalamu'alaikum Bu, maaf mengganggu" Anwar menyalami ibu mertuanya.
"waalaikumsalam... gpp. mungkin Aira ketiduran, mau ngopi?" setelah ibu mengunci pintu kembali.
"nggak usah Bu, makasih.." Bu Lela kembali ke kamarnya bagian kiri ruang tengah berdampingan dengan kamar Iyan.
__ADS_1
Ternyata Aira belum tidur di kamarnya, dia duduk bersandar di tempat tidurnya sambil membaca. "Mau minum, mas?" melayani suami merupakan kewajiban istri yang selalu Aira lakukan.
" Nggak usah, tidur saja dulu. bersihin badan dulu..." Anwar masuk ke kamar mandi dan keluar dengan hanya memakai singglet dan celana kaos pendeknya. namun Aira tidak terkejut lagi karena sudah sering melihat pemandangan seperti itu di kamarnya.
"kenapa belum tidur?" Anwar mengambil paper bag yang ditaruh di meja.
"Belum ngantuk, mas?" Aira tidak menghentikan membacanya.
"Sudah, tidak perlu dipelajari untuk menjadi istri, cukup jalani dan nikmati..." Anwar merebut buku yg berjudul Kewajiban Istri dalam Rumah Tangga, menggantinya dengan 2 paper bag.
"Mas... apaan ini??" Aira penasaran menerima.
"Buka aja..." Anwar duduk di samping Aira. dibuka paper bag ternyata ada daster rumahan yang agak seksi dan juga gamis hamil buat sekolah dan kuliah.
*Ternyata kamu polos sekali Ai, bikin gemas saja. batin Anwar
"* Ya sudah sekarang simpan dulu, sini." Anwar menaruh paper bag di samping bed. " sudah lewat jam 12, kasihan si dedek kalau bunda kelelahan..."
Anwar ingin merasakan gerakan janin dalam perut Aira dengan mendekatkan kedua telapak tangannya di balik daster Aira. semakin hari semakin terasa bergeraknya, dan membuatnya merindukan untuk selalu di dekat Aira dan membelainya.
"Bulan depan USG ya, Ai.." Aira mengangguk tanda setuju. Anwar menatap Aira, semakin ia di lekatkan tatapannya Aira pun semakin membuang muka, tapi tidak ingin dipermasalahkannya.
__ADS_1
"Bolehkan aku ingin bertemu anakku di dalam sana..." Anwar berusaha menggoda Aira meski di acuhkan.
"Terserah kamu mas, aku selalu tahu dengan kewajibanku... rasanya tidak perlu aku berbicara dengan kata yang sama..." Aira hanya pasrah tapi tak rela. suka atau tidak kewajiban tetap harus ditunaikan.
"Aku tak ingin kamu terpaksa, Ai. apa jawabanku jika orang lain atau malah keluargamu menanyakan kamu yang semakin kurus sejak mengandung anakku...?" Anwar menatap panjang ke loteng kamar
"Berapa kali aku harus bilang kalau aku tidak pernah merasa terpaksa, mas. semua yang terjadi sudah takdirku.." Aira mensejajarkan kepalanya dengan Anwar sama sama menatap loteng kamar.
Anwar menghela nafas panjang dan mendekatkan Aira ke pelukannya "Jangan berdebat lagi, mari kita berdamai okey..."
Seperti biasanya Aira akan menyerah dan menutup matanya tak melakukan bantahan apapun terhadap apa yang dilakukan suaminya terhadap tubuhnya. karena dari ujung kepala hingga kakinya sudah menjadi hak Anwar.
Sesekali ia pun merintih dan mendesah karena sedikit sakit dan geli geli sedap dibuatnya. hingga pertempuran usai satu ronde Aira tertidur dalam rangkulan Anwar.
_
_
_
_
__ADS_1
_
HAPPY READING...