Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Hamil 1


__ADS_3

Karena kondisi kesehatan Aira lagi down, teman sekelas juga tutor meminta Aira pulang sebelum waktunya.


Tomi sebagai ketua kelas sekaligus ketua kelompok Aira bertanggung jawab atas anggotanya. karena itu dia yang akan mengantar Aira ke rumah.


"Ayolah Aira, mau di gendong depan atau belakang?" Tomi menggoda Aira.


"hahaha...." yang lain tertawa terbahak bahak membuat tulang Aira semakin lemes.


"hati hati bro, sudah milik orang tuh!" Hendra berteriak.


"Makanya pak guru, kalau suka menyapa tidak menawar lebih dulu,,,," ibu Hasanah yang paling tua di kelas pun ikut ikutan berteriak.


Wajah Aira makin pucat dengan tingkah orang sekelas. hanya Erni dan Risa yang tetap diam di samping Aira.


"Pulang saja lah, Ra. daripada bikin khawatir semua, tugasnya nanti kami bantu'' bisik Risa.


"Tapi aku tidak mau sama Tomi..." rengek Aira pada Risa dan Erni.


"Enggak pa apa, kalau Anwar marah biar kakak yang menjelaskan padanya...." Erni memegang bahu Aira.


"Ayo lah sayang, Abang antar pulang..." tapi Aira telah berjalan terlebih dahulu meninggalkan nya. Tomi mengejarnya keluar dan mengantar Aira pulang dengan motor metik nya.


Sore hari di rumah

__ADS_1


Anwar pulang dari kerja, saat memasuki ruang tamu dilihatnya Sifa keluar dari kamar Aira dan menutup pintu pelan. Anwar bergegas ingin mempergokinya.


"ngapain tuh anak masuk kamarku" pikir anwar


"kak ipar sudah pulang, mau di buatin kopinya, kak?" tanya Sifa menyapa Anwar yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Hm... oke tapi jangan terlalu manis!" Anwar membuka pintunya kembali.


"hah.. kamu tidak masuk kuliah, Ai...?" Anwar mendekati Aira yang sedang tidur "kamu sakit ya, kok pucat sekali?"


"gpp kok mas, aku cuma kecapekan..." Aira menyandarkan tubuhnya di bantal.


"Kak Aira tadi sakit di tempat kuliahnya dan diantar kak Tomi pulang, kak..." tiba-tiba Sifa datang memberi tahu Anwar sambil meletakkan gelas kopinya di meja kecil. Aira mengerdipkan matanya pada Sifa.


"Nggak usah, mas makan saja dulu. mas pasti lapar, kan?" Aira memegang pergelangan tangan Anwar yang sedang mengusap kening Aira.


"Selera makanku jadi hilang... " Anwar kesal.


"Kak, Sifa ambilkan makan ya..." Sifa menawarkan bantuan.


"Bawa aja sepiring lengkap, sama air putih sekalian ya, dek..." Aira sangat setuju dengan Sifa.


Setelah Sifa pergi, Aira meminta Anwar agar tetap memperlihatkan kebahagiaan di depan Sifa. "perlakuan Sifa seperti adikmu sendiri, kamu tidak ingin adikmu tahu kesedihan mu kan, mas..."

__ADS_1


meski sakit namun tetap memperlihatkan kebahagiaan di depan orang lain merupakan salah satu drama kehidupan Aira.**


Hanya beberapa menit Sifa sudah kembali dengan membawa permintaan Aira. "ini kak Anwar...."


"Makasih, Sifa..." Anwar menerima sepiring nasi dan sambal dari Sifa.


"sama sama kak Anwar... Sifa keluar dulu yah" pamit sama kedua kakaknya. setelah mereka mengiyakan Sifa meninggalkan kamar Aira.


"Kamu makan juga ya, ha..buka mulutnya.." Anwar menyuapi Aira.


Aira memperbaiki duduknya, kalau di tolak nanti marah lagi dia.


Akhirnya setelah susah payah Anwar membujuknya, Aira mau juga di ajak ke rumah bidan desa setelah mandi sore.


Setelah bidan Mardani memeriksa Aira ternyata tensi Aira rendah, "Aira, kamu coba testpec ini ya, besok pagi pas bangun tidur...." Bidan Mardani menjelaskan petunjuk pemakaian pada mereka.


"Tapi ini sudah terasa sekepalan tangan,,," kata bidan Mardani saat memeriksa perut Aira "Anwar jaga kesehatan Aira dengan makan buah dan sayur, ya.."


"Baik Bu bidan" Anwar menganggukkan kepalanya.


Setelah menerima obat dan melakukan pembayaran, Aira dan Anwar pulang ke rumah.


_._._.

__ADS_1


Happy reading...


__ADS_2