Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
mengantar Aira


__ADS_3

setibanya di rumah Herlin sudah menunggu Aira bersama ibu, papa lagi keluar kota urusan kerja. "maaf ya, Bu!" Aira selalu minta maaf jika merasa salah walau pun bagi orang lain tak masalah.


"mhh.." ibu sedang mengunyah makanan rupanya. Aira langsung mengambil makanan dan meletakkan di atas piringnya. melihat ibu dan anaknya hampir menyelesaikan makan mereka. mereka membiasakan diri untuk tidak bicara saat makan.


Habis cuci tangan dan mengeringkan dengan lap, ibu segera berdiri dan pergi ke kamarnya. ibu segera kembali ke meja makan melihat Aira yang sudah membersihkan meja. ibu mengulurkan sebuah amplop untuk Aira " maaf ibu tak bisa membantu Aira, terimakasih sudah banyak membantu ibu mengurus Herlin, jangan lupa beri kabar kamu ya?"


Perasaan terharu membuat Aira memeluk ibu sambil menangis. "makasih Bu!" Herlin yang berdiri di ruang tengah pun jadi sedih melihatnya "cepat kembali ya, kak!" Aira tak ingin Herlin pergi sekolah dengan sedih segera menghiburnya sambil mencubit pipi tembemnya "iya, sayang... kakak kan pergi biar bisa sekolah dan pintar kaya kak Dede, Lin yang rajin sekolah dan sholat ya, kan ada bi Tuti yang nemanin!" Herlin hanya mengangguk.


tit...tit... Terdengar klakson mobil Haris diluar. Aira menggendong Herlin keluar, di teras mereka saling bersalaman terlebih dahulu. ada juga dua anak kos yang ingin menyalami Aira karena mereka sangat dekat dengannya.


"ayolah tuan putri!" panggil Haris. Haris mengambil Herlin dari pangkuan Aira dan mendudukkan nya di bangku belakang. si kecil yang cerdik itu ingin duduk dekat kakaknya dan segera pindah ke depan.


"hah..." Haris terkejut saat masuk mobil "pindah ke tepi, Lin" perintahnya. dua makhluk jahil tertawa terpingkal-pingkal melihat Haris yang kesal. "nggak mau😝" cibir Herlin. "sok manja, nanti kamu pergi sekolah sendiri, apa-apanya sendiri🤫" Aira menutup mulut Haris kasihan melihat Herlin. "Herlin kan pintar, bukan kayak bang Haris," menyenangkan hati adik kesayangannya. Aira merasa senang ketika Herlin dan Haris memperebutkannya.


Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang, Aira mengantar adiknya ke batas gerbang. mereka berpelukan "Lin yang rajin belajarnya ya,, cepat besar ya sayang," mengakhirinya dengan mencium pipi Herlin.


Aira melambaikan tangannya pada Herlin sambil masuk mobil. "aku perhatiin kamu lebih sedih pisah sama Herlin daripada aku, ya?" Haris melihat lurus sambil menyetir, kesalnya berganti sedih. "tidak bisa dibandingkan antara keduanya" jawab Aira sambil bersandar di bahu Haris. mulai berani nih calon ustazah.


"sesekali tolong lihat dia ke rumah ya, bang!" pinta Aira. "ehm.." tak ingin membahas itu. "bagaimana kalau kamu beli tiket dan booking tempat duduk saja ke terminal? aku ingin ngantar kamu seperempat jalan!". Aira menuruti keinginan Haris "asal jangan kamu antar sampai ke rumah saja, bang" wajah memelas.


"oh ya, agen tiket kan pak Ujang, aku minta tolong saja sama dia, kan bisa" tanpa minta persetujuan Aira, langsung dikirim chat ke pak Ujang yang dikenalnya saat jadi preman terminal.


hanya berselang beberapa menit handphone nya bergetar, dimintanya Aira untuk melihat chat balasan. Aira membuka handphone yang gambar wallpaper nya adalah dirinya. pak Ujang mengirim dua foto yang satu foto kursi bus, yang satu lagi tiket yang akan di perlihatkan ke supir busnya nanti.


Haris: "lihat jam berapa, berangkatnya??"


Aira: "jam sebelas, bang"


Haris: "masih ada waktu sekitar dua jam lagi Ai!" menggaruk tengkuknya yang tak gatal. tak ingin waktu yang di hitung mundur itu berlalu.


Haris: "kita makan dulu Ai, biar ngecas energi untuk perjalanan nanti" ajaknya sambil menyetir mobil.


Aira: "ya udah, kemana saja yang penting jangan sampai ketinggalan bus!"


Haris: "biar langsung aku antar sampai teras rumahmu!" cengengesan.


Aira: " jangan..." Aira memohon dengan wajah memelas, Haris pun sudah tahu alasannya.


Haris: "mana tahu orang tua mu, langsung mengantar kita ke KUA, kan?" menjahili.

__ADS_1


Aira: " tak semudah itu, bang. kita harus mempertimbangkan kebaikan dan keburukan yang terjadi, dan aku tak ingin melakukan yang namanya larangan" meyakinkan.


"begitu berat jadi kamu, Ai" Haris memegang kepala kekasih yang sangat disayanginya.


"berat hidup itu tergantung rasa syukurmu, jika kamu bersyukur semua terasa mudah dan indah, sebanyak apapun hartamu jika tak bersyukur semua terasa kurang, semanja apapun dirimu jika kamu tak melakukan yang bermanfaat tidak ada gunanya..."


Mulutnya terkunci karena telunjuk di bibirnya, "ya sudah ceramahnya, ganti judul" tangannya langsung memutar musik mobilnya


Aku masih seperti yang dulu


Menunggumu sampai akhir hidupku


Kesetiaanku tak luntur


Hatipun rela berkorban


Demi keutuhan kau dan aku


Biarkanlah aku memiliki


Semua cinta yang ada dihatimu


Cinta dan kerinduan


Untukmu dambaan hatiku


Malam ini tak ingin aku sendiri


Kucari damai bersama bayanganmu


Hangat pelukan yang masih kurasa


Kau kasih, kau sayang


setiap lirik lagu menyampaikan isi hati dua insan yang akan berpisah dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan. mereka sangat menikmati alunan musik syahdu itu,seakan yakin suatu saat nanti akan bersama dan bahagia selamanya. haha mimpi kali, ya.


"bagaimana" ingin serius


"apanya, tuh"pura-pura nggak tahu

__ADS_1


"ya, musiknya lah Ai, memang apa lagi" ngeles lu


"cukup indah" sambil tersenyum.


"haha..." Haris mengacak-acak kepala berhijab Aira.


"kita berhenti dipertigaan itu,ya bang Haris'' sambil menunjuk ke sebuah persimpangan yang ada minimarketnya. bus itu selalu berhenti di situ untuk pergantian penumpang.


"kita tunggu dalam mobil saja busnya ya, Ai" sambil mencari tempat parkir yang aman dan tidak terlihat oleh orang yang lalu lalang.


Haris memberhentikan mobilnya diantara banyaknya deretan mobil.


"huh.." mengambil nafas panjang untuk menghilangkan lelahnya. Haris mematikan mesin mobil dan meningkatkan suhu AC supaya Aira tidak merasa gerah dengan semua kaca yang tertutup rapat.


"Ai.." diputar badannya menghadap ke Aira yang menatap lurus dalam lamunannya. Haris menggeser posisi duduknya lebih dekat, memegang kedua bahu Aira yang memikirkan perpisahan ini.


dirangkulnya dan dipeluknya tubuh mungil Aira yang memakai blus selutut dengan celana Levis standar. Haris merasakan kedamaian saat dekat dengan kekasihnya apalagi kalau seperti ini. Haris mencium ujung kepala Aira yang tertutup hijab sambil menangis tak ingin ditinggalkan. "aku sayang kamu, Ai" bisiknya "mengapa kamu harus pergi?" meski sudah tahu alasannya.


Aira hanya diam seribu bahasa dan membiarkan sejauh ini yang dilakukan Haris padanya. Haris mengangkat wajah Aira dan menahan dengan tangannya, "cup" suara lembut bibirnya ditempelkan pada kening Aira, dan semakin mengeratkan pelukannya menahan air mata. Aira yang percaya pada Haris hanya memejamkan mata, namun hatinya menjerit mengucap.


Tidak tahan dengan nalurinya Haris menurunkan bibirnya hingga menutupi mulut Aira sehingga ia tak bisa bernafas. Haris ******* bibirnya dengan lembut karena dia tahu ini yang pertama kali buat kekasihnya.


"Auh..." Haris menjerit dan melepaskan ciumannya. dikipas-kipas mulutnya dengan tangan untuk mengurangi rasa sakit pada lidahnya yang digigit Aira.


"kalau begini, bisa putus lidahku, Ai...!!" ringis nya lalu melihat Aira yang menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menangis. "Ai.." panggilnya lembut sambil memegang tangan Aira, namun Aira samakin terisak menahan tangis, hatinya hancur, seharusnya ini terjadi. ingin menjerit takut didengarkan oleh orang lain.


"Aira, maafkan aku 🙏" pintanya sambil turun dari kursi mobil "aku benar benar tak sengaja Ai, aku hanya terbawa suasana" Aira menangis ketakutan, dilipatkan lututnya ke dadanya. Haris pun merasa cemas.


Haris berusaha menghapus air mata Aira dengan tisu, berusaha menenangkan situasi "sebentar lagi busnya datang, apa kata orang kalau tahu kamu menangis Ai" tak henti-hentinya memberi pengertian pada Aira "aku tak ingin melepaskan mu pergi dalam keadaan menangis Ai, aku sangat mencintaimu dan tak ingin kamu kenapa-kenapa" "katakan apa yang kau rasakan"


" tit..tit.." itu tandanya bus telah tiba. " cepat ganti hijab mu Ai, ayo aku akan mengantarmu sampai ke dalam bus.


tanpa bicara, Aira bergegas mengganti hijabnya dan menutup wajah sedihnya dengan bedak tway cake nya. Haris segera keluar mobil membukakan pintu untuk Aira, ia berjalan di samping Aira yang sudah memasang ekspresi wajah senyaman mungkin kan di dalam bus itu warga desa Aira isinya. Aira memang pintar menutupi kesedihannya.


Haris memperlihatkan tiketnya ke supir bus, dan mencarikan tempat duduk untuk Aira. "kamu tunggu di sini aku akan membelikan cemilan, ya" Aira hanya mengangguk.hanya sebentar Haris pergi sudah kembali dengan membawa jinjingan makanan.


"huh..." kesal sekali Haris melihat pemuda yang duduk dekat Aira, namun Haris memegang tangan tangan Aira saat memberikan kantong plastik sambil berbisik "hati-hati ya, Ai" mengedipkan matanya ke Aira yang hanya tersenyum muak.


"jalan..." kata kenek bus sambil memukul-mukul pintu. Aira yang lelah memejamkan matanya sambil bersandar.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2