Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
menghabiskan waktu bersama


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aira sudah bangun dari tidurnya. pulang malam tak membuatnya kesiangan. perasaan takut melanda batin yang pulang larut malam, meski pintu tak terkunci mungkin mereka sengaja karena di kabari Haris pada papa Atan.


" nak Ai, kemesjid yuk" ajak bi Tuti yang telah siap bersama Herlin. "ya, bi" Aira segera mengambil mukenah dan berjalan mengikuti bi Tuti yang sudah sepertinya ibunya saja, dan menggendong Herlin yang manjanya bagai adik kakak saja.


mereka sangat menikmati udara pagi kota tanpa polusi, dulu Aira dan Herlin sering maraton pagi bersama Haris sepulang subuh.


Aira membantu Herlin menyiapkan diri untuk pergi sekolah seperti biasanya, makan bersama, pamitan dan berjalan ke depan rumah. hari ini mereka memilih jalan terdekat.


baru saja melewati satu rumah tetangga, "tit...tit..tit.." tanpa basa-basi Aira mendudukkan Herlin dibelakang Haris, seperti orang tua bahagia yang mengantar anak tercinta ke sekolah saja. sesekali mereka mereka menyapa tetangga yang berpapasan dan memperhatikan nya.


setelah membiarkan Herlin masuk gerbang sekolah bersama temannya, sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta itu kembali ke rumah, "Ai, apa kata mereka tentang semalam?" Haris ingin tahu responnya. " tidak ada, hanya Herlin yang ingin tahu jam berapa aku sampai di rumah,,"


"ternyata anak kecil lebih kepo ya, Ai?"


"hhm."


"kok cuma itu, jawabannya. apa kamu mencemaskan sesuatu" (sambil menarik tangan Aira agar lebih merapat ke depan)


"calon ustazah, apa aku bisa menjadi calon imammu?"


Belum dijawab, Vespa tua itu sudah sampai di gerbang. ibu sudah menunggu di teras rumah karena hari ini libur ngantor.


Aira dan Haris bersalaman dengan ibu, segera duduk di kursi teras bertiga. "Bu, bolehkah aku ajak Aira jalan-jalan?"


Haris memang selalu berani kalau sama ibu tata.


"boleh, tapi Aira tadi ada pesan untukmu agar segera pulang kampung, ada temanmu yang mendaftarkan mu kuliah,katanya" ibu menyampaikan pesan dari orang yang menghubungi ke nomor telepon rumah. Aira masih belum mengaktifkan hp nya.

__ADS_1


"oh... bagaimana kalau aku pulang hari ini juga Bu?"


MINTA PENDAPAT KE IBU, LIHATNYA KOK KE WAJAHKU. BIKIN KESAL AJA. batin Haris yang tak ingin berpisah lama.


"terserah pada nak Aira saja, bagaimana denganmu dan anak pak rt saja" ibuk memang begitu kalau lagi jadi Mak comblang.


"berterus-terang lah pada orangtuamu tentang Haris, toh kalian sudah dewasa di usia sekarang, lama-lama pak erte bisa memaksa kalian nikah, kalau seperti ini terus" ibu berceloteh dengan panjangnya.


Haris tertawa terkekeh, mendengar kata ibu. "aku ambil tas sama hp dulu,ya!" ucap Aira sambil melenggang ke dalam rumah.


"yuk, Bu permisi dulu!" Haris minta izin sambil menarik lembut tangan Aira keatas Vespa tua itu.


"hati hati jalannya, ya" ibu mengingatkan preman yang suka ngebut "siip, Bu kost!" balasnya lalu memutar arah motor keluar gerbang rumah.


"Ai..pegangan yang kencang ya" Aira menuruti perintah kekasihnya, anak Genk motor itu baru saja belajar mengendarai motor pelan sejak mereka pacaran.


"Abang, kita mau kemana?" Aira penasaran.


Mantan preman berhenti di parkiran, membuka helm dari kepala pacarnya yang berhijab. kita akan menghabiskan waktu menikmati keindahan danau ini sebelum kepergianmu yang menyisakan rindu. Haris berusaha mengungkapkan semua perasaannya tanpa tahu Aira akan merasa takut dan curiga dengan tingkahnya yang mulai aneh.


"Ai, itu ada tempat yang romantis, kita kesana yuk!" yang diajak mulai curiga, jangan-jangan... "astaghfirullah.." lirih Aira yang hampir didengar Haris. dia senang menggoda pacar yang selalu menjaga imannya.


sesampainya di sebuah kursi yang sandarannya berbentuk sepasang angsa saling berhadapan.


Aira memperhatikan keadaan sekitar taman dimana banyak orang sebayanya sedang berduaan, ada yang sekedar duduk berduaan, ada juga yang..."oh, astaghfirullah!'" teriak Aira sambil memegang erat lengan Haris. "apa, mau juga kayak gitu?" godanya tersenyum melihat wajah putih yang mulai memerah. yang di pegang pun makin senang semakin semangat mengeluarkan jurus gombalannya.


"ya ampun..." teriak Aira yang secepat kilat memegang lengan Haris dan menyembunyikan wajahnya ke dada Haris. Ia terkejut melihat dua orang yang sedang mesum didekat pohon rindang yang tidak jauh dari mereka duduk. Aira selalu menjaga imannya, bahkan sejak mendengar cerita teman-temannya tentang kencan, ia mulai berhijab untuk menutupi tubuhnya yang langsing berisi.

__ADS_1


"Bang Haris, aku takut.., pulang yuk!" Aira memohon mendekapkan kepala ke dada lebar itu, tangannya memegang erat pinggang Haris. Aira teringat cerita wanita yang ternoda, ia tak ingin terjadi juga pada dirinya.


"yaah.. calon ustazah kok berani meluk pacar sih!" goda Haris mengatur jarak, "santai aja kali, kita kesini mau hidup udara segar dan aku mau ngasih sesuatu" tangannya hanya meremas jemari Aira yang segera diciumnya.


Haris: "Ai, bolehkah aku antar kamu ke desa"


Aira: "jangan aku belum siap..." melihat keujung kaki dan membayangkan reaksi keluarganya nanti.


Haris: "ya sudah, seandainya kamu di jodohin keluargamu, kamu mau nggak?" test


Aira: "nggak mungkinlah, bang" masih melihat ke bawah


Haris: "apakah kamu ingin kita putus? agar kau tenang disana?" test lagi.


Aira menggeleng bertanda tidak.


Haris: "mengapa kamu takut, aku kedesamu?


Aira: "bang, kalau abang datang ke rumahku orang di desaku akan mencela keluarga menganggap aku gadis ******" menjelaskan.


"Ai, apa kamu mencintai salah satu pemuda di desamu?" Haris ingin meyakinkan saja, Aira hanya menggelengkan kepalanya yang tak lepas dari dada Haris.


semakin hari cinta Haris semakin besar terhadap Aira. Tak lama ia mengulurkan box mini merah ketangan Aira "Ai, cincin ini akan mengikat hatimu untukku, jika kamu bersedia kamu harus memakai nya sekarang!"


"jangan berlebihan, bang!" pinta Aira yang merasa tak enak. Haris langsung memakaikan di jari manis Aira yang hanya pasrah, tak lupa diciumnya kening yang ditudungi hijab.


kemesraan ini harus segera diakhiri, karena matahari mulai mendekat ke arah barat.

__ADS_1


_._._._._._._._._._._._._._._.._._._.._._._._._._._._._.


bersambung


__ADS_2