Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Rencana Ibu


__ADS_3

Setelah dua hari tinggal di rumah Erni untuk mengerjakan tugas kuliah, siang ini seperti biasa Aira kembali ke rumahnya, tapi akhir-akhir ini ia dijemput sama kak Iyan karena Bobi sudah pergi lagi ke kota melanjutkan pekerjaannya di sebuah perusahaan setelah beberapa bulan libur kerja.


Disepanjang perjalanan hanya suara bising motor Iyan yang kedengaran, karena saking kencangnya, sesekali Aira berpegangan di bahunya ketika Iyan menambah kecepatan sampai 100 km/jam. peningkatan kecepatan yang dilakukan Iyan membuat Aira tersentak dalam lamunannya.


Sesampainya di rumah, Aira turun dari motor dan tak lupa bilang terimakasih sama kakaknya. Kemudian mengucapkan salam pada seisi rumah yang kebetulan pintunya tidak tertutup. Aira melihat ibu ada tamu sepupunya yaitu ibunya Erni yang biasa dipanggil Tisya. entah ada apa gerangan mereka sangat bersemangat sekali ceritanya.


"hah, panjang umurnya. baru dibicarakan langsung datang," ucap bibi Tisya. Aira yang baru datang segera mendekat dan memberi salam dengan mencium tangan ke dua orang tua yang sedang duduk di ruang tengah.


Tanpa basa-basi pada Aira Bu Lela melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat terpotong tadi. "aku mah, yang penting menantuku itu bagian dari warga desa kita" Aira tahu kalau yang dimaksud adalah jodoh buat dirinya, tapi ia tak ingin ikut-ikutan dalam pembicaraan orang tua. dia berjalan pelan-pelan ke kamarnya ingin sedikit menguping.


"Kalau dia tak usah di ragukan lagi kematangannya, pekerjaan nya sudah jelas. tidak akan masuk sawah atau kebun" penjelasan ibu Tisya sangat panjang kali lebar pula.


"Ayahnya juga bilang, kalau nanti suaminya seorang petani akan diberi lahan dan akan diberi bibit, jika dia pedagang akan diberi modal. yang penting sekarang bagaimana dengan Aira?" ibu pun menimpali kata bi Tisya dengan semangat membara.


Aira sangat penasaran sekali, siapa sih laki-laki yang diceritakan orang tua ini. kalau Bobi kan dia kerja di kota, kali Tomi masih kuliah semester awal, buat hidupnya sendiri saja masih dari orangtuanya. kalau Haris jelas tak masuk hitungan dia kan anak orang kota.


Lebih baik ditanya saja ke Sifa, mana tahu dia bisa menjawabnya karena ibu kan selalu terbuka dengan anaknya si tomboi itu.

__ADS_1


tok..tok.. Sifa yang mendengar pintu kamarnya di ketuk memerintahkan yang berdiri di luar untuk masuk dengan tangannya masih memegang hp sambil membaca chat di grup teman Genknya.


"kak Aira, mau curhat lagi, ya?" tanyanya langsung, tak suka jika ada yang mengganggap disaat ngerumpi dengan teman-temannya di medsos.


"enggak dek, cuma mau nanya doank, kok!" tegasnya "tapi kamu harus jujur, ya?" tanya Aira. Sifa hanya menjawab dengan ehem.


"siapa sih yang dibicarakan ibu sama ibunya mbak Erni di ruang tengah tadi?" ia yakin Sifa tahu, dia kan tadi sedang menonton tv di ruang tengah mendengar pembicaraan orang tua mereka dan tamunya.


"kak, kalau itu serius Sifa nggak dengar, kan Sifa sedang pakai airphone" jawabnya yang benar-benar tidak mengetahuinya. "kakak tanya saja langsung ke ibu, jangan dipikirkan saja!" mengangkat tangannya.


"bagaimana cara nanyain nya, kakak nggak enak, tolong kakak dong, Sifa!" pintanya sambil memohon. Dengan gampangnya Sifa memberikan pendapat agar kakaknya menemukan sendiri lelaki yang dicintainya sebelum ibunya mencarikan calon suami untuknya. dasar Sifa yang tidak pernah kehilangan akal menjawab setiap masalah yang dilaluinya.


"ya sudah, makasih ya dek, kamu memang adik kakak yang pintar!" Aira bergegas meninggalkan kamar Sifa dan mulai memantapkan keputusannya.


Dia kembali ke kamarnya dan mengambil handphone yang saat dibuka terlihat gambar dirinya dan Haris. dia menemukan nomor WhatsApp Haris, ingin sekali rasanya setelah beberapa waktu tak berbagi kabar ingin Vidio call Dengan orang yang selalu dirindukannya.


Setelah beberapa menit menunggu tidak ada Jawaban dari balik layar kecil itu, mungkin dia kehabisan kuota internet. ia memutuskan untuk menelpon saja dengan tubuhnya yang dibaringkan di atas kasur.

__ADS_1


"hallo, assalamu'alaikum, bang!" setelah penghitung waktu bicara di hpnya aktif.


"alikumsalam, Ai. tumben?'' tanya Haris kedengaran tak enak.


"ya sudah, aku tutup lagi ya, bang. telponnya" Aira tidak suka kalau mengganggu kerja Haris.


"tuh, kan. ngambek lagi. bukannya kamu sibuk, katanya?"


"ya, kalau aku menghubungi, berarti aku lagi free time, Abang" balas Aira dengan membayangkan orang yang sedang bicara dengannya. "tapi kali ini ada yang sangat serius, bang!" nada suara Aira mulai berubah


"yah, ada apa. sayang? ada orang yang suka sama kamu, ya?" tanya Haris menggoda.


"ini lebih rumit, bang!" Haris mendengarkan suara Aira yang sedang menangis.


"Ai, jangan bilang kalau terjadi sesuatu hal buruk padamu!" Haris penasaran dengan apa yang terjadi "apa aku harus pergi menemui mu?" Haris mulai tak sabar.


"jangan pernah datang ke desa, kalau Abang mau jaga nama baik ku!" pinta Aira "nanti aku yang akan ke sana, sekalian aku sudah kangen sama Herlin'' tandasnya.

__ADS_1


Aira menutup pembicaraan mereka dengan alasan tidak bisa mengungkapkan via telepon. jika ada waktu dia akan pergi ke kota saja untuk bertemu dengan Haris. dua Minggu lagi dia mulai libur semester awalnya.


_._._.._._._._._.._._._._.._._._.__._..__.._._


__ADS_2