Cinta Karena Kewajiban

Cinta Karena Kewajiban
Mengunjungi mertua


__ADS_3

Sesuai tradisi yang ada di daerah tempat tinggal mereka, setelah satu hari pernikahan pasangan pengantin harus menjalang keluarga pihak suami dan membawakan beberapa makanan untuk dimakan bersama keluarga besar.


Ibu membantu mempersiapkan jinjingan rantang berisi makanan yang akan dibawa Aira untuk keluarga besar suaminya. ibu memberikan nasehat pada Aira tanpa menghentikan pekerjaannya.


"nak, kamu harus menganggap rumah ibu mertuamu seperti di rumah mu sendiri nanti, supaya mereka pun menganggap kamu seperti anaknya sendiri,!" kata ibu.


"iya, kak. jangan malu-malu terus!" tambah Sifa yang juga ikut membersihkan dapur.


"iya, Bu" jawab Aira pelan. "kamu apaan sih, dek!" Aira menyenggol lengan Sifa.


"Sifa, benar Ra, kamu harus berani mengambil keputusan untuk diri sendiri, supaya lebih baik kedepannya!" ibu menguatkan keyakinan Aira.


"betul kan, kak!" Sifa merasa bangga. Sifa memang pintar berbicara dan sangat percaya diri.


"Ya, sudah. ini hampir selesai. Ra, sekarang tinggal kamu dan Anwar yang bersiap!" ibu menyuruh Aira memanggil Anwar untuk bersiap.


"Jangan lupa, dandan yang cantik ya, kak!" Sifa si bawel mengingatkan.


Aira segera berlalu meninggalkan dapur dan beranjak pergi ke kamar. di dalam kamar, Anwar sedang berbaring di tempat tidur, tubuhnya terasa letih karena kurang tidur semalaman. namun matanya tak terpejam.


"Maaf" Aira merasa canggung, ini pertama kali dia berduaan dengan suaminya dalam kamar. jantungnya berdetak dengan kencang, hingga ia lupa harus berbuat apa.

__ADS_1


"Biasa saja, Ai. anggap saja aku tidak ada!" kata Anwar memalingkan wajahnya. "kita juga tidak usah pergi, jika kamu tak mau!" nada bicara Anwar seakan mengancamnya dengan bahasa yang halus.


"Maafkan aku, aku tidak tahu apa-apa, tolong lindungi aku di depan keluarga ku!" Aira menangis dengan posisi masih berdiri di ujung tempat tidur.


"Jangan salahkan dirimu, seharusnya aku yang meminta persetujuan langsung padamu waktu itu." Anwar mengangkat kepalanya. bersandar di kepala tempat tidur. merasa menyesal karena dia tidak menanyakan sebelumnya pada Aira tentang niatnya.


waktu itu dia hanya sekedar bergurau dengan Tante Tisya, "seandainya Aira yang jadi jodohnya". namun candanya itu ditanggapi dengan serius. tanpa pikir panjang Tante Tisya membantunya datang bertanya pada ibu Aira dan sanak keluarga, dengan proses yang begitu singkat akhirnya kedua belah pihak pun melangsungkan pernikahan mereka.


"Aku hanya minta, tolong jangan sakiti aku!" Aira berusaha mengendalikan diri. mencoba untuk tidak menangis lagi "bagaimanapun caranya aku akan melakukan yang terbaik untuk keluargaku"


"Oh, ya. tadi ibu minta kita bersiap untuk pergi!" Aira mengingatkan Anwar, jika mereka tidak melakukan tradisi ini, maka pihak keluarga akan mempertanyakan mereka.


Setelah diminta Anwar, baru Aira bergerak dari ujung tempat tidur. dia membawa pakaian penggantinya ke dalam kamar mandi. merasa tak enak dengan Anwar.


Tidak beberapa lama kemudian, mereka keluar kamar beriringan sebagaimana layaknya pengantin biasa.


"Hem" Sifa mengejek kakaknya dengan tersenyum lebar.


Anwar membantu Aira mengangkat seserahan yang telah disiapkan ibu. Aira berjalan mengikuti Anwar, sebelum pergi mereka bersalaman dengan anggota keluarga terlebih dahulu. Sifa mengucapkan "semoga bahagia" pada iparnya.


_._.._._._._._._._.._._.._._._.._._.__.._.

__ADS_1


Di rumah Anwar, keluarganya telah siap menunggu kedatangan pasangan pengantin baru dengan wajah yang penuh suka cita. Anwar adalah anak sulung dari empat saudara dua adik perempuannya telah menikah dan punya anak. adik bungsunya pun sudah SMA.


Anwar selama ini menjadi tulang punggung keluarga, memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah adiknya. ayahnya sudah tidak bisa bekerja, mungkin alasan itu yang membuatnya terlambat menikah.


Tanpa banyak bicara Anwar memegang tangan Aira masuk ke rumah orangtuanya. puluhan mata tertuju pada Aira. dengan penuh semangat penghuni rumah pun menjawab salam mereka dengan serentak.


Aira mengikuti suaminya menyalami anggota keluarga Anwar yang sudah duduk ditikar. saat menyalami ibu waktunya agak lama, ibunya Anwar menangis dan memeluknya sambil mengucapkan doa harapan pada anak kesayangannya.


"Nak Aira, semoga kamu tidak kecewa dengan keluarga Anwar yang hanya seperti ini," ucap mertua Aira saat ia ingin mencium tangan selayaknya pada ibu kandungnya sendiri.


Aira terkejut dengan ucapan mertuanya, mukanya memerah. padahal ia belum mengeluarkan satu patah katapun sejak tiba.


Anwar yang bijak membaca situasi, segera membawa Aira duduk di tempat yang telah disediakan. dia memegang tangan kanan Aira di atas pahanya yang bersila, seakan-akan dia sangat bangga memiliki istri Aira.


Kedua adik perempuannya menghidangkan makanan untuk makan bersama. setelah itu berbincang-bincang dan bercanda agar Aira lebih akrab dengan keluarga barunya. Sesekali Anwar menyela pembicaraan membela Aira.


Dalam hatinya ia merasa bersyukur dengan keadaan ini.


Aira berusaha menunjukkan wajah bahagia pada keluarga suaminya, apapun pertanyaan mereka dijawab dengan kata yang lembut dan senyum. sebelum kembali ke rumah, Aira memberi uang pada ponakan Anwar tanpa diminta.


_._._.._._._._._.._._..

__ADS_1


__ADS_2